Advertorial

Perjuangan Inspiratif Ni Luh Ketut Suryani dalam Penanganan ODGJ di Bali

Kompas.com - 26/12/2020, 15:20 WIB
Suryani dan para relawan yang tergabung dalam Suryani Institute of Mental Health (SIMH) rutin mencari dan menangani pasien ODGJ yang dipasung di seluruh penjuru Bali. (DOK. SMIH) Suryani dan para relawan yang tergabung dalam Suryani Institute of Mental Health (SIMH) rutin mencari dan menangani pasien ODGJ yang dipasung di seluruh penjuru Bali.

KOMPAS.com - Ni Luh Ketut Suryani telah mendedikasikan diri dalam penanganan aktif pasien Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ) selama 15 tahun terakhir.

Suryani dan para relawan yang tergabung dalam Suryani Institute of Mental Health (SIMH) rutin mencari dan menangani pasien ODGJ yang dipasung di seluruh penjuru Bali. Ia pun membuka pintu kepada masyarakat yang membutuhkan pelayanan kesehatan mental secara cuma-cuma di SIMH.

Demi tujuan mulia tersebut, Suryani rela pensiun sebagai Guru Besar Psikiatri di Fakultas Kedokteran Universitas Udayana. Ia merasa keputusan itu tepat dan dapat membantu masyarakat Bali dalam menghadapi permasalahan kesehatan mental, terutama mereka yang kurang mampu.

“Lebih baik turun ke lapangan dan membantu orang-orang yang tidak berada ketimbang mereka yang ada di menara gading,” kata Suryani saat dihubungi Kompas.com melalui surel, Kamis (17/12/2020).

Uniknya, Suryani menggabungkan pengobatan medis dan spiritual untuk menangani pasien ODGJ. Sebab, ia memandang bahwa manusia tidak hanya terdiri dari fisik dan mental saja, tetapi ada “atma” atau roh di dalamnya.

“Untuk itu, penanganan yang saya lakukan perlu menggabungkan konsep barat dan timur, di mana elemen spiritual dilibatkan,” ujar Suryani.

Selain memberikan obat untuk terapi, Suryani juga mengajarkan para pasien ODGJ bermeditasi. Ia berpendapat, pasien ODGJ dapat memahami permasalahan yang dialami sekaligus membangkitkan kemampuan spiritual melalui meditasi. 

“Saya menggunakan meditasi sebagai jembatan agar (penanganan) dapat diterima oleh masyarakat Bali. Selain itu, pasien juga dapat merasakan bahwa kunci kesembuhan itu datang dari dalam diri, bukan dari obat. Obat hanya membantu menekan gejala,” jelas Suryani.

Salah satu pengalaman Suryani yang berkesan sekaligus mengejutkan dalam menangani ODGJ di Bali adalah saat menemukan pasien yang terpasung selama 30 tahun.

“Hal ini membuat saya terenyuh dan menangis. Tidak ada sedikit pun dalam pikiran saya bahwa ada ODGJ yang terpasung di Bali. Untuk itu, saya bertekad untuk membantu mereka. Saya ingin membuat mereka dapat merasakan kehidupan normal kembali,” imbuh Suryani.

Perjuangan Suryani dalam advokasi dan penanganan ODGJ di Bali pun membuahkan hasil. Ia dianugerahi penghargaan Ikon Apresiasi Pancasila 2020 dari Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP).

“Saya sangat bersyukur karena apa yang saya lakukan dan yakini baik untuk masyarakat diapresiasi BPIP,” kata Suryani.

Menilik fenomena dan stigma ODGJ di Indonesia, Suryani mengajak masyarakat untuk berkaca pada sila ke-5 Pancasila, yakni “Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia”.

“Sepatutnya seluruh rakyat Indonesia mendapatkan haknya untuk pelayanan kesehatan mental yang layak dan manusiawi,” terang Suryani.

Tak hanya penanganan, lanjut Suryani, penderita ODGJ harus dibantu agar dapat kembali berfungsi di tengah-tengah masyarakat. Dengan demikian, mereka dapat turut berkontribusi bagi bangsa dan negara.

Suryani berharap, semua pihak mau bergandengan tangan dalam penanganan ODGJ. Kehadiran local heroes atau tokoh-tokoh lokal di setiap wilayah Indonesia pun perlu diapresiasi dan digandeng sebagai kolaborator pemerintah untuk memperjuangkan kesehatan mental masyarakat.

“Dengan demikian, harapan saya untuk mewujudkan masyarakat Indonesia yang sehat secara fisik, mental, dan spiritual, dapat diwujudkan tanpa menghilangkan budaya, keluarga serta peran masyarakat setempat,” kata Suryani.