Advertorial

Meski Terdampak Covid-19, Produksi Migas PHM Berhasil Lampaui Target

Kompas.com - 27/12/2020, 20:28 WIB
(Dok. Pertamina) (Dok. Pertamina)

PT Pertamina Hulu Mahakam (PHM) selaku operator di Wilayah Kerja (WK) Mahakam berhasil menutup 2020 yang penuh tantangan dan perubahan ini dengan berbagai capaian, salah satunya kinerja produksi yang melebihi target.

Dalam meraih pencapaian, PHM mendapat bantuan dan dukungan dari Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) dan PT Pertamina Hulu Indonesia (PHI) selaku perusahaan induk.

Di tengah pandemi Covid-19 sekalipun, PHM tetap mampu memproduksi minyak dan gas di atas target. Terhitung hingga Kamis (24/12/2020), produksi liquid yang terdiri dari minyak dan kondensat mencapai 29.400 barrel oil per day (BOPD) atau naik sekitar 104 persen dari usulan work plan and budget (WP & B) sebesar 28.400 BOPD.

Sementara itu, untuk produksi gas (wellhead) mencapai 605,5 million standard cubic feet per day (MMSCFD) dari usulan WP & B sebesar 588 MMSCFD.

Dalam hal keselamatan kerja, pada penghujung 2020 PHM telah mencapai 923 hari atau lebih dari 76 juta man hour atau jam kerja. Hal ini dilaksanakan tanpa kejadian yang menyebabkan kehilangan hari kerja atau tanpa lost time incident (LTI).

Capaian prestasi yang didapat

General Manager PHM Agus Amperianto mengatakan, pada 2020 pihaknya juga memperoleh sejumlah penghargaan dari Kementerian Republik Indonesia (RI).

“Kami meraih penghargaan Keselamatan Migas Patra Nirbhaya Adinugraha 1 dari Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (Kementerian ESDM) dan penghargaan Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja (SMK3) dari Kementerian Ketenagakerjaan (Kemnaker),” ujar Agus, Jumat (25/12/2020).

Kedua penghargaan tersebut merupakan bentuk pengakuan atas kinerja keselamatan kerja PHM.

Terkait aspek pengelolaan lingkungan, Agus menjelaskan, PHM meraih penghargaan Proper Hijau dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (Kementerian LHK) untuk lima lapangan produksi.

Adapun lima lapangan produksi tersebut di antaranya, Bekapai Senipah Peciko South Mahakam (BSP), South Processing Unit (SPU), North Processing Unit (NPU), Central Processing Area (CPA), dan Central Processing Unit (CPU).

“Selain itu, lapangan Senipah Peciko South Mahakam (SPS) – Peciko Processing Area (PPA) menerima sertifikasi ISO 50001 untuk implementasi Sistem Manajemen Energi,” ucap Agus, seperti dalam keterangan tertulis yang Kompas.com terima, Minggu (27/12/2020).

Penerapan ISO 50001 ini, kata dia, merupakan pengakuan beyond compliance dari Peraturan Menteri (Permen) ESDM Nomor 14 Tahun 2012. Permen tersebut mewajibkan penerapan manajemen energi untuk perusahaan yang menggunakan energi lebih dari 6.000 ton oil equivalent (TOE).

Dalam hal pengeboran sumur, PHM telah mengebor sebanyak 79 sumur pengembangan dari target semula sebanyak 78 sumur. PHM pun berharap pengeboran satu atau dua sumur lagi akan selesai pada akhir 2020. Sesuai target, pengeboran untuk dua sumur, yaitu eksplorasi dan workover juga sudah terpenuhi.

Inovasi lain yang dikembangkan

Terkait target pengeboran sumur, Agus mengatakan, hal ini tercapai karena berbagai inovasi yang dikembangkan dalam operasi pengeboran, sehingga dapat menurunkan durasi dan biaya pengeboran.

“Salah satunya, dengan penerapan teknik pengeboran rigless atau tanpa rig. Teknik tersebut digunakan untuk mengerjakan sumur dan menggantikannya dengan Hydraulic Workover Unit (HWU), baik di wilayah delta maupun lepas pantai,” jelasnya.

(Dok. Pertamina) (Dok. Pertamina)

Metode rigless, lanjut Agus, terbukti secara signifikan menekan biaya pengerjaan sumur yang dibangun PHM.

Selain rigless, inovasi lain yang dikembangkan untuk efisiensi adalah penerapan arsitektur sumur one phase well (OPW).

Jika dibandingkan dengan penggunaan arsitektur shallow light architecture (SLA) dengan dua fase pengeboran yang dilakukan sebelumnya, penerapan OPW berhasil memangkas biaya pengeboran secara signifikan.

Kemudian, para engineer di PHM berhasil menciptakan inovasi lain, yaitu metode slot recovery.

Dengan metode ini, platform yang digunakan adalah wellhead atau kepala sumur. Jadi, dari sejumlah sumur yang sudah tidak berproduksi dimanfaatkan untuk mengebor sumur baru.

Maka dari itu, PHM menggunakan teknik pengeboran sidetrack HWU pada sumur-sumur re-entry dan memanfaatkan komponen selubung pengeboran dari sumur-sumur lama.

Dengan mengoptimalkan sumur-sumur pengembangan, PHM berhasil melakukan efisiensi, karena tidak perlu mengeluarkan biaya besar untuk membuat platform baru.

Berkat berbagai inovasi tersebut, tahun ini PHM berhasil memecahkan dua rekor pengeboran tercepat. Pengeboran pertama dengan kedalaman 1.409 meter dari dasar laut di sumur delta TN-T165 di Lapangan Tunu hanya dalam waktu 2,15 hari.

Kedua, pengeboran sumur dengan kedalaman 4.343 meter dari dasar laut di sumur offshore PK-B8.G1 di Lapangan Peciko dalam waktu 10,96 hari, tepatnya pada Jumat (25/12/2020).

“Berbagai keberhasilan ini merupakan buah kerja keras Perwira PHM dalam mewujudkan operasi migas yang handal, efisien, aman, dan berwawasan lingkungan. Untuk itu, kami berterima kasih atas kerja sama dan dukungan yang diberikan para pemangku kepentingan,” kata Agus.

Aktif mencegah penyebaran Covid-19

Selain dalam bidang produksi dan capaian prestasi, PHM juga aktif membantu upaya pemerintah untuk mencegah penyebaran Covid-19.

Salah satu upaya yang dilakukan PHM adalah dengan memberikan sejumlah bantuan dalam berbagai bentuk. Bantuan tersebut, seperti pengadaan alat kesehatan untuk tenaga medis, fasilitas cuci tangan, program desinfeksi, pembagian ribuan masker, dan paket bantuan pangan untuk masyarakat terdampak.

Total nilai bantuan yang diberikan mencapai Rp 2,5 milyar dan telah didistribusikan ke beberapa wilayah di Indonesia. Wilayah tersebut di antaranya Kabupaten Kutai Kartanegara, Balikpapan, Samarinda, dan Jakarta.

Sementara itu, untuk mencegah penyebaran Covid-19 di lingkungan perusahaan, PHM menerapkan dengan ketat prosedur rotasi pekerja lapangan. Khususnya, penapisan terhadap para personil operasional di lapangan yang akan off duty maupun on duty.

“Termasuk mereka yang mendapat giliran work from office (WFO) di kantor Balikpapan maupun Jakarta,” ujar Agus.

Selain itu, PHM juga melakukan berbagai upaya pencegahan sesuai protokol kesehatan (prokes) yang berlaku. Prokes yang diterapkan antara lain desinfeksi seluruh fasilitas perusahaan, pembatasan jumlah personil yang esensial, sosialisasi berkala, dan komunikasi intensif dengan para pekerja beserta keluarganya maupun mitra kerja.

“Manajemen PHM menjalankan berbagai upaya untuk memastikan bahwa setiap lokasi kerja merupakan area yang aman dari penularan virus Corona bagi seluruh pekerjanya. Lokasi tersebut, seperti di kantor, site, kapal, barge, rig, mobil, maupun helikopter,” ujar Agus.

Sampai hari ini, kata dia, semua orang yang bekerja di WK Mahakam juga harus mengisi formulir deklarasi harian secara online, tanpa terkecuali. Tujuannya adalah untuk mengingatkan bahwa pandemi belum berakhir.

Dengan demikian, semua pihak yang terlibat akan patuh terhadap prokes Covid-19. Hal ini juga memudahkan penelusuran kontak erat bila terjadi kasus penularan.

“Kami akan terus meningkatkan kewaspadaan dan kepedulian terkait pandemi ini, demi mengurangi risiko penularan dan memastikan operasi PHM di WK Mahakam tidak terganggu,” tegas Agus.