Advertorial

Dampingi hingga Naik Kelas, Begini Cerita Sukses UMKM Pisang Kipas Binaan Pertamina

Kompas.com - 30/12/2020, 17:55 WIB

KOMPAS.com – Di tengah kondisi pandemi Covid-19, PT Pertamina (Persero) terus melakukan pembinaan secara masif kepada pelaku usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) melalui Program Kemitraan.

Sejumlah program disusun untuk mendorong agar UMKM dapat naik kelas. Selain itu, Pertamina juga menerapkan pembinaan berbasis roadmap untuk mentransformasi UMKM tradisional menjadi Go Modern, Go Digital, Go Online, dan Go Global.

Serangkaian tahapan pembinaan itu telah diaplikasikan kepada salah satu pelaku UMKM binaan Pertamina, yakni Abdul Rahmat. Siapa sangka, Abdul yang menggeluti usaha di bidang kuliner pisang goreng bisa meraup untung hingga Rp 5 juta per harinya.

"Setiap hari, kami melayani pesanan kurang lebih 1.000 buah pisang kipas, kadang lebih," ujar Abdul dalam rilis yang diterima Kompas.com, Rabu (30/12/2020).

Sebelumnya, Abdul dan istrinya hanya menjadi pemasok pisang kepok dari Bengkulu ke Pekanbaru untuk dijual secara eceran ke pedagang gorengan. Namun, ia justru melihat usaha para pelanggannya semakin maju dan sukses, memiliki rumah, mobil, hingga menambah usaha baru.

Melihat hal tersebut, pria lulusan SMA ini mulai memutar otak untuk mencari cara agar bisa berhasil seperti pelanggannya.

"Pertama, saya belajar mengiris pisang dulu agar bisa tipis dan berbentuk kipas. Selanjutnya, belajar meracik bumbu tepung pisang kipas agar gurih, renyah, dan nikmat seperti sekarang. Itu butuh uji coba berbulan-bulan hingga memunculkan rasa khas, seperti tekstur yang dimiliki Pisang Kipas 50 Gold kini," kata Abdul.

Pisang Kipas 50 Gold menyediakan dua varian produk, yakni matang dan setengah matang. Versi setengah matang khusus dibuat Abdul untuk dijadikan oleh-oleh karena bisa bertahan dua hari jika disimpan dalam freezer sebelum digoreng matang.

Harga pisang kipasnya pun berbeda-beda tergantung ukuran. Untuk ukuran kecil dijual Rp 2.000 per buah dan ukuran besar Rp 5.000 per buah.

Sejak menjadi mitra binaan Pertamina, Abdul mengaku usahanya yang berlokasi di Jalan Sultan Syarif Kasim Nomor 30b, Kota Pekanbaru, Riau itu semakin ramai dan sukses.

Salah satu rahasia di balik kesuksesan tersebut adalah kecepatan dalam melayani pelanggan. Hal ini terjadi semenjak Abdul mengganti bahan bakar untuk menggoreng pisang dari LPG melon 3 kilogram (kg) menjadi Bright Gas ukuran 5,5 kg atau 12 kg.

 “Kalau pakai tabung 3 kg tidak cukup (untuk) memanaskan minyak goreng dalam kuali ukuran 28 liter. Kalau pakai si ‘pinky’ (Bright Gas 5,5 kg) pas. Cukup untuk menggoreng ribuan pisang satu hari,” papar Abdul.

Abdul pun berterima kasih kepada Pertamina karena telah banyak membimbing dan membantu dirinya sehingga bisnis pisang kipasnya bisa maju dan terkenal.

"Permintaan juga datang dari luar kota karena orang-orang di Pertamina selalu memperkenalkan produk Pisang Kipas 50 Gold kepada para tamu," kata Abdul.

Vice President Corporate Communication Pertamina Fajriyah Usman mengatakan, Pertamina mengapresiasi perjalanan usaha yang dilalui Abdul Rahmat. Pertamina akan terus mendukung UMKM serupa hingga dapat berkembang dan naik kelas.

“Dengan UMKM naik kelas, peluang pasar semakin terbuka lebar sehingga dapat menyediakan banyak lapangan kerja dan mendukung pertumbuhan ekonomi,” ujar Fajriyah.

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau