Advertorial

Bersama Pupuk Kujang dan ITB, Pertamina Bentuk PT Katalis Sinergi Indonesia

Kompas.com - 31/12/2020, 17:49 WIB
 Direktur Utama PTPL Ageng Giriyono, Direktur Utama PK Maryadi, dan Direktur Utama RII  Alam Indrawan menandatangani pembentukan resmi perusahaan patungan PT Katalis Sinergi Indonesia di Cikampek, Jawa Barat, Rabu (30/12/2020). (Dok. Humas Pertamina) Direktur Utama PTPL Ageng Giriyono, Direktur Utama PK Maryadi, dan Direktur Utama RII Alam Indrawan menandatangani pembentukan resmi perusahaan patungan PT Katalis Sinergi Indonesia di Cikampek, Jawa Barat, Rabu (30/12/2020).

KOMPAS.com - PT Pertamina (Persero) melalui PT Pertamina Lubricants (PTPL) secara resmi membentuk perusahaan patungan bersama PT Pupuk Kujang (PK) dan PT Rekacipta Inovasi ITB (RII) dengan nama PT Katalis Sinergi Indonesia (PT KSI).

Pembentukan perusahaan tersebut disahkan dalam Akta Pendirian Perusahaan yang telah ditandatangani oleh Direktur Utama PTPL Ageng Giriyono, Direktur Utama PK Maryadi, dan Direktur Utama RII Alam Indrawan di Cikampek, Jawa Barat, Rabu (30/12/2020).

Adapun pendirian PT KSI sebagai perusahaan patungan penghasil katalis merupakan langkah kolaborasi yang ditempuh oleh Badan Usaha Milik Negara (BUMN) dan Perguruan Tinggi BHMN dalam rangka merealisasikan program pengembangan sumber daya energi berbasis kelapa sawit.

Program tersebut tertuang dalam Program Strategis Nasional berdasarkan Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 109 Tahun 2020 yang sesuai dengan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2020 – 2024.

Sebagai informasi, nilai investasi awal Pembangunan pabrik katalis, yang disebut Katalis Merah Putih ini diinformasikan sekitar Rp 170 miliar dengan porsi saham PTPL sebesar 38 persen, PKC sebesar 37 persen dan RII sebesar 25 persen.

“Produk katalis memegang peranan penting dalam industri pengolahan minyak, industri kimia dan petrokimia, serta industri energy,” ujar Ageng dalam rilis yang diterima Kompas.com, Kamis (31/12/2020).

 Saat ini, produsen dan pemasok katalis di Indonesia masih sangat sedikit sehingga potensi pengembangan inovasinya sangat besar dan harus dimaksimalkan oleh para pelaku bisnis tersebut.

Untuk diketahui, pemanfaatan energi terbarukan melalui kelapa sawit membutuhkan katalis untuk akselerasi proses pengembangannya . Karenanya, permintaan dan kebutuhan katalis akan terus meningkat secara signifikan di masa yang akan datang.

Menurut Ageng, produksi katalis dari PT KSI akan berkontribusi sebesar kurang lebih 800 ton per tahun. Produk Katalis JV akan diserap sekitar 64 persen oleh Pertamina dan 34 persen dialokasikan untuk Oleochemical Plant.

Pembangunan pabrik secara lokal diharapkan mampu mengurangi ketergantungan impor katalis secara signifikan, mempercepat lahirnya inovasi produk dan teknologi baru, membangun daya saing industri dalam negeri, sekaligus meningkatkan kemandirian dan ketahanan energi bangsa Indonesia.

"Bahkan, pada saatnya nanti diharapkan produk Katalis Merah Putih karya anak bangsa ini mampu menembus pasar ekspor dan bersaing dengan produk-produk global player," ujar Ageng.

Proses panjang

Ageng menambahkan, pendirian perusahaan patungan penghasil katalis di Indonesia ini merupakan sebuah perjalanan panjang. Prosesnya telah dimulai dari tahapan riset dan pengembangan, hingga terbentuknya perusahaan patungan.

Bentuk kolaborasi antara BUMN dan Perguruan Tinggi BHMN tersebut juga terbukti mampu menghasilkan produk teknologi unggulan yang diharapkan dapat meningkatkan ketahanan energi nasional, mendukung kemandirian energi, serta menjadi media hilirisasi riset karya anak negeri, baik dari aspek bisnis, riset dan teknologi, hingga pengembangan SDM nasional yang profesional.

"Penandatanganan akta pendirian merupakan milestone awal sehingga kami secara bersama masih perlu bahu-membahu dalam rangka merealisasikan pembangunan pabrik hingga operasi bisnis dari PT KSI ini,” imbuh Ageng.

Ia juga menambahkan bahwa pihaknya dipercayai oleh holding, yakni PT Pertamina (Persero) untuk bersinergi bersama PK dan ITB untuk mengakselerasi produk-produk katalis, baik untuk kebutuhan industri domestik maupun internasional.

“Kami percaya, dengan kombinasi expertise, kapabilitas teknologi dan adanya captive market serta hubungan pelanggan dan konsumen, JV katalis ini mampu mengisi kebutuhan katalis dalam dan luar negeri dengan baik," sambungnya.

Menurut Ageng, PT Pertamina Lubricants akan berkontribusi dan mendukung penuh setiap tahapan, mulai dari pabrik yang rencananya dilakukan pada triwulan kedua 2021, hingga nantinya dapat beroperasi pada triwulan pertama 2022.

"Pendirian perusahaan patungan ini juga diharapkan membawa manfaat bagi Pertamina Group juga menjadi potensi bisnis baru bagi PTPL. Di sisi lain, diharapkan mampu menjaga stabilitas pasokan dan harga katalis bagi kilang milik PT Kilang Pertamina Internasional," tambah Ageng.

Selain itu, pendirian PT KSI juga diharapkan mampu meningkatkan penggunaan bahan baku produksi dalam negeri sehingga mampu meningkatkan tingkat komponen dalam negeri (TKDN) dan mampu mendorong pertumbuhan industri lainnya.

"Kami mengharapkan dukungan dari Pemerintah agar proyek ini dapat segera terealisasi dan semoga dapat menjadi percontohan untuk sinergi antar-BUMN dan perguruan tinggi BHMN pada industri lain," sambung Ageng.

Hal lain diungkapkan oleh Alam Indrawan. Menurutnya, pembentukan perusahaan katalis merupakan tonggak sejarah baru bagi Indonesia. Ia senangm, hasil penelitian dapat dihargai sebagai hak kekayaan intelektual sehingga bisa berdiri sebuah perusahaan.

“Ini bisa menjadi role model di seluruh kampus dan institusi penelitian di Indonesia. Bagaimana penelitian dihargai sehingga (institusi pendidikan) bisa melakukan penelitian lebih baik lagi. Ini langkah agar Indonesia masuk menjadi negara maju. (Ke depan kita bisa lihat bahwa) kekayaan intelektual dihargai di negeri ini,” ujar Alam.

Alam menambahkan, Katalis Merah Putih merupakan satu-satunya di dunia yang bisa memproduksi bahan bakar dari sawit. Hasil petani sawit nantinya bisa tersalurkan dalam produksi bahan bakar untuk kendaraan.

“(Dengan) berdirinya pabrik ini semoga bisa membawa manfaat yang lebih banyak lagi bagi masyarakat,” imbuh Alam.

Di kesempatans ama, Direktur Utama PT Pupuk Kujang Maryadi menegaskan, katalis merupakan hal yang sangat penting dalam operasional industry. Hampir semua industri memerlukan katalis.

“Indonesia merupakan produsen sawit terbesar kedua di dunia setelah Malaysia. Berdirinya pabrik Katalis Merah Putih akan menjadi bukti bahwa bangsa Indonesia mampu menciptakan katalis sendiri tanpa tergantung negara lain,” ujar Maryadi.

Ia berharap, pabrik Katalis Merah Putih dapat memberikan multiplier effect bagi industri nasional di tengah hantaman berat akibat pandemi covid-19.

“Pembentukan pabrik katalis ini merupakan torehan sejarah dan dapat menjadi role model bisnis yang menjadi bentuk sinergi antara lembaga riset, dunia usaha, serta Pemerintah. Berdasarkan Perpres No 109 Tahun 2020, proyek katalis dikategorikan sebagai proyek strategis nasional,” ujar Maryadi.