Advertorial

Konsumsi dan Daya Beli Masyarakat, Kunci Pertumbuhan Kredit Perbankan

Kompas.com - 07/01/2021, 15:58 WIB
 Himpunan Bank Milik Negara (Himbara) terdiri dari Bank Rakyat Indonesia (BRI), Bank Mandiri, Bank Negara Indonesia (BNI), dan Bank Tabungan Negara (BTN). (DOK. HIMBARA) Himpunan Bank Milik Negara (Himbara) terdiri dari Bank Rakyat Indonesia (BRI), Bank Mandiri, Bank Negara Indonesia (BNI), dan Bank Tabungan Negara (BTN).

KOMPAS.com – Himpunan Bank Milik Negara (Himbara) yang terdiri dari Bank Rakyat Indonesia (BRI), Bank Mandiri, Bank Negara Indonesia (BNI), dan Bank Tabungan Negara (BTN) memandang bahwa penurunan suku bunga bukan merupakan faktor utama pendorong pertumbuhan kredit.

Hal tersebut disampaikan oleh Ketua Himbara yang juga merupakan Direktur Utama BRI Sunarso pada acara Ngobrol Bareng Pemred dan Himbara di Jakarta (6/1/2021).

Sunarso mengatakan, permintaan kredit dapat terkerek bila permintaan rumah tangga dan daya beli masyarakat meningkat. Hal ini terbukti lewat model analisis ekonometrika terhadap pertumbuhan kredit.

“Oleh karena itu, stimulus yang dilakukan pemerintah dalam menangani pandemi Covid-19 dirasa tepat. Sebab, masyarakat dapat merasakan langsung manfaatnya,” ujar Sunarso dalam rilis tertulis yang diterima Kompas.com, Kamis (7/1/2021).

Ia juga memaparkan bahwa penurunan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI) telah mengikuti penurunan suku bunga pinjaman. Namun, hal tersebut justru tidak mendorong pertumbuhan kredit.

“Kita mesti bijaksana untuk melihat cara meningkatkan pertumbuhan kredit karena turunnya suku bunga tidak selalu bisa mengatrol pertumbuhan kredit,” imbuh Sunarso.

Menurut Sunarso, tren penurunan pertumbuhan pinjaman–termasuk pada anggota Himbara–sejak 2012 terjadi pada saat suku bunga perbankan cenderung turun.

“Penurunan suku bunga Kredit Usaha Rakyat (KUR) juga tidak mendorong peningkatan agregat perbankan. Pada 2015 dan 2016, saat suku bunga KUR menurun signifikan, pertumbuhan pinjaman justru menurun sampai di bawah 10 persen. Jadi, kunci permintaan kredit ada di konsumsi rumah tangga dan daya beli masyarakat, ”papar Sunarso.

Pada kesempatan yang sama, Direktur Utama Bank Mandiri Darmawan Junaidi menyebut bahwa biaya dana atau cost of fund (CoF) Himbara saat ini belum sampai pada titik rendah karena portofolio bank-bank milik negara masih memiliki porsi dana mahal yang relatif besar.

“Ke depannya, perlu ada diversifikasi jenis eksekusi yang dilakukan Himbara, khususnya jenis simpanan dana murah untuk memaksa tingkat biaya dana. Kalau dilihat, rasio dana murah di salah satu bank swasta nasional sudah di atas 70 persen, sementara di Himbara mungkin berkisar 65-70 persen, ”ujar Darmawan.

Berkaca dengan kondisi yang ada, Direktur Utama BNI Royke Tumilaar memprediksi, pertumbuhan kredit industri perbankan di Indonesia dalam kurun 6 bulan ke depan berada di kisaran maksimal 5 persen.

“Saya yakin perbankan sekarang melihatnya lebih banyak ke (proyeksi) jangka pendek, belum melihat penuh. Dalam 6 bulan ke depan, saya yakin kredit pertumbuhan semua rata-rata tertinggi adalah 5 persen,” ujarnya.

Menurut Royke, industri saat ini masuk dalam proses pemulihan sehingga masih membutuhkan waktu.

“Nanti, kalau ekonomi membaik dan daya beli menengah atas pulih, pasti kami akan genjot (untuk mencapai pertumbuhan) double digit. Namun, sekarang semua pasti akan lihat lebih pendek dalam periode 3-6 bulan, ”ujar Royke.

Sementara itu, Plt Direktur Utama BTN Nixon LP Napitupulu mengungkapkan bahwa BTN terus berinovasi untuk meningkatkan current account saving account (CASA).

“Kredit kami panjang, bahkan tenor Kredit Pemilikan Rumah (KPR) ada yang 25 tahun dan rata-rata jatuh tempo rata-rata di atas 10 tahun. Masalahnya, kalau mengandalkan Dana Pihak Ketiga (DPK), ketersediaannya relatif pendek-pendek. Kemudian, dalam isu CASA. Benar bahwa deposito kami masih paling banyak. Belakangan kami mulai masuk ke arah perbaikan strategi CASA dan transaksi, ” jelas Nixon.

Saat ini, Himbara telah mendominasi pangsa pasar bank umum nasional, baik dari segi aset, pinjaman, maupun simpanan. Pangsa pasar Himbara untuk aset tercatat sebesar 41,59 persen, pinjaman 43,54 persen dan simpanan 43,46 persen.

Peran Himbara dalam agenda pembangunan nasional tidak hanya terbatas pada penyaluran kredit.

Himbara juga mengambil peran dalam pemberdayaan usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) serta penyaluran bantuan sosial yang digulirkan oleh pemerintah. Sebagai entitas bisnis, Himbara tidak hanya menciptakan “nilai ekonomi” semata, tapi juga “nilai sosial” kepada seluruh pemangku kepentingan.

Himbara pun berkomitmen akan terus menjadi mitra utama pemerintah dalam pemulihan ekonomi nasional yang disebabkan oleh pandemi.

Salah satu strateginya adalah fokus pada peningkatan daya beli masyarakat sebagai kunci pertumbuhan kredit atau business follow stimulus. Selain itu, masing-masing bank anggota Himbara akan fokus pada pertumbuhan kredit sesuai dengan core business.

“Kami harus bisa mengalirkan arus kas ke masyarakat melalui penyaluran stimulus dan memberikan lapangan pekerjaan. Untuk itu, proyek-proyek infrastruktur yang memiliki efek multiplier dan tidak boleh berhenti,” ujar Sunarso.

Hal tersebut dilakukan agar dapat menyelesaikan masalah secara good corporate governance (GCG) dan jutaan UMKM dapat kembali mendapatkan akses untuk memperoleh kredit dari perbankan.