Advertorial

Refleksi Setahun Pandemi Covid-19 di Indonesia, Human Initiative Gelar Webinar Kita Kuat Bersama

Kompas.com - 04/03/2021, 08:17 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com – Tepat Selasa (02/03/2021) menandai satu tahun mewabahnya Covid-19 di Indonesia. Tahun lalu, Presiden Joko Widodo didampingi oleh Menteri Kesehatan saat itu, Terawan Agus Putranto, mengumumkan dua kasus pertama virus corona di Indonesia.

Hingga kini, pandemi Covid-19 belum berlalu. Pada Selasa, jumlah pasien positif Covid-19 di Indonesia tercatat mencapai 1,34 juta pasien. Jumlah itu diprediksi akan terus bertambah mengingat proses vaksinasi oleh pemerintah dilakukan secara bertahap serta belum merata.

Merefleksikan satu tahun pandemi Covid-19 di Indonesia, Human Initiative yang merupakan organisasi kemanusiaan menggelar webinar bertajuk “Refleksi Setahun Pandemi—Kita Kuat Bersama”.

Adapun narasumber yang dihadirkan pada webinar tersebut di antaranya Dewan Pakar Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (IAKMI) Hermawan Saputra, VP CSR & SMEPP Management PT Pertamina Persero Arya Dwi Paramita, tenaga kesehatan Pramaisshela Arinda, dan ulama Tanah Air Ustad Salim A Fillah.

Berbicara dalam webinar, Hermawan Saputra memiliki pandangan mengenai penanganan pandemi Covid-19 di Indonesia dalam setahun terakhir.

Menurutnya, terdapat karakteristik yang membuat Indonesia tidak kunjung keluar dari puncak kasus Covid-19. Bila kurva pandemi diibaratkan seperti bukit, Indonesia masih berada di lereng yang terus menanjak dan belum kelihatan puncaknya.

Sementara itu, rata-rata negara lain di dunia, seperti Italia, Spanyol, dan Iran sudah melewati puncak kasus Covid-19 di bulan keempat dan kelima.

“Bulan Juni, Juli, dan Agustus (2020) menjadi periode yang krusial. Seharusnya, kita sudah stabil secara kebijakan. Akan tetapi kebijakan pengendalian Covid-19 oleh pemerintah tidak paripurna atau tidak berlaku di seluruh Indonesia (pada periode tersebut),” ujar Hermawan.

Hermawan juga menyoroti perubahan kebijakan pemerintah yang tidak konsisten sehingga turut berpengaruh pada naik-turunnya tingkat kewaspadaan masyarakat.

Misalnya, kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) yang semula membuat orang waspada, lalu berubah menjadi PSBB transisi, PSBB proporsional, hingga Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) skala mikro.

Ke depannya, dia berharap pemerintah bisa memaksimalkan kebijakan yang menyeluruh dan berlaku hingga ke pelosok Indonesia.

Pasalnya, berbagai kegiatan masyarakat seperti transportasi, pariwisata, dan pergerakan massa lainnya, menyebabkan silent movement. Jadi, dibutuhkan kebijakan berskala nasional yang sanggup menstandarisasi perilaku masyarakat secara luas.

“Selain itu, penting juga untuk memperhitungkan ketersediaan vaksin karena Indonesia bukan negara penghasil vaksin. Belum lagi problem efektivitas vaksin dan kemauan seluruh elemen masyarakat untuk melaksanakan vaksinasi. Ini menjadi pekerjaan rumah pemerintah,” tukas Hermawan.

Apresiasi untuk masyarakat

(KOMPAS.com/Yogarta Awawa) President of Human Initiative Tomy Hendrajati memberikan apresiasi kepada masyarakat yang telah berkolaborasi dan berdonasi selama pandemi Covid-19. (KOMPAS.com/Yogarta Awawa) President of Human Initiative Tomy Hendrajati memberikan apresiasi kepada masyarakat yang telah berkolaborasi dan berdonasi selama pandemi Covid-19.

Tidak hanya merefleksikan pandemi Covid-19 sepanjang 2020, Human Initiative juga memberi apresiasi atas kontribusi berbagai elemen masyarakat dalam penanganannya. Pada kesempatan tersebut, President of Human Initiative Tomy Hendrajati mengucapkan terima kasih kepada para donatur individu, institusi perusahaan, komunitas, maupun lembaga sejenis yang telah berdonasi selama masa pandemi Covid-19.

Kontribusi para pendonor membuat Human Initiative dapat berperan aktif dalam memberikan bantuan. Adapun donasi yang sudah disalurkan yakni pengadaan alat pelindung diri (APD), obat-obatan dan vitamin untuk para tenaga kesehatan (nakes), menyerahkan tiga mobil Lab PCR BSL-2 kepada Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI, serta berbagai bantuan untuk masyarakat yang terdampak Covid-19 maupun bencana alam.

“Kami meyakini bahwa semua itu tidak akan bisa terjadi tanpa adanya sebuah kolaborasi. Pandemi Covid-19 memberikan bukti bahwa kita tidak bisa bekerja sendiri,” ujar Tomy dalam sambutannya.

Tomy melanjutkan bahwa setahun belakang, Human Initiative mampu mengumpulkan dana Rp 46,6 miliar. Dana itu digunakan untuk membantu 526.367 jiwa yang terdampak Covid-19, baik di Indonesia maupun Korea Selatan dan Taiwan.

“Mudah-mudahan upaya kolaborasi ini memberikan dampak yang besar kepada masyarakat. Perjuangan kami masih panjang sehingga bisa terus berkolaborasi, saling menjaga, dan saling peduli. Semoga Tuhan memberikan kekuatan kepada kita semua agar bisa bertahan dan memberikan manfaat bagi sesama,” kata Tomy.

Dalam webinar itu, Human Initiative juga melakukan relaunching program #stillfightcorona untuk 2021. Sejak Januari 2021, Human Initiative telah menjalankan program Covid Response Project 3.0.

Program itu berfokus pada pendistribusian bantuan respirator di rumah sakit, pengadaan mobil ambulans untuk pasien Covid-19, dukungan rumah isolasi, dan melakukan gerakan sejuta masker untuk penyintas di wilayah terdampak bencana.

Vice President Communication, Network and Development Human Initiative Romi Ardiansyah mengatakan, selain program tersebut, Human Initiative juga akan memperkuat program-program pemberdayaan masyarakat yang sudah ada.

“Program-program kami akan tetap diupayakan dalam ruang adaptasi pandemi Covid-19. Semoga program yang dilakukan selama pandemi ini bisa meningkatkan kontribusi kami untuk masyarakat,” ujarnya.

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp 5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau