Advertorial

Ajak Generasi Muda, Human Initiative Inisiasi Bedah Buku Bertema Kemanusiaan

Kompas.com - 06/03/2021, 12:37 WIB
Webinar bedah buku Langkah-langkah Kemanusiaan di Tengah Krisis (Dok. Human Initiative) Webinar bedah buku Langkah-langkah Kemanusiaan di Tengah Krisis

JAKARTA, KOMPAS.com – Human Initiative bersama Humanitarian Forum Indonesia menggelar acara bedah buku Langkah-langkah Kemanusiaan di Tengah Krisis karya Trihadi Saptoadi.

Adapun kegiatan yang dikemas dalam format web seminar (webinar) itu dilaksanakan pada Kamis (4/3/2021).

Menurut Presiden Human Initiative Tomy Hendrajati, kegiatan ini merupakan momentum baik untuk mendiskusikan isu-isu kemanusiaan. Terlebih saat ini dunia berada dalam situasi yang kurang baik akibat pandemi Covid-19.

“Momen ini dapat menguatkan kita semua untuk membangun solidaritas. Karena permasalahan kemanusiaan tidak bisa selesai jika dikerjakan sendirian,” ujar Tomy.

Isu kemanusiaan, jelas Tomy, sudah selayaknya menjadi tanggung jawab semua pihak dan tak hanya dibebankan kepada pegiat kemanusiaan saja.

“Semua pihak harus terlibat, baik itu pemerintah, masyarakat umum, bahkan pelajar. Saya sempat berdiskusi dengan pak Trihadi mengenai bagaimana cara mengajak generasi muda saat ini untuk aktif di kegiatan kemanusiaan. Karena pekerjaan ini sangat mulia,” jelasnya.

Sementara itu, Trihadi yang hadir saat itu mengatakan, penulisan buku yang dilakukan olehnya adalah bentuk pelampiasan emosi.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Trihadi menjalani harinya sebagai pekerja kemanusiaan selama puluhan tahun. Pengalaman dan tantangan yang pernah ia alami itu yang coba diangkat dalam bukunya. Di samping itu, bukunya juga menjadi refleksi bagi dirinya yang seringkali lupa akan penderitaan orang lain sekalipun ia pekerja kemanusiaan.

Dengan menulis buku, ia juga berharap pekerjaan di bidang kemanusiaan mampu menjadi pilihan utama bagi banyak orang, utamanya kalangan milenial.

“Banyak dari mereka (milenial) bercita-cita untuk menjadi staf di perusahaan, dokter, dan insinyur karena sesuai dengan passion. Itu tidak masalah. Namun, bidang (kemanusiaan ) ini juga menuntut hal sama (passion). Jadi, kami coba menarik mereka untuk mau berada di bidang kemanusiaan ,” ujar Trihadi.

Lewat buku tersebut, Trihadi yang kini merupakan Chairman of the Executive Board of Tahija Foundation juga menyoroti berbagai macam konflik (perang) yang terjadi secara sia-sia di berbagai negara. Terlebih, ada banyak korban berjatuhan akibat konflik tersebut.

“Seperti saat saya di Laos dulu. Kala itu, (terjadi)perang antara Vietnam dan Amerika Serikat. Banyak bom (meledak) di mana-mana. Laos waktu itu tidak ikut berperang, tapi menjadi negara yang paling menderita. Sampai saat ini, banyak tanah di Laos yang masih memiliki efek radiasi akibat perang tersebut,” tutur Trihadi.

Bagi Trihadi, hal tersebut menjadi ironis. Pasalnya, hingga kini masyarakat Laos masih merasakan dampak dari perang.

Selain perang, buku Langkah-langkah Kemanusiaan di TengahKrisis juga mengangkat isu agama yang kerap dipolitisasi sehingga membuatnya terkesan menakutkan.

Menurut Trihadi, tindakan tersebut kerap memicu salah paham mengenai kepercayaan. Padahal, agama sejatinya mengajarkan toleransi dan ruang kemanusiaan, serta memuliakan sesama manusia.

Trihadi Saptoadi saat memberikan pemaparan mengenai bukunya (Dok. Human Initiative) Trihadi Saptoadi saat memberikan pemaparan mengenai bukunya (Dok. Human Initiative)

“Seharusnya agama itu dapat menjadi saksi bagi iman dan kebaikan kita semua. Ini bisa ditularkan kepada orang lain. Sayangnya, pada saat yang sama, hal tersebut juga dibatasi oleh etika dan semacamnya sehingga kita tidak boleh ikut campur atas keyakinan orang lain. Meski begitu, seharusnya hal tersebut tidak dijadikan alat praktis,” ucapnya.

Dalam kesempatan yang sama, turut hadir sejumlah tokoh, seperti Staf Ahli bidang Hubungan Antar Lembaga Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia Muhsin Syihab, Ketua Badan Pertimbangan Persekutuan Pelayanan Kristen untuk Kesehatan di Indonesia (Pelkesi) Sigit Wijayanta PhD, dan Wakil Ketua Muhammadiyah Disaster Management Centre Rahmawati Husein. Masing-masing figur tersebut memberikan tanggapan terkait isi buku.

Sigit, misalnya. Ia mengatakan bahwa buku terbaru dari Trihadi tersebut seakan merefleksikan kehidupan tiap orang saat ini.

“Buku ini seolah berbicara tentang saya sendiri. Ketika saya membaca buku ini seakan saya merasa apa yang dirasakan Pak Trihadi. Selain itu, buku ini isinya yang sangat kontekstual dan tak terlalu teoretis,” katanya

Ia menambahkan, pembahasan kemiskinan menjadi topik menarik dari buku karangan Trihadi. Menurut Sigit, pembahasan tersebut sangat relevan dengan kondisi saat ini.

Framework yang digunakan dalam memandang kemiskinan sangat relevan dengan masa sekarang. Ini dapat digunakan sebagai pembelajaran untuk menghadapi masalah tersebut,” imbuh Sigit

Di sisi lain, Muhsin mengatakan, buku Langkah-langkah Kemanusiaan di Tengah Krisis mengonfirmasi banyak hal yang ditulis oleh banyak akademisi. Salah satunya adalah isu diplomasi kemanusiaan.

Buku tersebut, kata Muchsin, banyak mengandung elemen diplomasi, seperti representing, protecting, monitoring, dan reporting.

“Elemen itu semuanya terangkum. Misalnya, proses represent soal pekerja kemanusiaan. Mereka melakukan promosi dan perlindungan terhadap korban ketidakadilan. Di sisi lain, mereka juga melakukan reporting kepada berbagai pihak,” ujarnya.

Muhsin yang sempat menjabat sebagai Deputi Wakil tetap RI untuk PBB di New York berharap, buku Langkah-langkah Kemanusiaan di Tengah Krisis dapat menjadi entry point untuk gerakan nasional yang memuat kode etik kemanusiaan.

“Oleh karena itu, buku ini harus dikemas dengan baik agar mampu menarik masyarakat sehingga nantinya dapat memberikan semangat kemanusiaan hingga menjadi sebuah gerakan,” ucapnya.

Harapan yang sama juga dilontarkan Rahmawati. Ia berharap, ke depannya, buku tersebut mampu membuka ruang kemanusiaan semakin lebar.

“Seperti yang dijelaskan dalam buku, passion juga merupakan hal penting bagi pekerja kemanusiaan. Semoga semakin banyak isu-isu kemanusiaan yang diangkat di masa depan. Jangan sampai isu tersebut malah menyempit,” kata Rahmawati.

Bagi yang berminat memiliki buku Langkah-langkah Kemanusiaan di Tengah Krisis dapat melakukan pemesanan melalui tautan ini