Advertorial

Proteksi Risiko Bisnis Bantu UMKM Tetap Berdaya Pascabencana

Kompas.com - 19/03/2021, 10:37 WIB
(Dok. BRI) Seminar ?Penguatan UMKM Menuju Ketahanan Ekonomi Nasional? yang dilaksanakan pada Rabu (10/3/2021). (Dok. BRI) Seminar ?Penguatan UMKM Menuju Ketahanan Ekonomi Nasional? yang dilaksanakan pada Rabu (10/3/2021).

KOMPAS.com – Proteksi risiko bisnis usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) harus menjadi bagian dari program pemberdayaan UMKM.

Hal tersebut bertujuan untuk meringankan dan mempercepat pemulihan usaha ketika terjadi hal yang tidak diinginkan, seperti kebakaran dan bencana alam.

Chief Executive Officer (CEO) Bank Rakyat Indonesia (BRI) Insurance Fankar Umran mengatakan, selama ini, pemberdayaan UMKM memberi penekanan pada sisi pembiayaan. Sementara, proteksi tidak dipikirkan.

Padahal, kata Fankar, UMKM sangat sulit mendapatkan pendanaan atau menjadi unbankable ketika terpapar risiko.

“Kalau terpapar (risiko), sulit dibiayai sehingga turunlah bantuan dari pemerintah. Ada Rp 80 triliun dana pemerintah untuk bencana, termasuk pemulihan UMKM. Sedangkan, kalau (dana) itu diasuransikan, pemerintah tidak perlu turun tangan (menurunkan dana) sebesar itu,” kata Fankar dalam rilis yang diterima Kompas.com.

Pada seminar daring “Penguatan UMKM Menuju Ketahanan Ekonomi Nasional” yang diadakan Rabu (10/3/2021), Fankar menjelaskan bahwa di Indonesia single risk event kerap dibahas ketika membicarakan risiko bisnis. Namun, catastrophic event, seperti bencana, kurang dikemukakan.

Akibatnya, ketika terjadi bencana, banyak pelaku UMKM sulit untuk kembali bangkit dengan cepat.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Untuk itu, tambah Fankar, menjaminkan risiko catastrophic event sangat penting dibandingkan pilihan mengelola risiko lain.

Fankar juga menegaskan perihal pentingnya mentransfer risiko. Hal ini agar pelaku usaha cukup membayar premi kecil untuk mendapatkan jaminan yang besar, mempercepat pemulihan, dan menghindari rentenir.

“Kalau lihat profil masyarakat yang terjebak rentenir, (mereka) itu kadang menjaminkan rumahnya. Padahal, bunga (yang dikenakan) sangat besar. Maka dari itu, UMKM harus dilindungi dari sisi kegagalan risiko karena faktor eksternal,” ucapnya.

Pada kesempatan tersebut, Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo menyebut bahwa UMKM memiliki peranan penting dalam perekonomian nasional.

Maka dari itu, pemerintah harus terus berupaya untuk mengembangkan usaha para pelaku UMKM.

“Kita tahu bersama peran penting UMKM untuk mendukung pertumbuhan ekonomi. Hal ini dikarenakan (UMKM memiliki) jumlah unit usaha yang besar dan membuka (banyak) lapangan kerja, sehingga presiden dan pemerintah mendukung penuh pengembangan UMKM,” kata Perry.

Perry menjelaskan, pemerintah telah menyiapkan empat program untuk mengembangkan UMKM. Pertama, memberikan wawasan kewirausahaan kepada pelaku UMKM dalam bentuk bantuan teknis, mulai dari produksi, pembukuan keuangan, hingga pemasaran.

Kedua, membantu akses keuangan. Ketiga, mendorong UMKM untuk menggunakan layanan digital (digitalisasi). Terakhir, memperluas pemasaran UMKM.

Perry menambahkan, instruksi Presiden Joko Widodo sangat jelas melalui Gerakan Nasional Bangga Buatan Indonesia. Selain itu, terdapat program berwisata di Indonesia untuk mendorong pemasaran produk UMKM.

Sementara itu, Direktur Bisnis Mikro PT BRI (Persero) Supari mengatakan, dampak pandemi Covid-19 terhadap sektor UMKM juga turut berimbas pada lini bisnis BRI. Pasalnya, sekitar 82 persen portfolio BRI merupakan pelaku UMKM.

“Pada bulan kedua, mereka sudah tidak punya tabungan lagi. Modal kerja pun sudah dipakai untuk biaya hidup. Sekarang sudah 1 tahun pandemi, BRI terus membantu untuk meningkatkan daya saing mereka,” jelas Supari.

Supari juga menyebutkan, salah satu tantangan UMKM Indonesia adalah sekitar 90 persen masih pada level tradisional. Rasio wirausahawan pun hanya 3,46 persen atau lebih kecil jika dibandingkan Singapura, yakni sekitar 7 persen.

Selain itu, menurut Supari, kontribusi sektor UMKM untuk ekspor juga masih kecil, yakni hanya 14,37 persen. Angka itu lebih rendah dari Vietnam yang berada di angka 17 persen, Thailand 27,4 persen, dan Filipina 13,2 persen.

“UMKM memang sangat rentan. Meski begitu, ada (UMKM) yang dapat bertahan, ada yang menemukan titik efisiensi baru sehingga bisa bangkit, dan ada juga kelompok yang justru tumbuh,” tambahnya.

Sebagai informasi, BRI menjadi salah satu perbankan yang fokus untuk meningkatkan kewirausahaan UMKM.

Selain itu, BRI juga aktif berkontribusi lebih dalam percepatan program Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) yang digulirkan pemerintah, seperti restrukturisasi dan kredit usaha rakyat (KUR).

Untuk informasi lebih lanjut mengenai BRI Insurance, Anda dapat menghubungi telepon 021-79170477, surat elektronik skp@brins.co.id, dan website www.brins.co.id.

Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.