Advertorial

Pasok Listrik dari PLN, Pertamina Dukung Operasional WK Rokan

Kompas.com - 22/03/2021, 22:23 WIB
- Dok. Humas Pertamina-

KOMPAS.com – Pada Agustus 2021, PT Pertamina (Persero) akan melakukan alih kelola wilayah kerja (WK) Rokan dari PT Chevron Pacific Indonesia (CPI).

Oleh sebab itu, Pertamina melalui anak usahanya, yaitu PT Pertamina Hulu Rokan (PHR) memastikan kesiapan pengelolaan wilayah kerja (WK) Rokan.

Kesiapan tersebut diwujudkan melalui kerja sama antara PHR dengan PT Perusahaan Listrik Negara (PLN) untuk suplai listrik operasional produksi minyak dan gas (migas) di WK Rokan.

Adapun kerja sama PHR dan PLN ditandai dengan penandatanganan Perjanjian Jual Beli Tenaga Listrik dan Uap (PJBTLU) pada Senin, (1/2/2021).

Lewat perjanjian itu, PLN akan memasok listrik 400 megawatt (MW) dan uap 335 ribu barrel standar per hari (MBSPD) untuk produksi migas WK Rokan yang diperkirakan di kisaran 161 ribu barrel per hari.

Senior Vice President Corporate Communication and Investor Relation Pertamina Agus Suprijanto mengatakan, sinergi dengan BUMN Listrik Nasional tersebut akan menciptakan operasional yang lebih efisien.

“Pasokan listrik dari PLN diyakini Pertamina lebih andal dengan pembangunan jaringan interkoneksi sistem dan gardu induk serta didukung dari pembangkit listrik lain,” ujar Agus dalam keterangan pers yang diterima Kompas.com, Senin (22/3/2021).

Dengan demikian, lanjut Agus, PLN dapat meningkatkan kapasitas suplai listrik untuk kegiatan operasional WK Rokan.

Berdasarkan kesepakatan tersebut, PLN akan menjalankan tahap dua langkah. Hal ini untuk memastikan suplai listrik dalam operasional WK Rokan tetap tersedia.

Tahap pertama, masa transisi dengan memanfaatkan pembangkit listrik existing yang akan berlangsung selama tiga tahun mulai Senin, (9/8/2021).

Sementara, tahap kedua adalah masa layanan permanen yang akan dimulai pada 2024. Suplai listrik diberikan dengan mengandalkan pembangkit dan jaringan PLN.

Kawal kinerja PRH

Agus menambahkan, Pertamina sebagai holding akan mengawal kinerja PHR untuk memastikan proses alih kelola WK Rokan berjalan baik. Dengan begitu, produksi migas nasional dapat terjaga.

Kontribusi produksi WK Rokan sendiri terhadap migas nasional diperkirakan sebesar 25 persen dari total produksi nasional. Produksi tersebut diperoleh dari lima lapangan besar, yaitu Duri, Minas, Bangko, Balam South, dan Petapahan yang tersebar di lima kabupaten di Provinsi Riau.

“WK Rokan tergolong mature. Karena itu, Pertamina (akan) memanfaatkan teknologi terkini dan mempersiapkan program jangka panjang untuk menahan laju penurunan produksi minyak di WK Rokan,” terang Agus.

Untuk mempertahankan produksi tetap stabil, beberapa upaya dilakukan Pertamina, di antaranya mempersiapkan dan menyelesaikan proses perizinan, proses peralihan pekerja, serta memastikan alih kontrak barang dan jasa, serta data transfer dari operator existing berjalan lancar.

“Pertamina terus membangun komunikasi dengan pemerintah untuk memastikan investasi, kelancaran program pengeboran PHR di WK Rokan sepanjang 2021 tetap berjalan, yakni 84 sumur yang terdiri dari 44 sumur pengembangan dan 40 sumur tambahan lainnya,” tutur Agus

Selain pengeboran sumur pengembangan, lanjut Agus, dalam jangka panjang disiapkan pula program lain berupa infill drilling, pengeboran sumur eksplorasi, workover atau well intervention, optimalisasi program waterflood dan steamflood, serta program lain untuk menambah cadangan.

“Sebagai BUMN yang mengemban amanah mengelola migas nasional, Pertamina mengharapkan dukungan pemerintah dan seluruh pemangku kepentingan untuk memastikan masa depan WK Rokan lebih bermanfaat bagi bangsa dan negara,” kata Agus.