Advertorial

Lewat Sistem Pendidikan yang Memerdekakan Mahasiswa, Unika Soegijapranata Siap Cetak SDM Berkualitas

Kompas.com - 06/05/2021, 20:39 WIB
Ilustrasi Mahasiswi Unika Soegijapranata. DOK. Unika SoegijapranataIlustrasi Mahasiswi Unika Soegijapranata.

KOMPAS.com – Universitas bukanlah menara gading pengetahuan yang tercerabut dari masyarakat. Sebagai institusi pendidikan tinggi, universitas mempunyai peran vital dalam mencerdaskan masyarakat dan memajukan kualitas sumber daya manusia (SDM) sebuah negara.

Tak jarang, pendirian sebuah universitas berawal dari lembaga yang memiliki kepedulian terhadap denyut nadi masyarakat dan bangsanya. Begitu pula dengan Universitas Katolik (Unika) Soegijapranata yang menyandang nama salah seorang pahlawan nasional, Albertus Soegijapranata.

Sejak awal pendiriannya, Unika Soegijapranata terlibat aktif dalam kehidupan bermasyarakat. Hal itu dibuktikan dengan pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tinggi di sekitar lingkungan universitas.

Unika Soegijapranata memberikan keleluasaan akademik bagi seluruh civitas academika, baik dosen maupun mahasiswa, untuk menjalankan Tri Dharma Perguruan Tinggi.

Wakil Rektor Bidang Kerja Sama dan Pengembangan Unika Soegijapranata Benny Danang Setianto mengatakan bahwa sejak awal mengikuti perkuliahan sampai lulus, mahasiswa Unika sudah dibekali dengan soft skill.

Berbagai materi soft skill yang diberikan meliputi pelatihan kepemimpinan dari tingkat dasar, keterlibatan dalam penelitian dosen, ikut serta dalam kegiatan pengabdian masyarakat untuk mengasah empati, serta persiapan melakukan wawancara kerja dan menyusun portofolio diri. Seluruh aktivitas ini telah didokumentasikan secara digital sehingga materinya dapat diakses secara daring.

“Kami ingin agar lulusan Unika Soegijapranata dapat menunjukkan portofolio terbaik ketika terjun ke dunia usaha dan industri. Salah satunya dengan memanfaatkan kemajuan teknologi digital sehingga lulusan kami bisa diverifikasi keasliannya,” ujar Benny dalam keterangan tertulis kepada Kompas.com, Rabu (5/5/2021).

Terima kasih telah membaca Kompas.com.
Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Ilustrasi Mahasiswi Unika Soegijapranata. DOK. Unika Soegijapranata Ilustrasi Mahasiswi Unika Soegijapranata.

Demi menjaga kesinambungan teori dan praktik ilmiah, lanjut Benny, proses belajar mengajar di Unika Soegijapranata tak hanya mengundang para profesional di ruang kelas. Mahasiswa juga diajak merasakan dunia kerja melalui program kunjungan, mentoring, serta magang di berbagai perusahaan dan kantor profesional.

Para profesional yang terlibat dalam kegiatan pengajaran tidak hanya memberikan pengetahuan praktis di dunia kerja, tetapi juga membantu mahasiswa melalui jaringan yang dimilikinya.

“Hal tersebut membantu mahasiswa dalam menghadapi tantangan di dunia kerja,” kata Benny.

Ia menambahkan bahwa jejaring untuk mahasiswa tersebut turut mendorong agar setiap kegiatan mahasiswa di kampus senantiasa terhubung dengan dunia usaha. Jaringan ini tidak hanya memberikan bantuan secara materiel dalam bentuk sponsorship, tetapi juga dalam mengelola kegiatan tersebut.

Demi meningkatkan semangat berwirausaha, Unika Soegijapranata menyediakan fasilitas Center for Student Entrepreneurs (CSE). Melalui fasilitas tersebut, mahasiswa dapat melakukan praktik-praktik kewirausahaan dengan didampingi dosen dan mentor pengusaha.

“Kami juga memiliki program Unika Knowledge Enterprise (UKE). Program ini berfungsi untuk menjembatani pengetahuan dan keterampilan yang dimiliki dosen dan tenaga kependidikan dengan dunia usaha dan dunia industri,” ujar Benny.

Melalui program UKE, mahasiswa bisa mendapatkan berbagai pelatihan yang penting untuk perkembangan kariernya. Pelatihan tersebut meliputi pelatihan bahasa Inggris, manajemen dan pengembangan kepribadian, serta pemanfaatan laboratorium yang bekerja sama dengan para profesional di dunia usaha.

Kerja sama yang terjalin, baik antara Unika Soegijapranata dan para pelaku industri, kata Benny, mampu memberikan keuntungan bagi kedua belah pihak. Khususnya, bagi mahasiswa yang hendak berkarier di dunia profesional.

Selain itu, Unika Soegijapranata juga mendorong mahasiswanya untuk mendapatkan exposure ke dunia internasional, baik yang secara finansial ditanggung sepenuhnya oleh pihak ketiga maupun yang sebagian menjadi tanggung jawab mahasiswa.

Ilustrasi Mahasiswa Unika Soegijapranata.DOK. Unika Soegijapranata Ilustrasi Mahasiswa Unika Soegijapranata.

Hal tersebut diwujudkan dengan kerja sama antara Unika Soegijapranata, universitas lain di luar negeri, dan berbagai pihak lain.

“Mahasiswa dan tenaga pendidik bisa mengikuti program pertukaran mahasiswa, gelar ganda, dan pelaksanaan service learning di negara lain,” ujar Benny.

Unika Soegijapranata juga sudah melakukan digitalisasi sistem pendidikan. Dengan begitu, orangtua murid dapat memantau pengisian kartu rencana studi, kelas virtual, presensi, pemberian kartu hasil studi, dan evaluasi kegiatan mahasiswa.

“Seluruh aktivitas civitas academika di lingkungan universitas sudah ditunjang kemajuan teknologi informasi,” ujar Benny.

Dalam melaksanakan praktik pendidikan di perguruan tinggi, Unika Soegijapranata berpegang teguh pada semangat kepahlawanan Albertus Soegijapranata yang membaktikan diri pada kepentingan yang lebih luas.

Semboyan talenta pro patria et humanitate yang berarti talenta untuk Tanah Air dan kemanusiaan menjadi pijakan universitas untuk memberikan ruang kebebasan bergerak. Namun, kebebasan tersebut juga harus dapat dipertanggungjawabkan demi Tanah Air dan rasa kemanusiaan.

“Nilai-nilai tersebut telah ditanamkan kepada mahasiswa Unika Soegijapranata. Kualitas dan relevansi menjadi kunci bagi lulusan supaya siap menghadapi realitas dunia kerja,” ujar Wakil Rektor itu.

Ia berharap, lulusan Unika tidak hanya menjadi profesional yang andal di bidangnya, tapi juga memiliki empati dalam proses pengambilan keputusan di tiap jenjang kepemimpinan.

Pada dasarnya, model pembelajaran di Unika yang mengadopsi pendidikan secara utuh (whole person education) sejatinya sudah menerapkan filosofi “Merdeka Belajar”.

“Sejak awal, peserta dididik untuk menjadi manusia merdeka yang bertanggung jawab secara rasional tanpa meninggalkan rasa kemanusiaan dan cinta Tanah Air,” ujar Benny.