Advertorial

Jadi Pilot Project Nasional, PSEL Benowo Hasilkan Listrik hingga 11 Megawatt

Kompas.com - 08/05/2021, 11:00 WIB
Presiden Jokowi meresmikan PSEL Benowo Surabaya, Kamis (6/5/2021). Dok. Humas Pemkot SurabayaPresiden Jokowi meresmikan PSEL Benowo Surabaya, Kamis (6/5/2021).

KOMPAS.com - Instalasi Pengolah Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL) di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Benowo, Surabaya, diresmikan oleh Presiden Joko Widodo (Jokowi), Kamis (6/5/2021).

Pada peresmian tersebut, Presiden Jokowi mengapresiasi gerak cepat Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya dalam merealisasikan PSEL Benowo.

Ia mengatakan, PSEL Benowo akan dijadikan pilot project nasional sehingga daerah lain diminta untuk meniru sistem yang digunakan pada PSEL tersebut.

"Saya sangat mengapresiasi instalasi pengolahan sampah menjadi energi listrik berbasis teknologi ramah lingkungan ini. Saya perintahkan kota lain untuk meniru pembangunan PSEL itu,” kata Jokowi dalam keterangan pers yang diterima Kompas.com, Sabtu (8/5/2021).

Adapun peresmian PSEL Benowo ditandai dengan bunyi sirine dan penandatanganan prasasti yang dilakukan oleh Presiden Jokowi. Pada kesempatan itu, Presiden juga sempat meninjau langsung central control room dan mengecek sistem pengolahan sampah hingga bisa menjadi listrik.

Sebagai informasi, PSEL Benowo mampu menghasilkan energi listrik hingga 11 megawatt (MW). Rinciannya, 2 MW listrik dihasilkan melalui metode Landfill Gas Power Plant dan 9 MW dari Gasification Power Plant.

Terima kasih telah membaca Kompas.com.
Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Jokowi menjelaskan, sejak 2018, pemerintah sudah berupaya menyiapkan sejumlah payung hukum bagi daerah untuk bisa merealisasikan fasilitas PSEL. Bahkan, keinginan untuk memiliki fasilitas ini sudah ada sejak 2008, saat dia masih menjabat sebagai Wali Kota Solo.

"Saya siapkan perpres dan PP-nya, untuk apa? Karena menurut pengalaman saya, merealisasikan pengolahan sampah menjadi listrik cukup sulit, seperti yang sejak dulu saya inginkan di Kota Solo waktu menjadi wali kota," jelasnya.

Payung hukum yang dimaksud adalah Peraturan Presiden Nomor 35 Tahun 2018 tentang Percepatan Pembangunan Instalasi Pengolah Sampah Menjadi Energi Listrik Berbasis Teknologi Ramah Lingkungan.

Dengan adanya perpres itu, pemerintah daerah (pemda) diharapkan berani mengeksekusi program pembangunan.

"Karena dulu payung hukumnya tidak jelas, pemda jadi sulit dan takut mengeksekusi (program). (Pemda) takut dipanggil kejaksaan, kepolisian, dan KPK,” kata Jokowi.

Pada kesempatan itu, Kepala Negara mengapresiasi kecepatan bekerja Pemkot Surabaya sebagai kota pertama yang berhasil membuat fasilitas pengolahan sampah menjadi energi listrik tersebut.

"Sekali lagi, saya acung dua jempol untuk Pemerintah Kota Surabaya, baik wali kota lama maupun yang baru. (Pembangunan ini) tidak mudah karena saya (pernah) mengalami," imbuhnya.

Selain Surabaya, ada 11 kota lain yang ditunjuk dalam Perpres 35/2018, yakni Jakarta, Tangerang, Tangerang Selatan, Bekasi, Bandung, Semarang, Surakarta, Makassar, Denpasar, Palembang, dan Manado.

Sampah jadi prioritas

Pembangunan fasilitas PSEL di sejumlah daerah merupakan program prioritas Presiden Jokowi. Persoalan ini sudah lama dibahas Presiden beserta jajaran terkait dalam rapat terbatas yang digelar 16 Juli 2019 lalu.

Oleh sebab itu, Jokowi menyampaikan bahwa semangat pembangunan fasilitas tersebut bukan perkara penyediaan listrik, melainkan pembenahan masalah perkotaan, yaitu manajemen sampah. 

“(PSEL) bukan hanya soal mengubah sampah menjadi listrik, melainkan juga kebersihan kota. Sampah yang ditumpuk bisa menimbulkan pencemaran berupa limbah lindi saat terjadi hujan. Ini masalah bagi kita semua,” jelas Jokowi.

Jokowi mengecek sistem PSEL Benowo Surabaya, Kamis (6/5/2021). Dok. Humas Pemkot Surabaya Jokowi mengecek sistem PSEL Benowo Surabaya, Kamis (6/5/2021).

Sementara itu, Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi yang juga turut hadir menjelaskan bahwa TPA Benowo sudah beroperasi sejak 2001. Saat itu, volume sampah yang masuk dan bisa diolah di TPA seluas 37,4 hektare ini mencapai 1.600 ton per hari.

"Pemkot ingin melakukan pengolahan sampah secara efektif. Jadi, kami tingkatkan peran serta masyarakat dengan gerakan 3R (reduce, reuse, dan recycle). Cara ini ternyata dapat mengurangi sampah yang masuk ke TPA Benowo sampai 20 persen,” kata Eri.

Meski demikian, pihaknya masih ingin mengelola sampah dengan lebih efektif. Untuk mewujudkannya, Pemkot Surabaya bekerja sama dengan PT Sumber Organik dalam pembangunan PSEL Benowo.

Selain keterlibatan pihak swasta, Eri juga mengatakan bahwa pembangunan PSEL Benowo tak lepas dari peran mantan Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini.

“Kami juga mengucapkan terima kasih kepada Ibu Tri Rismaharini, Beliau telah membimbing dan terus berjuang tanpa mengenal lelah sehingga PSEL Benowo bisa berdiri dan beroperasi hari ini," tutur Eri.