Advertorial

Zat Besi Dibutuhkan di Segala Usia, Ini Alasannya

Kompas.com - 07/06/2021, 19:17 WIB

KOMPAS.com - Apakah Anda sering merasa lelah? Pernahkah Anda cepat terengah-engah dan kehabisan napas saat naik tangga padahal tubuh sedang fit?

Jika iya, mungkin Anda mengalami gejala kekurangan zat besi. Ini biasa terjadi, terutama pada perempuan.

Penting diketahui bahwa zat besi merupakan nutrisi yang sangat dibutuhkan oleh tubuh. Keberadaannya bahkan sangat esensial, karena zat besi memproduksi hemoglobin dalam sumsum tulang belakang yang berfungsi mengalirkan oksigen ke seluruh tubuh. Oksigen ini diperlukan agar otot dan organ dapat berfungsi dengan baik.

Adapun asupan oksigen yang cukup bisa membuat tubuh tetap aktif dan membantu agar tidak mudah lelah, lemas, pusing dan napas menjadi lebih pendek saat beraktivitas.

Jngan siepelekan. Sebab, kelelahan bisa menyebabkan hal yang lebih besar. Contohnya, menurunnya daya tahan tubuh yang menyebabkan kondisi anemia defisiensi zat besi dan berdampak pada organ tubuh lain.

Pada ibu hamil, kekurangan zat besi bahkan berakibat pada kelahiran bayi lebih awal atau ukuran bayi yang lebih kecil dari normal. Zat besi juga penting untuk menjaga kesehatan kulit, rambut, dan kuku.

Kebutuhan zat besi

Bayi dan balita membutuhkan lebih banyak zat besi dibandingkan orang dewasa. Ini karena tubuh mereka bertumbuh dengan sangat cepat.

Di masa kanak-kanak dari umur 4 sampai 8 tahun, anak perempuan dan laki-laki butuh asupan zat besi yang sama, yaitu 10 miligram (mg) per hari.

Pada usia 9 sampai 13 tahun, anak-anak butuh asupan sebanyak 8 mg per hari. Dimulai sejak masa remaja, kebutuhan zat besi perempuan meningkat dan jadi lebih banyak dari kebutuhan pria.

Sebab, perempuan kehilangan darah setiap bulannya saat menstruasi. Sejak kisaran usia 19 hingga 50 tahun, perempuan membutuhkan zat besi sebanyak 18 mg per hari. Sementara pria dewasa membutuhkan zat besi yang sama seperti masa remajanya, yaitu 8 mg per hari.

Lalu setelah masuk masa menopause, kebutuhan zat besi wanita menurun menjadi sama dengan pria, yaitu 8 mg per hari.

Tanda-tanda kekurangan zat besi

Banyak orang tidak menyadari kalau mereka mengalami kurang darah sampai mereka mengalami beberapa gejala berikut ini. Karenanya, waspada jika Anda mengalami hal berikut.

Pertama, gampang kehabisan nafas saat melakukan kegiatan normal. Lalu, detak jantung jadi lebih cepat.

Anda juga perlu waspada jika mengalami telapak tangan dan kaki dingin, kuku rapuh, rambut rontok, mudah timbul luka di sudut mulut, lidah terasa sakit, dan juga sulit menelan. Hal terakhir yang disebut dialami oleh orang yang kekurangan zat besi pada tahap yang cukup parah.

Jangan dianggap sepele jika Anda mudah lelah, terutama jika disertai dengan perubahan emosi yang cepat dan kepala pening. Ini juga merupakan tanda bahwa Anda kekurangan zat besi.

Jika zat besi dalam tubuh rendah, Anda bisa mengatur pola makan dan membantunya dengan konsumsi suplemen seperti Tonikum.

Tonikum adalah multivitamin, mineral dan zat besi untuk kesehatan keluarga yang aman dikonsumsi oleh segala usia mulai dari anak-anak dengan usia di atas 6 tahun, remaja, pria dan wanita dewasa, ibu hamil, hingga para lansia.

Sebagai informasi, Tonikum Bayer mengandung vitamin B1, B2, B3, B6, B12, zat besi, kalsium, mangan, dan zinc.

Dengan kandungan nutrisi yang lengkap, Anda bisa menghemat waktu dengan mengonsumsi 1 jenis suplemen saja untuk mendapatkan tubuh yang lebih sehat.

Suplemen penambah zat besi itu juga baik untuk memulihkan kondisi tubuh pada saat letih dan lesu. Cukup konsumsi satu kali sehari sesuai dosis, dan tubuh pun jadi lebih sehat.

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau