Kabar bappenas

Wujudkan Kemandirian Ekonomi di Destinasi Pariwisata Super Prioritas, Proyek ISED Berdayakan SDM di Lombok

Kompas.com - 10/06/2021, 16:33 WIB
Pelatihan keterampilan jasa kebugaran di Desa Bilebante yang diikuti oleh peserta perempuan. Keterlibatan semua pihak dalam pelatihan tersebut menunjukkan kolaborasi yang terintegrasi. DOK. Kementerian PPN/BappenasPelatihan keterampilan jasa kebugaran di Desa Bilebante yang diikuti oleh peserta perempuan. Keterlibatan semua pihak dalam pelatihan tersebut menunjukkan kolaborasi yang terintegrasi.

KOMPAS.com – Pulau Lombok merupakan salah satu destinasi wisata unggulan di Indonesia. Bahkan, Mandalika yang berada di Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat (NTB), dicanangkan oleh pemerintah sebagai salah satu dari 5 Destinasi Pariwisata Super Prioritas.

Berbagai event berskala internasional siap digelar di Mandalika, seperti balap sepeda L'Etape yang rencananya akan digelar pada September 2021, World Superbike pada November 2021, serta MotoGP pada Maret 2022.

Sebagai Kawasan Ekonomi Khusus (KEK), pengembangan Mandalika dilakukan dengan membangun 12.000 kamar hotel yang dilengkapi taman bermain dan marina.

Adapun proyek pembangunan tersebut bertujuan untuk menunjang keberadaan kompleks sirkuit kelas dunia dalam penyelenggaraan event internasional, seperti World Superbike dan MotoGP.

Potensi wisata di Pulau Lombok yang sangat besar juga terus dikembangkan. Sektor pariwisata di pulau ini dipercantik untuk menyambut kedatangan turis mancanegara dan lokal pada pagelaran event internasional.

Tidak hanya Mandalika, Kawasan Bilebante dan Sembalun yang masing-masing terletak di Lombok Tengah dan Lombok Timur, NTB, juga turut dikembangkan. Dua destinasi tersebut juga menawarkan kenyamanan wisata yang sayang jika dilewatkan oleh pengunjung.

Pengembangan sekaligus kebangkitan pariwisata di Pulau Lombok juga didukung oleh keinginan kuat warga Lombok untuk bangkit setelah dilanda gempa berulang kali.

Terima kasih telah membaca Kompas.com.
Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Tak heran, pemerintah pun menargetkan Pulau Lombok menjadi tuan rumah untuk 20 juta turis dan memasok lapangan kerja bagi 13 juta orang.

Untuk mengembangkan wisata di Pulau Lombok, masyarakat lokal, pemerintah daerah dan pusat, serta sektor swasta bekerja sama dengan menerapkan konsep pembangunan berkelanjutan yang merujuk pada Sustainable Development Goals(SDGs).

Hal tersebut juga dilakukan untuk mendorong Pulau Lombok sebagai destinasi wisata bertaraf internasional. Demi mewujudkan tujuan tersebut, diperlukan program pemberdayaan masyarakat lokal.

Pemberdayaan itu diharapkan juga menjadi jawaban atas permasalahan pengangguran di Pulau Lombok.

Untuk diketahui, angka pengangguran di NTB mencapai 3,3 persen pada 2018. Hal ini menjadi pekerjaan rumah bagi pemerintah daerah.

Mayoritas penganggur di sana didominasi oleh lulusan diploma dan sekolah menengah kejuruan (SMK). Fenomena ini menunjukkan tren ketidakcocokan kerja (mismatch) yang juga terjadi di level nasional.

Guna mengatasi angka pengangguran di NTB, pemerintah Indonesia dan Jerman menginisiasi proyek Inovasi dan Investasi untuk Pembangunan Ekonomi Berkelanjutan yang Inklusif atau Innovation and Investment for Inclusive Sustainable Economic Development (ISED).

Prioritas proyek ISED adalah pemberdayaan dan peningkatan kapasitas serta kompetensi penerima manfaat, khususnya masyarakat lokal. Di NTB, proyek ini berfokus pada promosi peluang kerja untuk dua sektor utama, yakni pariwisata berkelanjutan serta manufaktur pada subsektor makanan dan minuman.

Sebagai informasi, pihak Indonesia yang terlibat dalam program ISED adalah Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional (Kementerian PPN) atau Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas). Sementara dari Jerman, program dilakukan oleh Gesellschaft für Internationale Zusammenarbeit (GIZ).

ISED menggandeng Martha Tilaar Group (MTG) dan sejumlah pemangku kepentingan untuk menyiapkan warga di Desa Bilebante, Kabupaten Lombok Tengah, NTB, supaya siap dan terampil sebagai tuan rumah destinasi wisata.

Pengembangan bisnis inklusif

Salah satu strategi yang dilakukan untuk mewujudkan hal itu adalah memperluas industri wisata dengan sektor wisata kebugaran (wellness tourism).

Untuk diketahui, sektor wisata kebugaran juga dipilih pemerintah Indonesia sebagai salah satu sektor pilot untuk mempromosikan konsep bisnis inklusif.

Selain itu, wisata kebugaran juga menjadi salah satu jenis pariwisata yang akan dikembangkan dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2020-2024.

Pertimbangannya, jenis wisata itu memiliki potensi dalam meningkatkan daya saing pada sektor pariwisata di Indonesia dan mendorong pertumbuhan ekonomi bagi semua lapisan kepentingan.

Staf Ahli Bidang Hubungan Antar Lembaga Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi (Kemendes PDTT) Samsul Widodo mengatakan, salah satu destinasi wisata kebugaran yang ada di Pulau Lombok dapat dijumpai di Desa Bilebante.

Wisata kebugaran di Desa Bilebante menggunakan pendekatan whole of government (WoG) yang menekankan pada kerja terpadu antarpihak.

“Dengan kerangka semacam ini, publik, kelompok wisata, pemerintah desa, pemerintah daerah, dan swasta semuanya terlibat,” ujar Samsul dalam keterangan tertulis yang diterima Kompas.com, Kamis (10/6/2021).

Seperti diketahui, masing-masing pihak yang terlibat dalam pengembangan wisata di Desa Bilebante harus menandatangani nota kesepahaman untuk memberikan kontribusinya. Tujuannya, untuk memperluas potensi wisata desa dengan mengimplementasikan pendekatan bisnis inklusif.

Pendekatan bisnis inklusif tersebut turut melibatkan perusahaan yang menyediakan barang, jasa, dan bidang lainnya. Dengan pelibatan ini, orang-orang yang berada di dasar piramida ekonomi dapat menjadi bagian dari rantai bisnis inti perusahaan, baik sebagai pemasok, distributor, pengecer, maupun pelanggan.

Bisnis inklusif menggunakan pendekatan inovatif dengan menyertakan masyarakat berpenghasilan rendah dan komunitas marginal di sepanjang rantai nilai perusahaan demi keuntungan bersama.

Guna menjadikan Desa Bilebante sebagai desa wisata kebugaran, proyek ISED berkolaborasi dengan MTG untuk menyediakan pelatihan bagi masyarakat desa, khususnya untuk kalangan perempuan.

Sejumlah pelatihan diberikan, di antaranya pengembangan keterampilan sebagai terapis kebugaran, dan penanaman kebun herbal. Masyarakat lokal juga dilatih untuk bisa mengelola Bilebante. Dengan demikian, desa ini dapat menjadi proyek percontohan untuk usaha kebugaran yang dapat dijalankan sendiri oleh warga lokal.

Selain MTG, ISED juga melibatkan pihak swasta lain serta mitra dari pemerintahan dalam pendekatan bisnis inklusif.

Berbagai pihak yang terlibat dalam proyek ISED adalah Panorama Group, Yayasan Allianz, Santika Hotel Mataram, Pemerintah Provinsi NTB, Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) NTB, dan Pemerintah Desa Bilebante. 

Jika MTG fokus pada wisata kebugaran, Yayasan Allianz berkontribusi pada pemberian pengetahuan mengenai pengelolaan anggaran dan pendapatan.

Kemudian, Panorama Group dan Hotel Santika Mataram membuka tujuan wisata bersama dan peluang kegiatan wisata, seperti homestay

Sementara itu, pemerintah desa menyediakan ruang dan peralatan pelatihan, lahan sebagai lokasi kebun herbal, serta menyiapkan lokasi yang kelak akan jadi sentral wisata kebugaran. 

Mayoritas peserta pelatihan tersebut adalah anggota pembinaan kesejahteraan keluarga (PKK) setempat yang didominasi oleh perempuan.

Kepala Desa Bilebante Rakyatuliwa’uddin berharap, pelatihan wirausaha tersebut dapat membuka peluang usaha bagi masyarakat Desa Bilebante di tengah ledakan bisnis wirausaha dalam beberapa tahun terakhir.

“Semoga desa kami mempunyai masyarakat yang terampil, terutama di bidang usaha yang menjadi pendukung sektor wisata di Bilebante,” ujar Rakyatuliwa’uddin.

Produk kopi unggulan

Selain Desa Bilebante, proyek ISED juga memberdayakan petani dan pemilik kedai kopi di Desa Sajang, Kecamatan Sembalun, Lombok Timur, untuk merealisasikan potensi produksi kopi melalui pendekatan bisnis inklusif.

Sebagai informasi, Desa Sajang yang terletak di lereng Gunung Rinjani terkenal dengan produksi buah dan sayuran berkualitas baik.

Pada awal 1960-an, desa tersebut terkenal karena tanahnya subur sehingga mampu menghasilkan kopi arabika dan robusta dengan kualitas baik di NTB. Saat itu, warga di Desa Sajang menanam kopi melalui program pertanian dan perkebunan sejenis kredit usaha tani (KUT).

Namun, pada akhir 1960-an, produksi kopi di Desa Sajang mulai terbengkalai akibat petani tidak mampu membayar kredit usaha tani. Akhirnya, warga mengganti kredit ini dengan memberikan lahan kopi kepada negara. Dari situlah, usaha kopi meredup dan penduduk beralih menjadi petani sayuran.

Kini, produksi kopi di Desa Sajang kembali menggeliat. Melalui proyek ISED, produk kopi lokal Sembalun mulai dijadikan produk unggulan dengan dukungan dari pemerintah dan kalangan swasta.

Berbagai pihak yang mendukung pemberdayaan di Desa Sajang adalah Anomali Coffee, Sustainable Coffee Platform Indonesia (SCOPI), Kemendes PDTT, Kementerian PPN/Bappenas, dan Pemerintah Kecamatan Sembalun.

Desa Sembalun memiliki potensi untuk menjalankan model bisnis inklusif. Untuk mewujudkan hal itu, Proyek ISED melakukan pelatihan barista bagi pemilik warung kopi serta pelatihan praktik pertanian yang baik untuk petani kopi. DOK. Kementerian PPN/Bappenas Desa Sembalun memiliki potensi untuk menjalankan model bisnis inklusif. Untuk mewujudkan hal itu, Proyek ISED melakukan pelatihan barista bagi pemilik warung kopi serta pelatihan praktik pertanian yang baik untuk petani kopi.

Pada 4 September 2019, semua pihak yang terlibat dalam pemberdayaan meneken perjanjian sebagai tanda peresmian inisiatif pelatihan untuk petani dan pemilik kedai kopi lokal.

Lebih dari 35 petani dan pengusaha kafe hadir dalam pelatihan. Adapun target pelatihan tersebut adalah mendorong promosi bisnis peserta melalui pelatihan barista dan implementasi prinsip praktik pertanian baik atau good agricultural practices (GAP).

Sebagai informasi, menurut Organisasi Pangan dan Pertanian PBB (FAO), peran GAP adalah memberikan acuan tentang sistem produksi berkelanjutan yang aman bagi lingkungan, memberikan hasil panen berkualitas tinggi, menjaga kelangsungan keamanan pangan, serta peningkatan standar hidup bagi petani dan keluarganya.

Deputi Bidang Ekonomi Kementerian PPN/Bappenas Amalia Adininggar Widyasanti mengatakan, pembinaan proyek ISED sangat berdampak untuk masyarakat lokal, baik di Bilebante maupun di Sembaluni. Mereka pun mampu menciptakan entitas bisnis yang mandiri dan terus bertumbuh.

Selanjutnya, masyarakat bisa mengembangkan bisnisnya tanpa pendampingan yang terus-menerus dari pihak lain.

“Kerja sama yang baik ini merupakan salah satu capaian terbaik proyek ISED. Para penerima manfaat dari Desa Bilebante dan Sembalun dibantu untuk dapat ditingkatkan kapasitasnya dalam menjalankan usaha secara inklusif,” ujar Amalia.

Saat ini, kopi Sembalun makin populer di kalangan penggemar kopi Tanah Air, bahkan mancanegara.

Sementara itu, Desa Bilebante menjadi daerah desa wisata percontohan di tingkat nasional karena masyarakatnya mampu mengembangkan dan memaksimalkan potensinya. Desa ini mampu memberikan dampak ekonomi yang signifikan dalam waktu kurang dari lima tahun.

Bila Anda sedang berlibur ke Pulau Lombok, jangan lupa untuk menjajal spa di Bilebante dan menyeruput kopi di Sembalun.