Advertorial

6 Rekomendasi Masjid Kental Akulturasi yang Cocok Jadi Destinasi Wisata Religi Pascapandemi

Kompas.com - 14/06/2021, 16:42 WIB
Masjid Gedhe Kauman Yogyakarta. Dok. SHUTTERSTOCKMasjid Gedhe Kauman Yogyakarta.

KOMPAS.com – Indonesia dikenal sebagai negara yang memiliki beragam suku, budaya, agama, dan bahasa. Keberagaman ini sering kali bercampur atau berakulturasi sehingga menciptakan keunikan tersendiri. Keunikan ini pun menjadi nilai tambah bagi Indonesia yang dapat menarik pelancong.

Hasil akulturasi tersebut dapat ditemukan dalam berbagai hal. Salah satunya pada arsitektur bangunan, seperti masjid.

Sebagai rumah ibadah umat Islam, tak jarang unsur agama atau budaya lain turut menghiasi bangunan masjid. Jadi, selain tempat ibadah, masjid dengan arsitektur khas tersebut sering kali dijadikan destinasi wisata religi.

Ada beberapa masjid yang kental akan akulturasi budaya dan cocok dijadikan destinasi wisata religi. Setelah pandemi Covid-19 berakhir, kamu juga bisa mengunjunginya. Simak ulasan berikut.

  1.  Masjid Menara Kudus

Masjid Menara Kudus atau yang juga dikenal dengan nama Masjid Al Aqsha terletak di Kudus, Jawa Tengah. Di dalam masjid yang dibangun pada 1549 ini terdapat makam Sunan Kudus. Oleh karenanya, masjid ini kerap dijadikan tujuan ziarah bagi para wisatawan religi.

Selain kental akan budaya Jawa, Masjid Kudus juga menampilkan perpaduan agama Islam dengan corak kebudayaan Hindu. Hal ini terlihat pada sentuhan desain di menara dan gapura masjid tersebut.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

  1. Masjid Cheng Ho Surabaya

Masjid Cheng Ho terletak di Jalan Gading, Ketabang, Genteng, Surabaya. Masjid ini dibangun sebagai bentuk penghormatan kepada penjelajah asal China, yakni Laksamana Cheng Ho yang diyakini memperkenalkan agama Islam kepada bangsa Indonesia pada 1405 hingga 1433.

Oleh sebab itu, Masjid Cheng Ho tidak hanya menampilkan budaya Jawa, tetapi juga kental akan nuansa Tionghoa dengan dominasi warna merah, hijau, dan kuning.

Masjid yang terletak di sebelah utara Balai Kota Surabaya itu memiliki bangunan utama dengan panjang 11 meter dan lebar 9 meter.

Rupanya, angka tersebut memiliki arti tersendiri. Angka 11 merupakan luas Kabah saat awal dibangun, sedangkan angka 9 melambangkan jumlah wali yang menyebarkan ajaran Islam di Jawa atau Wali Sanga.

Karena keunikannya, Masjid Cheng Ho kerap dijadikan tujuan wisata religi di Surabaya. Masjid yang dibangun oleh arsitek Ir Abdul Aziz pada 2002 ini mampu menampung 200 jemaah.

  1. Masjid Gedhe Kauman Yogyakarta

Masjid yang terletak di dalam kawasan Keraton, tepatnya di barat Alun-Alun Utara Yogyakarta ini memiliki arsitektur khas Jawa.

Bangunan utama masjid itu berbentuk tajug lambang teplok dengan atap berbentuk tumpang tiga. Bentuk ini merupakan hasil akulturasi antara filosofi Jawa dengan nilai-nilai ajaran Islam, yakni hakikat, makrifat, dan syariat.

  1. Masjid Bata Merah Panjunan Cirebon

Diberitakan Kompas.com, Rabu (15/5/2019), Masjid Bata Merah awalnya bernama Masjid Al Athya. Namun, karena dibangun hanya dengan bata merah serta kayu sebagai penopang dan atapnya, masjid ini kemudian dikenal dengan nama Masjid Bata Merah.

Filolog Cirebon Raden Opan Safari Hasyim mengatakan, berdasarkan sumber sejarah, Masjid Bata Merah dibangun sekitar 1470 oleh Syekh Abdurrahman Al Baghdadi atau Pangeran Panjunan bersama warga sekitar.

Para wali yang dulu membangun masjid tersebut, kata Raden Opan, juga memasang keramik hadiah pemberian dari China. Mereka memasangkan ornamen dengan corak naga, kerajaan atau dinasti, pohon, dan bunga-bunga hampir di seluruh dinding masjid.

  1. Masjid Agung Banten

Masjid Agung Banten terletak di Desa Banten Lama, sekitar 10 kilometer (km) sebelah utara Kota Serang. Masjid ini dibangun Sultan Maulana Hasanuddin antara 1552-1570.

Masjid Agung Banten menjadi salah satu bangunan bersejarah dalam perkembangan Islam di Provinsi Banten dan ditetapkan sebagai bangunan cagar budaya yang dilindungi.

Bangunan tersebut memadukan unsur Jawa Kuno dan China. Hal ini dapat dilihat dari serambi yang lapang dan atap bertingkat lima, seperti pagoda China. Namun, sumber lain mengatakan bahwa lima tingkatan pada atap masjid merupakan akulturasi budaya Jawa karena menyerupai salah satu makanan khas, tumpeng.

Selain itu, Masjid Agung Banten juga dipengaruhi oleh arsitektur Belanda. Hal ini terlihat dari bentuk jendelanya yang berukuran besar khas budaya Eropa.

  1. Masjid Raya Sumatera Barat

Masjid Raya Sumatera Barat merupakan masjid modern tanpa kubah yang dibangun di Kota Padang, Sumatera Barat (Sumbar). Masjid ini digadang-gadang sebagai masjid terbesar di Sumbar dan mampu menampung sebanyak 5.000-6.000 jemaah.

Masjid Raya Sumatera Barat didesain dengan akulturasi arsitektur Islam dan budaya Minang. Hal ini dapat terlihat dari bentuk atap yang semakin lancip ke atas, menyerupai rumah adat khas Sumbar, Rumah Gadang. Selain itu, eksterior dinding masjid juga dihiasi dengan kaligrafi dan ukiran khas Minang.

Itulah enam rekomendasi masjid yang bisa kamu kunjungi untuk berwisata religi. Di situasi seperti saat ini, tempat ibadah, termasuk beberapa masjid tersebut masih ditutup demi mencegah penyebaran virus Covid-19.

Meski demikian, kamu masih bisa beribadah di mana saja. Nah, agar ibadah berjalan lancar, kamu bisa mengecek jadwal sholat melalui Tokopedia Salam.

Sebagai informasi, Tokopedia Salam merupakan bagian dari marketplace Tokopedia yang hadir untuk memenuhi segala kebutuhan umat Islam. Selain jadwal sholat, Tokopedia Salam juga dilengkapi fitur baca Al-Quran online.

Selain itu, kamu juga bisa bersedekah, membayar zakat, serta melakukan pembelian reksa dana syariah dan e-gold.

Di Tokopedia Salam, kamu juga bisa menemukan berbagai produk kebutuhan rumah tangga bersertifikat halal, fesyen muslim, perlengkapan ibadah, dan buku agama Islam.

Jadi, sembari menunggu situasi kembali aman setelah pandemi, yuk tetap tingkatkan ibadah kamu dengan dukungan layanan dari Tokopedia Salam.