Advertorial

Menjadikan Media Sosial Sebagai Alat Pendukung Pengembangan Diri

Kompas.com - 20/06/2021, 17:32 WIB

KOMPAS.com - Dalam rangka mendukung program Literasi Digital Nasional, Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) bekerja sama dengan Jaringan Pegiat Literasi Digital (Japelidi) dan Siberkreasi Gerakan Nasional Literasi Digital untuk meluncurkan Seri Modul Literasi Digital.

Melalui seri modul tersebut, masyarakat Indonesia diharapkan dapat mengikuti perkembangan dunia digital secara baik, produktif, dan sesuai nilai-nilai yang dijunjung tinggi dalam kehidupan berbudaya, berbangsa, dan bernegara.

Untuk menyosialisasikan dan pendalaman Seri Modul Literasi Digital, Kominfo menggelar seri webinar Indonesia #MakinCakapDigital yang menjangkau 514 kabupaten dan kota di seluruh Indonesia.

Salah satu seri webinar bertajuk “Aman dan Nyaman dalam Ber-Media Sosial”, digelar khusus untuk 14 kabupaten dan kota di wilayah DKI Jakarta serta Banten, Kamis (17/6/2021).

Pada webinar tersebut, Kominfo mengundang sejumlah narasumber dari berbagai bidang keahlian dan profesi, antara lain Dosen Universitas Sriwijaya dan perwakilan Indonesian Association for Public Administration (IAPA) Nurly Meilinda, SIKom, MIKom, Redaktur Langgar.co Abdul Rohim, Founder dan CEO Haho.co.id Antonius Andy Permana, dan perwakilan Kaizen Room Septa Dinata AS, MSi.

Tema yang dibahas oleh masing-masing narasumber meliputi digital skills, digital ethics, digital culture, dan digital safety.

Antonius Andy Permana mendapat kesempatan untuk membuka webinar tersebut. Ia menyampaikan, pengguna media digital di Indonesia rata-rata menghabiskan tiga jam untuk bermedia sosial.

“Media sosial (medsos) yang paling sering dipakai adalah Facebook, Twitter, dan YouTube. Sementara, posisi keempat diisi TikTok yang sering jadi ajang curhat,” kata Antonius dalam keterangan tertulis yang diterima Kompas.com Minggu (20/6/2021).

Lebih lanjut Antonis menjelaskan, ruang digital dapat digunakan sebagai media pembelajaran yang mudah, murah, dan tidak terbatas. Untuk itu, ruang digital perlu dimanfaatkan sebaik mungkin dan jangan sampai digunakan untuk hal yang bersifat negatif.

Sementara itu, Nurly Meilinda dalam pemaparannya menjelaskan, teknologi mempermudah segala aspek kehidupan manusia. Menurutnya, saat ini, etika dalam berteknologi sangat diperlukan.

“Jangan sampai kemajuan teknologi menggeser budaya kita ke arah yang kurang baik. Untuk itu, kita harus tetap menjaga nilai-nilai budaya Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika,” jelas Nurly.

Ia menambahkan, medsos memiliki banyak manfaat positif, seperti dalam hal pengembangan bisnis dan memudahkan pencarian informasi.

“Jadikan media sosial sebagai alat yang mendukung pengembangan diri,” tambahnya.

Narasumber ketiga, Abdul Rohim, menyampaikan bahwa medsos adalah suatu bagian realitas baru yang tidak terlepas dengan kebutuhan hidup manusia pada saat ini.

“Budaya adalah proses penyatuan kreativitas kita sebagai manusia dalam kearifan sosial,” kata Abdul Rohim.

Abdul Rohim menambahkan, terdapat beberapa tantangan yang perlu diperhatikan pengguna media digital dalam bermedia sosial, seperti hilangnya etika komunikasi, adanya ekosistem digital yang semakin menjauhkan pengguna dengan realitas, dan ancaman hilangnya data privasi saat pengguna tidak memahami pentingnya data pribadi.


Sementara itu, Septa Dinata sebagai narasumber terakhir menjelaskan mengenai perkembangan kemajuan teknologi informasi yang banyak mengubah aktivitas sehari-hari.

“Hadirnya media digital memungkinkan manusia berkomunikasi secara langsung tanpa ada lagi batasan waktu dan tempat. Kecerdasan dalam bermedia digital dilengkapi dengan fasilitas digital tools akan membuat kita bisa memperoleh informasi yang bagus, menambah pengetahuan baru, dan membuat komunikasi jadi lebih efektif,” beber Septa.

Selain itu, lanjut Septa, semua hal yang terdapat di media digital berfungsi untuk mempermudah dan membuat kehidupan manusia menjadi lebih baik.

Saat sesi tanya jawab, ada salah satu peserta webinar menanyakan cara mengatasi penyebaran informasi palsu atau hoaks dan konten sensitif yang dapat dilihat oleh anak bawah umur.

 “Hal itu dapat kita lakukan dengan mengembangkan nilai dasar-dasar dalam bermedia digital. Keluarga adalah kunci komunikasi dan pembelajaran bagi anak setelah sekolah,” jawab Septa.

Seri webinar Indonesia #MakinCakapDigital terbuka bagi siapa saja yang ingin menambah wawasan dan pengetahuan mengenai literasi digital. Karenanya, Kominfo mengharapkan partisipasi aktif dari seluruh lapisan masyarakat.

Presiden Joko Widodo (Jokowi) menyampaikan, literasi digital adalah kerja besar dan pemerintah tidak bisa bekerja sendirian.

“Perlu dukungan seluruh komponen bangsa agar semakin banyak masyarakat yang melek digital,” kata Jokowi.

Ia juga memberikan apresiasi pada seluruh pihak yang terlibat dalam program Literasi Digital Nasional.

“Saya harap gerakan ini menggelinding dan terus membesar, bisa mendorong berbagai inisiatif di tempat lain, dan melakukan kerja-kerja konkrit di tengah masyarakat agar makin cakap memanfaatkan internet untuk kegiatan edukatif dan produktif,” ujar Jokowi.

Rangkaian webinar Indonesia #MakinCakapDigital akan terus diselenggarakan hingga akhir 2021.

Webinar tersebut akan menghadirkan berbagai macam tema yang dapat mendukung kesiapan masyarakat Indonesia dalam bermedia digital secara baik dan etis.

Para peserta juga akan mendapatkan e-certificate atas keikutsertaan webinar. Untuk info lebih lanjut, silakan pantau akun Instagram @siberkreasi.dkibanten.

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau