Advertorial

Kominfo Ajak Masyarakat Saling Menghargai di Ranah Digital

Kompas.com - 20/06/2021, 19:31 WIB
Ilustrasi penggunaan media digital di kalangan masyarakat Dok. ShutterstockIlustrasi penggunaan media digital di kalangan masyarakat

KOMPAS.com – Ketika berbicara literasi digital, banyak masyarakat mendefinisikan literasi digital sebagai suatu kemampuan dalam menggunakan internet dan media digital. Namun, definisi ini tidak lengkap.

Literasi digital merupakan sebuah konsep dan praktik yang tidak hanya menitikberatkan pada penguasaan teknologi atau alat, tetapi juga mampu menggunakan media digital dengan penuh tanggung jawab.

Dalam rangka mendukung Program Literasi Digital Nasional, Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) bekerja sama dengan Jaringan Pegiat Literasi Digital (Japelidi) dan Siberkreasi Gerakan Nasional Literasi Digital meluncurkan Seri Modul Literasi Digital.

Upaya tersebut selaras dengan pernyataan Presiden Joko Widodo yang menyebut pentingnya kesiapan masyarakat dalam menggunakan infrastruktur digital.

“Infrastruktur digital tidak berdiri sendiri. Saat jaringan internet sudah tersedia, harus diikuti kesiapan-kesiapan penggunanya agar manfaat positif internet dapat dioptimalkan untuk membuat masyarakat semakin cerdas dan produktif,” ujarnya dalam keterangan tertulis yang diterima Kompas.com, Minggu (20/6/2021).

Adapun modul tersebut berfokus pada empat tema besar, yakni Cakap Bermedia Digital, Budaya Bermedia Digital, Etis Bermedia Digital, dan Aman Bermedia Digital.

Melalui seri modul tersebut, masyarakat Indonesia diharapkan dapat mengikuti perkembangan dunia digital secara baik, produktif, dan sesuai nilai-nilai yang dijunjung tinggi dalam kehidupan berbudaya, berbangsa, dan bernegara.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Sosialisasi dan pendalaman Seri Modul Literasi Digital dikemas dalam rangkaian webinar bertajuk “Indonesia #MakinCakapDigital”. Webinar ini ditargetkan mampu menjangkau sebanyak 514 Kabupaten/Kota di seluruh Indonesia.

Kegiatan sosialisasi sudah mulai dilakukan di wilayah DKI Jakarta dan Banten. Salah satunya melalui gelaran webinar bertajuk “Menghormati Perbedaan di Ruang Digital” yang diselenggarakan pada Kamis(17/6/2021) pukul 15.00 -17.30 WIB. Acara ini dihadiri oleh perwakilan 14 kabupaten/kota dari kedua provinsi.

Pada webinar tersebut, Kominfo mengundang narasumber dari berbagai bidang keahlian dan profesi, di antaranya wartawan senior Teguh Setiawan, content writer Luqman Hakim, serta perwakilan Kaizen Room Ilham Faris dan Hayuning Sumbadra.

Hadirkan berbagai tema inspiratif

Guna memberikan perspektif mendalam, masing-masing narasumber menyampaikan tema seputar digital skills, digital ethics, digital culture, dan digital safety.

Pada sesi pembuka, Ilham Faris menjelaskan pentingnya memegang ideologi pancasila di tengah masifnya teknologi digital. Menurutnya, kehadiran teknologi ibarat pedang bermata dua yang mampu memecah keberagaman.

“Di zaman sekarang, teknologi digital semakin tinggi. Sekarang sudah ada teknologi handphone, internet, dan gadget lain yang 20 tahun lalu belum ada. Inilah perkembangan zaman. Namun, hal ini bisa berpotensi tidak baik dengan menjauhkan kita dari nilai Pancasila,” ujar Ilham.

Untuk itu, Ilham mengimbau agar masyarakat terus berpegang teguh dengan Pancasila guna mencegah perpecahan.

“(Sebab), Pancasila merupakan pemersatu yang bisa diandalkan untuk menjaga keberagaman kita,” lanjut Ilham.

Selain itu, Ilham juga tidak lupa mengingatkan masyarakat untuk mengadopsi digital skills, terutama dalam berinteraksi di ranah digital. 

Hal senada turut disampaikan Teguh Setiawan. Menurutnya, ketika berada di ranah digital, kontrol diri dan saling menghargai merupakan salah satu bentuk etika yang wajib diterapkan.

“Saat berinteraksi di ranah digital, kita tidak mengetahui bagaimana mimik wajah orang yang melakukan hate speech, apakah dia hanya bercanda atau tidak,” ujar Teguh.

Dengan kondisi tersebut, lanjut Teguh, penting bagi masyarakat untuk menghargai perbedaan dan saling menghormati satu sama lain.

“Menghormati perbedaan adalah bentuk toleransi, yaitu kesabaran atau menahan diri, pandangan, pendapat, pemikiran dan kepercayaan kepada sesama. Mulailah dari diri kita sendiri dalam menghormati segala perbedaan,” tambahnya.

Terkait kontrol diri, Luqman Hakim dalam pemaparannya menyebut, keberagaman di ranah digital merupakan salah satu sendi yang mampu memperkuat bangsa. Menurutnya, tidak ada dinamika jika hanya ada keseragaman.

“Kita sebagai bangsa Indonesia yang aktif di ranah digital harus bisa menerima perbedaan, dan bahkan merayakan keragaman yang ada. Sesuatu yang seragam lebih mudah roboh karena tidak ada dinamika yang menjadi pembelajaran,” ujarnya.

Mengingat maraknya isu kontroversi di ranah digital, Hayuning Sumbadra menyebut, akan lebih baik jika masyarakat lebih bijak dalam membagi kehidupan pribadi di media digital. 

Ia juga mengajak masyarakat untuk membuat batasan akses data di platform sosial serta perangkat lunak untuk melindungi data pribadi.

”Kita perlu menjaga keamanan kita di ranah digital. Misalnya, dengan membuat batasan akses ke data pada orang–orang yang baru saja kita temui, melakukan proteksi perangkat lunak seperti melakukan back-up data, memasang antivirus, enkripsi full disk, shredder, dan two-factor authentication,” ujar Hayuning.

Dalam sesi tanya jawab, terdapat peserta yang menanyakan tentang cara mengedukasi orangtua agar tidak terjebak dengan berita hoaks. Menurut Lukman, ada baiknya generasi muda menyampaikan dan meluruskan informasi tersebut dengan penyampaian yang baik. Dengan begitu, orangtua dapat lebih mudah menerima informasi tanpa melukai perasaan.

“Harus diingat, jangan sampai adanya permasalahan ini membuat kita bertengkar dengan orangtua. Sebagai generasi sekarang, kita bisa lebih bijak dalam menyampaikan (informasi yang benar) kepada mereka,” kata Lukman.

Dukungan berbagai pihak

Presiden Joko Widodo mengatakan, kesadaran akan literasi digital merupakan pekerjaan besar bagi pemerintah. Untuk itu, diperlukan kerja sama dan dukungan dari banyak pihak agar masyarakat dapat memahami akan pentingnya kesadaran digital.

“Literasi digital adalah kerja besar. Pemerintah tidak bisa bekerja sendirian. Perlu dukungan seluruh komponen bangsa agar semakin banyak masyarakat yang melek digital,” ujarnya.

Sebagai informasi, seri webinar Indonesia #MakinCakapDigital terbuka bagi siapa saja yang ingin menambah wawasan dan pengetahuan mengenai literasi digital. Rangkaian webinar akan terus diselenggarakan hingga akhir 2021, dengan berbagai macam tema.

Bagi peserta yang mendaftarkan diri dan mengikuti rangkaian acara hingga selesai, Kominfo akan memberikan e-certificate sebagai bukti keikutsertaan. Untuk info lebih lanjut, silakan pantau akun Instagram @siberkreasi.dkibanten.