Advertorial

Demi Kembangkan UMKM Indonesia, Generasi Muda Harus Jadi Pelaku, Bukan Penonton

Kompas.com - 23/06/2021, 19:06 WIB
Ilustrasi UMKM. Dok. SHUTTERSTOCKIlustrasi UMKM.

KOMPAS.com – Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) menggelar seri webinar Indonesia #MakinCakapDigital dengan tema “Literasi Digital untuk Pengembangan UMKM” yang diselenggarakan secara khusus untuk 14 kabupaten dan kota di wilayah DKI Jakarta dan Banten, Senin (21/6/2021).

Webinar tersebut merupakan bagian dari program sosialisasi dan pendalaman Seri Modul Literasi Digital yang menjangkau 514 kabupaten dan kota di seluruh Indonesia.

Adapun Seri Modul Literasi Digital disusun atas kerja sama Kominfo dengan Jaringan Pegiat Literasi Digital (Japelidi) dan Siberkreasi Gerakan Nasional Literasi Digital.

Dalam seri webinar itu, Kominfo mengundang narasumber dari berbagai bidang keahlian serta profesi yang membahas mengenai digital skills, digital ethics, digital culture, dan digital safety.

Keempat narasumber tersebut adalah Managing Director Indoplus Communication Edy Budiyarso serta praktisi digital marketing dan Founder IStar Digital Marketing Centre Isharshono.

Kemudian, ada sustainable finance specialist Dia Mawesti serta Dosen Universitas Ngurah Rai dan anggota Indonesian Association for Public Administration (IAPA) Dr Putu Eka Trisna Dewi.

Dalam webinar tersebut, Edy Budiarso menjelaskan, Indonesia merupakan pasar digital terbesar di kawasan Asia Tenggara.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Oleh sebab itu, ia berpesan agar generasi muda menjadi tenaga kerja yang berketerampilan khusus di bidang teknologi. Dengan pemahaman internet of things (IoT) dan digital culture yang baik, generasi muda dapat menjadi pilar dasar ekosistem inovasi ekonomi digital.

“Generasi muda harus produktif dan menjadi pelaku (dalam ekosistem inovasi ekonomi digital). Jangan hanya jadi penonton dan penikmat sehingga malah konsumtif,” ujar Edy dalam siaran pers yang diterima Kompas.com, Rabu (23/6/2021).

Agar bisa produktif, Edy mengajak generasi muda untuk mengetahui passion dalam diri dan tidak takut gagal untuk mengembangkannya. Pasalnya, dari passion, potensi bisnis bisa digali.

Know what is your passion, know when to take risk. Berani memulai dan jangan takut gagal. Sesuatu yang besar berasal dari langkah kaki awal,” tuturnya.

Terlebih, pemerintah berkomitmen untuk memajukan sektor ekonomi menengah ke bawah guna pembangunan ekonomi inklusi.

Dalam situasi pandemi Covid-19 seperti saat ini, komitmen pemerintah diwujudkan melalui program insentif bagi usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) yang mencapai Rp 15,38 triliun pada 2021. Insentif ini disalurkan kepada 12 juta pelaku UMKM.

Peluang berkembang di era digital dapat diperkuat melalui digital marketing. Meski begitu, Isharshono menjelaskan, digital marketing tidak bisa sembarangan dilakukan. Diperlukan riset yang kuat sebagai fondasinya.

Dengan riset yang kuat, pelaku usaha akan memahami tren pasar. Hal ini akan membantu meningkatkan omzet usaha, terutama di masa pandemi.

“Jumlah pengguna internet di Indonesia terbilang banyak. Semua produk dan jasa bisa ditawarkan secara online kepada mereka,” kata Isharshono.

Lebih lanjut, Isharshono menjelaskan, ada beberapa platform riset yang bisa digunakan, yakni Google Suggestion, Google Keyword Planner, Ubersuggest, dan Google Trend.

Selain itu, pelaku usaha juga dapat memanfaatkan media sosial, seperti Facebook, Twitter, Linkedin, Instagram, Snapchat, dan Youtube.

Etika bisnis digital

Hal lain yang perlu dimiliki oleh generasi muda dalam berbisnis digital adalah etika bisnis. Dia Mawesti mengatakan, prinsip etika bisnis, seperti kejujuran, keadilan, serta saling menguntungkan, harus dijalankan agar bisnis bisa maju dan berdaya saing.

Kemudian, lanjut Dia, para pelaku usaha juga harus memperhatikan aspek etika bisnis yang mencakup tanggung jawab sosial, keadilan dalam usaha, hak pekerja, perlindungan konsumen, dan iklan.

“Pelapak online harus menjaga etika dengan menjadi penjual barang atau jasa yang tidak melanggar hukum, membuat unggahan dengan kalimat yang sopan dan tidak mengandung suku, agama, ras, dan antargolongan (SARA), serta jujur mendeskripsikan informasi mengenai produk dan jasa yang dijual,” jelas Dia.

Senada dengan Dia, Putu Eka Trisna Dewi juga mengatakan bahwa sering terjadi kecurangan dalam transaksi jual-beli melalui internet (e-commerce). Kecurangan ini tidak hanya menyebabkan kerugian pada konsumen, tetapi juga pelaku usaha.

Ilustrasi e-commerce.Dok. SHUTTERSTOCK Ilustrasi e-commerce.

Dewi mengatakan, pemanfaatan platform e-commerce meningkat tajam sejak pandemi. Oleh sebab itu, persaingan antarpelaku usaha tidak terhindarkan.

“Hal itu kemudian memunculkan praktik usaha tidak sehat, misalnya predatory pricing,” ujar Dewi.

Lebih lanjut, Dewi menjelaskan bahwa predatory pricing adalah istilah perdagangan yang merujuk pada praktik permainan harga. Hal ini terjadi ketika produsen, distributor, atau importir sengaja menjual produk dengan harga terlampau murah dibanding produk sejenis dengan tujuan mematikan pesaingnya.

Para peserta webinar tampak antusias dengan paparan yang disampaikan keempat narasumber. Hal ini terlihat saat sesi tanya-jawab.

Salah satu peserta menanyakan tentang peran literasi digital dalam membantu penjual barang dengan produktif dan inovatif di tengah situasi pandemi Covid-19. Pertanyaan ini dijawab Isharshono dengan antusias pula.

“Hal pertama yang harus dilakukan adalah menentukan ide atau produk yang akan dijual. Kemudian, tentukan strategi penjualan dan platform yang ingin digunakan,” kata Isharshono.

Isharshono menambahkan, jika produk yang ditawarkan berupa jasa, pelaku usaha harus memiliki pemahaman dan penguasaan mendalam mengenai produk tersebut atau product knowledge.

Sebagai informasi, Seri Modul Literasi Digital merupakan dukungan Kominfo terhadap Program Literasi Digital Nasional. Seri modul ini berfokus pada empat tema besar, yakni Cakap Bermedia Digital, Budaya Bermedia Digital, Etis Bermedia Digital, dan Aman Bermedia Digital.

Presiden Joko Widodo mengatakan bahwa literasi digital merupakan kerja besar. Oleh sebab itu, pemerintah tidak bisa bekerja sendiri.

“Pemerintah perlu dukungan seluruh komponen bangsa agar semakin banyak masyarakat melek digital,” kata Jokowi.

Infrastruktur digital, jelas Jokowi, tidak dapat berdiri sendiri. Ketersediaan jaringan internet harus diikuti dengan kesiapan penggunanya. Dengan begitu, manfaat positif internet dapat dioptimalkan untuk membuat masyarakat semakin cerdas dan produktif.

Oleh sebab itu, Jokowi memberikan apresiasinya pada seluruh pihak yang terlibat dalam Program Literasi Digital Nasional.

“Saya harap, gerakan itu menggelinding dan terus membesar sehingga bisa mendorong berbagai inisiatif di tempat lain serta melakukan kerja konkret agar masyarakat makin cakap memanfaatkan internet untuk kegiatan edukatif dan produktif,” ujar Jokowi.

Untuk diketahui, seri webinar Indonesia #MakinCakapDigital terbuka bagi masyarakat yang ingin menambah wawasan dan pengetahuan mengenai literasi digital. Oleh sebab itu, Kominfo berharap seluruh lapisan masyarakat dapat berpartisipasi secara aktif dalam seminar ini.

Adapun rangkaian webinar tersebut akan diselenggarakan hingga akhir 2021 dengan berbagai tema yang mendukung kesiapan masyarakat Indonesia dalam bermedia digital secara baik dan etis.

Para peserta akan mendapatkan e-certificate atas keikutsertaannya dalam webinar. Informasi selengkapnya mengenai seri webinar Indonesia #MakinCakapDigital dapat Anda temukan di akun Instagram @siberkreasi.dkibanten.