Advertorial

Sound of Borobudur Music over Nations Sukses Buktikan Borobudur sebagai Simpul Musik Dunia

Kompas.com - 29/06/2021, 12:55 WIB
Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/Kepala Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf/Kabaparekraf) Sandiaga Salahuddin Uno bersama Deputi Bidang Produk Wisata dan Penyelenggaraan Kegiatan Kemenparekraf/Baparekraf Rizki Handayani mencoba memainkan alat musik hasil rekonstruksi temuan Sound of Borobudur. Dok. Kompas/Ferganata Indra RiatmokoMenteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/Kepala Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf/Kabaparekraf) Sandiaga Salahuddin Uno bersama Deputi Bidang Produk Wisata dan Penyelenggaraan Kegiatan Kemenparekraf/Baparekraf Rizki Handayani mencoba memainkan alat musik hasil rekonstruksi temuan Sound of Borobudur.

MAGELANG, KOMPAS.com – Di balik kemegahan arsitektur dan konstruksinya, Candi Borobudur ternyata menyimpan banyak jejak peradaban dunia. Salah satunya, terkait budaya bermusik.

Jejak itu dapat dilihat dari ditemukannya 200 pahatan alat musik pada dinding candi. Berdasarkan data arkeologi, jumlah tersebut diklasifikasikan menjadi 43 jenis alat musik yang terdiri dari chordophone (alat musik senar), ideophone (alat musik pukul), membranophone (alat musik bermembran), dan aerophone (alat musik tiup). 

Di samping itu, terdapat sekitar 40 panel candi terdapat ukiran permainan musik dalam format ensambel yang menjadi ciri khas musik modern.

Perlu diketahui, Eropa yang menjadi kiblat musik modern baru mengenal format tersebut pada sekitar abad ke-14 hingga ke-15.

Pakar etnomusikologi Profesor Emerita Margaret Joy Kartomi AM FAHA mengatakan, relief-relief itu menjadi bukti bahwa telah terjadi kemajuan dalam bermusik di Jawa pada abad ke-8 hingga ke-9. Selain itu, telah terjalin kolaborasi antara menari dan bermusik dalam hal berkesenian.

“Musik pada masa itu umumnya dimainkan dalam berbagai perayaan, termasuk ritual pembersihan roh jahat, serta dinikmati segala lapisan masyarakat,” katanya dalam konferensi internasional Sound of Borobudur Music Over Nations - Menggali Jejak Persaudaraan Lintas Bangsa melalui Musik, Kamis (24/6/2021)

Menariknya, lanjut Margaret, seluruh alat musik tersebut memiliki kesamaan dengan alat musik yang tersebar di seluruh Nusantara dan berbagai belahan dunia.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

“Alat-alat musik itu juga dimainkan di Sumatera, Kalimantan, dan daerah lain di Nusantara. Bahkan, ditemukan di beberapa daratan Asia Tenggara, China, dan India,” sebutnya.

Guru Besar di Sir Zelman Cowen School of Music and Performance Monash University, Australia, tersebut menyinyalir, aktivitas perdagangan melalui jalur laut berperan dalam penyebaran seluruh alat musik itu.

“Akhirnya, alat-alat musik pada relief Borobudur tidak hanya menjadi bagian dari arena perdagangan yang menguntungkan, tetapi juga dianggap sebagai benda suci dan bagian penting bagi masyarakat,” imbuhnya.

Sebagai informasi, konferensi internasional Sound of Borobudur Music over Nations - Menggali Jejak Persaudaraan Lintas Bangsa Melalui Musik merupakan upaya bangsa dalam melestarikan warisan dunia Borobudur.

Kegiatan yang diadakan secara hybrid dan diselenggarakan di Balai Ekonomi Desa (Balkondes) Karangrejo, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, tersebut digagas Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf/Baparekraf) bersama dengan Yayasan Padma Sada Swargantara dan Kompas.

Kelompok musik Sound of Borobudur bersama sejumlah musisi Tanah Air berkolaborasi memainkan alat musik yang terdapat pada relief Candi Borobudur. Dok. Kompas.com/Hotria Mariana Kelompok musik Sound of Borobudur bersama sejumlah musisi Tanah Air berkolaborasi memainkan alat musik yang terdapat pada relief Candi Borobudur.

Musik sebagai lingua franca

Komposer musik ternama Tanah Air Addie MS yang turut hadir dalam konferensi mengaku takjub dengan pemaparan Margaret.

Ia berharap, eksplorasi alat musik yang terdapat pada relief Candi Borobudur bisa terus berjalan sehingga rekonstruksi dapat dilakukan. Selain itu, kegiatan inklusif seperti konferensi internasional Sound of Borobudur Music over Nations bisa kembali digelar dengan melibatkan lebih banyak negara.

Apalagi, pada situasi seperti sekarang, masyarakat cenderung mudah terpolarisasi. Musik diharapkan mampu menjadi lingua franca yang menyatukan bangsa-bangsa. Singkatnya, menjadi alat diplomasi budaya antarnegara.

"Musik tercipta dari harmonisasi beragam suara. Dari musik kita belajar bahwa keberagaman adalah anugerah Tuhan. Hal yang perlu dilakukan saat ini adalah bagaimana menjalinnya sehingga menjadi keindahan dalam hidup. Sejarah banyak membuktikan musik berperan dalam meredakan konflik, peperangan, dan sengketa perebutan kekuasaan. Hal ini dikarenakan sifat musik yang menyatukan,” jelasnya.

Efektivitas musik sebagai alat diplomasi bangsa sudah dibuktikan Duta Besar Keliling untuk Wilayah Pasifik Tantowi Yahya. Ia mengatakan, hal ini terlihat dari kesuksesan sejumlah pagelaran musik yang diinisiasi Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) untuk Selandia Baru pada 2018, 2019, dan 2020.

“Di Selandia Baru, dengan karakter masyarakatnya yang sangat humanis dan dekat dengan kesenian, musik menjadi alat diplomasi yang sangat efektif dan berhasil dalam mendekatkan Bangsa Indonesia dengan masyarakat Selandia Baru. Diplomasi antar bangsa juga berkenaan dengan bagaimana mendapatkan hati bangsa lain,” terangnya.

Kemampuan musik sebagai alat diplomasi sendiri sebenarnya bukan hal asing. Pada dasarnya, musik adalah bahasa universal yang dapat mengatasi hambatan komunikasi akibat perbedaan budaya.

“Dari musik juga, kami belajar mempromosikan kerja sama, pemahaman, dan sikap saling menghormati,” imbuh Tantowi.

Eksplorasi masih berlanjut

Komposer sekaligus Pendiri Yayasan Padma Sada Svargantara Purwa Tjaraka mengatakan, eksplorasi alat musik pada relief Candi Borobudur sebenarnya bukan hal baru. Sejumlah jurnal dan penelitian telah mengulas hal tersebut.

“Sayangnya, penelitian tersebut hanya berhenti dalam bentuk literatur. Karena itu, kami, para musisi, menggagas rencana untuk menghidupkan kembali alat-alat musik itu melalui gerakan Sound of Borobudur,” imbuhnya.

Selain Purwa, dua musisi lain, yakni Trie Utami dan Dewa Budjana, juga ikut terlibat dalam gerakan tersebut.

Namun, usaha menghidupkan kembali seluruh alat musik yang terukir pada relief Candi Borobudur bukan perkara gampang. Kesulitan itu, kata Purwa, lantaran banyaknya jumlah alat musik yang hendak direproduksi.

“Kami harus reka ulang, produksi, mencari alat musik serupa ke seluruh pelosok negeri demi mendapatkan referensi terkait bentuk dan bunyi. Setelah itu, kami harus memainkan lagi untuk menemukan komposisi instrumen agar bisa dimainkan dalam orkestrasi,” jelasnya.

Setelah komposisi itu berhasil dibuat, Sound of Borobudur kemudian mengajak musisi dari sejumlah negara lain untuk berkolaborasi. Kolaborasi ini merupakan bagian dari upaya mempererat persahabatan antarbangsa melalui musik.

Secara hakikat, Sound of Borobudur merupakan gerakan yang berfokus pada revitalisasi warisan bangsa, khususnya Candi Borobudur. Karenanya, dukungan dari berbagai pihak diperlukan agar misi kebangsaan tersebut dapat terwujud.

Kolaborasi dengan banyak negara

Agar acara Sound of Borobudur Music over Nations bergema ke seluruh dunia, kolaborasi dengan sejumlah musisi internasional perlu dilakukan. Trie Utami menyebutkan, terdapat 10 negara yang bersedia tampil dalam perhelatan tersebut, yakni Laos, Vietnam, Filipina, Myanmar, Taiwan, Jepang, China, Amerika, Spanyol, dan Italia.

Seluruh musisi tampil secara daring akibat kendala pandemi Covid-19. Meski begitu, masing-masing musisi ternyata mampu membawakan instrumen dengan apik.

“Kemarin saya kirim tiga video musik hasil komposisi Sound of Borobudur kepada mereka (musisi luar negeri). Setelah itu, mereka mengirimkan rekaman video dan audio saat bermain alat musik. Kami di sini menggabungkan seluruh video yang masuk menjadi satu video musik yang utuh,” jelasnya.

Selain menampilkan musisi luar negeri, Sound of Borobudur Music over Nations juga menghadirkan sejumlah musisi dalam negeri yang menjadi representasi lima Destinasi Super Prioritas Kemenparekraf/Baparekraf, seperti Danau Toba yang diwakili Viky Sianipar, Mandalika, Labuan Bajo, Kalimantan, dan Papua.

Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/Kepala Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf/Kabaparekraf) Sandiaga Salahuddin Uno mengatakan, Candi Borobudur merupakan mahakarya yang menyimpan berbagai ilmu pengetahuan, jejak peristiwa, dan fenomena masyarakat Jawa Kuno. Adanya penggambaran orkestrasi pada relief candi menunjukkan betapa majunya peradaban leluhur Nusantara.

Ia pun lantas mengapresiasi langkah Sound of Borobudur. Begitu pula dengan Konferensi internasional Sound Of Borobudur Music over Nations.

“Acara ini merupakan upaya menggali jejak persaudaraan lintas bangsa melalui musik. Total sebelas musisi dari sepuluh negara yang berpartisipasi ikut berkolaborasi. Itu menjadi bukti bahwa kekayaan warisan Nusantara diakui dunia, memanggil dunia untuk ikut mengapresiasi,” imbuhnya.

Melihat antusiasme negara-negara peserta, Sandi berharap, Sound of Borobudur Music over Nations dapat menciptakan inovasi dan terobosan baru dalam pengembangan destinasi super prioritas Borobudur sebagai destinasi pariwisata yang berkualitas serta berkelanjutan.

Harapan juga datang dari Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo. Ia menginginkan pagelaran seni yang mengolaborasikan musisi dari berbagai negara, seperti tergambar pada relief, dapat benar-benar digelar. Dengan begitu, pesona Candi Borobudur akan meningkat.

”Cerita ini bisa diangkat menjadi sebuah storytelling yang menarik. Kemudian, diceritakan kembali dalam bentuk tulisan, video, televisi, dan media sosial sehingga timbul anggapan bahwa Borobudur memang pernah menjadi simpul musik dunia,” tuturnya.

Selain nama-nama di atas, terdapat sejumlah tokoh penting lain yang turut hadir dalam gelaran Sound of Borobudur Music over Nations.

Sebut saja pakar geografi pembangunan, pendiri Sustainable Tourism Action Research Society dan mantan Ketua Program Magister Kajian Pariwisata Sekolah Pascasarjana Universitas Gadjah Mada (UGM) Profesor Dr M Baiquni MA.

Kemudian, Direktur Industri Kreatif Musik, Film dan Animasi Kemenparekraf/Baparekraf RI Dr Muhammad Amin, SSn, MSn, MA, perwakilan UNESCO Moe Chiba, dan perwakilan dari Visit Indonesia Tourism Officer (VITO) Sulaiman Shehdek.

Musik dan Borobudur perkuat indentitas bangsa

Tak hanya sebagai alat diplomasi, musik juga bisa menjadi alat untuk mempererat persaudaraan seluruh warga negara dunia. Itulah yang diharapkan dari Candi Borobudur yang kini terbukti menjadi mega repositori data peradaban dunia. 

Sebagai pemilik mahakarya tersebut, Indonesia seyogianya mampu membuktikan bahwa negara ini adalah negara adidaya budaya.

Lewat penyelenggaraan Sound of Borobudur Music over Nations, Sound of Borobudur diharapkan dapat menjadi destinasi baru yang tangible maupun intangible, serta bisa meningkatkan kualitas pariwisata berbasis storynomics.

Agar gaung Sound of Borobudur terdengar lebih luas, kegiatan berbasis eksplorasi perlu dilakukan. Misalnya, menyelenggarakan music camp dan workshop yang mengundang musisi lintas negara.

Tentunya, rancangan tersebut membutuhkan dukungan semua pihak, terutama pemerintah sebagai

pengelola nation property Candi Borobudur.

Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.