Advertorial

Literasi Digital Perlu Diintegrasikan dalam Sistem Pembelajaran di Indonesia

Kompas.com - 06/07/2021, 17:43 WIB
Ilustrasi ibu yang sedang mendampingi anaknya dalam pembelajaran secara daring. DOK. ShutterstockIlustrasi ibu yang sedang mendampingi anaknya dalam pembelajaran secara daring.

KOMPAS.com – Saat ini, perkembangan dunia digital di Indonesia telah menyasar ke segala sisi kehidupan manusia.

Walau demikian, banyak pengguna internet belum memiliki kemampuan untuk memilah dan mengolah informasi secara baik. Akibatnya, masyarakat mudah terpapar informasi yang tidak benar atau hoaks.

Menyikapi hal tersebut, Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo) menggelar seri webinar literasi digital #MakinCakapDigital bertajuk "Literasi Digital Tenaga Pendidik dan Anak Didik di Era Digital" di Cilegon, Banten, Jumat (2/7/2021).

Webinar tersebut mengundang narasumber dari berbagai bidang keahlian dan profesi, yakni dosen Ilmu Administrasi Publik Universitas Ngurah Rai Ida Ayu Putu Sri Widnyani, peneliti dan pengasuh tarbiyahislamiyah.id Ridwan Muzir, perwakilan Kaizen Room Erista Septianingsih, serta Ketua Relawan Teknologi Informasi dan Komunikasi (RTIK) Provinsi Banten Aji Sahdi Sustisna.

Adapun tema yang dibahas masing-masing narasumber adalah digital skills, digital ethics, digital culture, serta digital safety.

Ida Ayu menjadi narasumber pertama yang membuka webinar. Dalam pemaparannya, ia mengatakan bahwa masyarakat saat ini lebih mudah memperoleh informasi dibandingkan generasi sebelumnya. Karenanya, media digital wajib digunakan dalam pembelajaran di sekolah karena bisa menambah pengetahuan.

Ida menambahkan, kehadiran media digital memiliki berbagai kelebihan, mulai dari menawarkan cara berinteraksi yang interaktif, kemudahan berkomunikasi dan bersosialisasi, serta dukungan fitur yang menarik.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Dengan jumlah pengguna internet di Indonesia yang didominasi kalangan remaja, kehadiran media digital dapat berdampak besar kepada mereka.

"Bila pengguna memanfaatkan internet secara positif, akan meningkatkan prestasi. Sebaliknya, penggunaan internet yang buruk dapat berakibat negatif pada anak dan remaja. Karenanya, dibutuhkan cyber pedagogy. Cyber pedagogy merupakan seni mengajar dengan memanfaatkan kelebihan teknologi digital, internet, serta ruang maya. Untuk menjalankan ini, semua pihak harus memiliki literasi digital,” ujar Ida seperti dalam siaran pers yang diterima Kompas.com, Selasa (6/7/2021).

Narasumber selanjutnya adalah Erista Septianingsih. Erista memaparkan, pendidikan pada era digital merupakan pendidikan yang harus mengintegrasikan teknologi informasi dan komunikasi ke dalam seluruh mata pelajaran.

Erista mengatakan, perkembangan pendidikan era digital memungkinkan siswa mendapatkan pengetahuan yang berlimpah ruah serta cepat dan mudah.

“Walau demikian, terdapat beberapa hambatan dalam penggunaan media digital dalam pendidikan, yakni tidak mengetahui dan kesulitan menggunakan teknologi, tidak menganggap teknologi sebagai sesuatu yang penting, serta anggapan bahwa internet adalah sesuatu yang mahal,” ujarnya.

Lebih lanjut, Erita menekankan pentingnya etika berkomunikasi antara murid dan guru atau dosen. Ia mengimbau pihak yang menggunakan media digital dalam pendidikan untuk tetap melaksanakan etika berkomunikasi, mulai dari mengucapkan salam, menggunakan bahasa yang mudah dipahami dan sopan, berbicara langsung pada poin utama, serta memperhatikan waktu saat hendak menghubungi.

Sementara itu, Ridwan Muzir yang menjadi narasumber berikutnya memaparkan kecenderungan cara mengajar di era digital.

Menurutnya, pembelajaran pada media baru tersebut harus mampu menginspirasi, memberi petunjuk, memancing ide, memberi arahan, membimbing menjadi teman diskusi, mengawal proses, serta mengaplikasikan semboyan Tut Wuri Handayani kepada peserta didik.

"Pada era digital saat ini memungkinkan kegiatan belajar menjadi makin mandiri. Peserta didik bisa memiliki perpustakaan di handphone masing-masing karena adanya era digital," kata Ridwan.

Dari proses belajar mandiri tersebut, imbuh Ridwan, bisa terlihat kecenderungan cara belajar di era digital, yakni mandiri, inisiatif, eksploratif, serta kreatif.

Walau demikian, Ridwan mengingatkan bahwa dunia digital bagaikan pisau bermata dua. Kreativitas dan inovasi bisa tumbuh jika pendidikan mengadaptasi dunia digital dengan cara yang tepat dan terukur.

"Dalam proses pengajaran, tugas guru adalah membimbing dan mendidik para pesertanya. Guru tidak hanya menyuruh, tetapi juga mengadakan edukasi dan menampung pertanyaan," tuturnya.

Pembicara terakhir pada webinar tersebut adalah Aji Sahdi. Aji memaparkan tantangan internet bagi orangtua serta pendidik. Tantangan ini semakin berat mengingat pandemi covid-19 masih berlangsung.

Menurut Aji, terdapat beberapa hal yang harus dikuasai guru untuk mengajar secara daring. Keterampilan ini meliputi memahami teknologi atau media online serta mampu merancang dan menyajikan materi pembelajaran secara kreatif.

“Selain itu, dibutuhkan juga keterampilan mengelola kelas online, keterampilan berkomunikasi, serta keterampilan memotivasi siswa," ujarnya.

Setelah narasumber memaparkan materi, para partisipan dipersilahkan untuk mengutarakan pertanyaan dan tanggapan. Peserta bernama Yani turut mengajukan pertanyaan.

Ia menceritakan, anaknya sudah mengeluh bosan belajar dirumah saja. Sementara itu, pihak sekolah hanya memberi materi dan soal-soal. Hal ini membuat anak di rumah terbebani tugas sekolah sehingga kehilangan semangat belajar.

“Lantas, bagaimana cara menumbuhkan semangat belajar anaknya mengingat situasi pandemi masih berlangsung?” tanya Yani kepada para narasumber.

Ida Ayu menjadi penanggap untuk pertanyaan Yani. Menurutnya, orangtua bisa berkomunikasi dengan guru ketika diberikan tugas, seperti membuat video. Tujuannya, supaya anak tidak terlalu dibebani dengan tugas-tugas.

“Ketika menyampaikan tugas kepada murid, guru bisa membuat hal yang inovatif. Misalnya, dengan menggunakan Youtube sebagai media pembelajaran. Dengan begitu, anak-anak bisa lebih gampang belajar dengan menonton materinya," jawab Ida ayu.

Sebagai informasi, webinar literasi digital #MakinCakapDigital menjadi salah satu rangkaian kegiatan literasi digital di Cilegon. Kegiatan ini terbuka bagi semua orang yang ingin memahami dunia literasi digital.

Oleh karena itu, Kemenkominfo berharap penyelenggaraan webinar selanjutnya dapat membuka peluang sebesar-besarnya kepada semua pihak untuk berpartisipasi melalui Instagram @siberkreasi.dkibanten.

Selain itu, Kemenkominfo juga mengapresiasi partisipasi dan dukungan semua pihak sehingga rangkaian acara webinar dapat berjalan dengan baik. Terlebih, webinar ini menargetkan 12,5 juta partisipan sehingga membutuhkan kerja sama dan dukungan para stakeholder.

Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.