Advertorial

Lebih Hemat, Nelayan dan Petani Nikmati Konversi BBM ke LPG Subsidi

Kompas.com - 09/07/2021, 21:07 WIB

KOMPAS.com – Program konversi bahan bakar minyak (BBM) ke liquefied petroleum gas (LPG) bersubsidi terbukti memberikan manfaat bagi banyak masyarakat. Amir Fauzi adalah salah satu nelayan asal Kampung Cisumur, Gandrungmangu, Cilacap, Jawa Tengah, yang telah merasakannya.

Melalui keterangan tertulis yang diterima Kompas.com, Jumat (9/7/2021), Amir mengaku lebih berhemat dalam membeli bahan bakar perahu untuk melaut.

Pasalnya, sejak beralih menggunakan LPG 3 kilogram dan mendapatkan mesin konverter pada Juni 2021, ia cukup mengeluarkan uang sebesar Rp 20.000 hingga Rp 22.000 per tabung untuk melaut.

“Beli satu tabung LPG juga tidak habis sekali melaut, pas pulang gasnya masih ada. Jadi, benar-benar irit, lebih hemat,” kata Amir.

Kondisi itu kontras dibandingkan saat ia masih menggunakan BBM. Amir mengaku, kala itu ia harus mengeluarkan uang sebesar Rp 50.000 hingga Rp 60.000 setiap hari demi membeli 5-6 liter BBM. Jumlah tersebut digunakan untuk melaut sejauh kurang lebih 6 kilometer (km) dari bibir pantai.

Tak sekadar berhemat, Amir mengatakan bahwa penggunaan LPG juga membuat cara kerja mesin perahu menjadi lebih stabil. Ia pun tak lagi khawatir meski melaut dalam kondisi hujan karena mesinnya dapat diandalkan. 

Komitmen Pertamina

Melihat manfaat tersebut, Pertamina berkomitmen untuk terus melaksanakan program konversi BBM ke LPG bagi nelayan dan petani, sekalipun diterpa triple shock selama pandemi Covid-19.

Dengan begitu, perekonomian masyarakat diharapkan dapat meningkat karena bisa mendapatkan bahan bakar secara ekonomis.

Pejabat sementara (Pjs) Senior Vice President Corporate Communication dan Investor Relations Pertamina Fajriyah Usman mengatakan, Pertamina melalui subholding Commercial and Trading akan menyiapkan 56.000 paket konversi LPG kepada nelayan dan petani sepanjang 2021.

“Pertamina dan seluruh anak usaha akan selalu siap menjalankan penugasan pemerintah demi memberikan yang terbaik untuk meningkatkan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat, termasuk pada program konversi BBM ke LPG,” kata Fajriyah.

Langkah tersebut, kata Fajriyah, sudah disetujui PT Pertamina Patra Niaga selaku subholding Commercial and Trading Pertamina dan Direktorat Jenderal Minyak dan Gas Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM).

Adapun skema program tersebut terdiri dari 28.000 paket LPG untuk nelayan di 54 kota atau kabupaten di wilayah pesisir Sumatra, Jawa, Kalimantan, dan Sulawesi. Kemudian, 28.000 paket LPG untuk petani di 50 kota atau kabupaten di wilayah yang sama.

Di masa pandemi Covid-19, Pertamina tetap menyelesaikan konversi BBM ke LPG bagi 25.000 nelayan yang tersebar di 42 kota atau kabupaten, serta 10.000 petani di 24 kota atau kabupaten.

Penyaluran paket LPG tersebut merupakan bagian dari penugasan pemerintah dalam program konversi BBM ke LPG bagi nelayan dan petani yang telah berjalan sejak 2016.

“Ini sudah memasuki tahun ke-6 Pertamina menjalankan penugasan konversi BBM ke LPG. Kami berkomitmen penuh menuntaskan program tersebut dan optimistis berjalan sesuai rencana,” terang Fajriyah.

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau