Advertorial

Bantul Punya Wisata Edukatif, Wisatawan Bisa Berkunjung Usai PPKM Darurat

Kompas.com - 18/07/2021, 16:24 WIB

KOMPAS.com- Kabupaten Bantul kaya akan destinasi wisata edukatif. Dua di antaranya adalah obyek wisata Goa Selarong dan Sentra Kerajinan Batik Kayu yang berlokasi di Kapanewon Pajangan.

Selama pandemi, dua destinasi tersebut tetap dibuka dengan protokol kesehatan ketat. Namun, karena Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Darurat, dua tempat itu ditutup sementara.

Usai masa PPKM Darurat, Goa Selarong dan Sentra Kerjainan Batik Kayu akan dibuka kembali. Wisatawan dapat merencanakan perjalanan ke sini.

Berada di perbukitan kapur desa Guwosari, Goa Selarong memiliki nilai histori tinggi karena masih punya ikatan sejarah dengan perjuangan masyarakat di zaman penjajahan Belanda.

Seperti diketahui, Pangeran Diponegoro yang merupakan cucu Sultan Hamengkubuwono III, menjadikan tempat ini sebagai lokasi persembunyian sekaligus markas bersama pasukannya.

Bisa dibilang, Goa Selarong adalah saksi sejarah saat Pangeran Diponegoro melakukan perlawanan terhadap Belanda.

Mengunjungi Goa Selarong

Bagi wisatawan, berkunjung ke Goa Selarong berarti harus menyiapkan tenaga ekstra. Lokasinya yang berada di bibir lereng bukit, membuat wisatawan harus menaiki puluhan tangga yang berjarak sekitar 200 meter.

Meski demikian, aksesnya kini sudah tergolong cukup baik. Pelataran atau teras Goa Selarong sudah berupa lantai semen. Di tempat ini, terdapat dua goa utama, yakni Goa Kakung dan Goa Putri.

Konon, Goa Kakung menjadi kediaman Pangeran Diponegoro, sedangkan Goa Puteri digunakan sebagai tempat tinggal sang istri, Raden Ayu Ratnaningsih. Sementara di depan goa, terdapat sebuah batu tempat Pangeran Diponegoro bersemedi.

Dilihat sekilas, goa itu lebih mirip sebuah ceruk dengan luas 4 x 3 meter. Namun cerita rakyat menyebut, tempat tersebut mengandung kisah mistis karena disebut mampu menampung ratusan prajurit meskipun tak begitu luas.

Menurut kepercayaan, luasnya yang kecil hanyalah pintu gaib menuju bukit kapur.

Air terjun di Goa Selarong, BantulDok Humas Pemkab Bantul Air terjun di Goa Selarong, Bantul

Menyatu dengan sejarah Goa Selarong, di sisi barat goa terdapat keindahan alam lain, yakni air terjun. Memiliki ketinggian lebih dari 10 meter, air terjun ini menjadi penambah daya tarik wisata sejarah Goa Selarong.

Wisatawan dapat menikmati indahnya air terrjun, terutama saat musim penghujan. Debit air yang tinggi menjadikan air terjun di antara pepohonan menjadi lebih asri.

Melirik Desa Wisata Krebet, pusat kerajian batik kayu

Tak jauh dari obyek wisata Goa Selarong, destinasi lain yang bisa disinggahi adalah Desa Wisata Krebet yang dikenal sebagai sentra kerajinan batik kayu. Jaraknya dari Goa Selarong hanya sekitar 2 kilometer (km).

Selain bisa belanja beragam suvenir, wisatawan juga bisa belajar membatik di tempat tersebut. Pengelola akan menyediakan peralatan membatik lengkap dengan medianya berupa gantungan kunci, topeng, wayang, tempat pensil.

Pengunjung bisa belajar membatik di atas kayu mulai dari emdia berupa paket batik pemula, batik kecil, batik sedang, hingga batik besar.

Jika mengambil paket batik pemula, pengunjung dapat belajar membatik dengan gantungan kunci. Sementara itu, paket batik kecil menggunakan media topeng kecil, wayang kecil, dan tempat pensil.

"Goa Selarong ini bisa menjadi satu paket dengan Desa Wisata Krebet. Jadi, bagi yang menginginkan wisata edukatif usai PPKM Darurat bisa dating ke sini karena akan kembali dibuka,” ujar kata Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Bantul Kwintarto Heru Prabowo dalam rilis yang diterima Kompas.com, Minggu (18/7/2021).

Disebut oleh Kwintarto bahwa lokasi itu punya paket wisata permainan tradisional.

“Ada juga kuliner tradisional di sekitar situ. Ada Ingkung dan Gudeg Manggar," sambungnya.


Adapun rute menuju obyek wisata Goa Selarong bisa ditempuh melewati Jalan Bantul dengan jarak tempuh sekitar 15 km dari pusat Kota Yogyakarta. Pengunjung hanya membutuhkan waktu tempuh sekitar 30 menit.

Untuk menjangkaunya, wisatawan bisa menjadikan Patung Pangeran Diponegoro di perempatan Klodran sebagai penanda, lalu ambil rute kanan atau ke barat.

Selanjutnya, pada perempatan lampu merah pertama ambil kanan hingga melewati jembatan, lalu lanjutkan belok kanan.

Obyek wisata Goa Selarong berjarak sekitar 1 km dari jembatan. Tepatnya, ada di sisi kiri jalan. Dari situ, pengunjung dapat memarkir kendaraan masuk ke obyek wisata dalam jarak 200 meter dari jalan utama.

Kwintarto melanjutkan, meski PPKM Darurat diperpanjang, tak ada salahnya bersiap merencanakan tamasya.

Jika berniat ke Bantul, wisatawan bia mempersiapkan perjalanan dengan mengunduh aplikasi JELAJAH BANTUL di Google Playstore. Lengkapi juga dengan mengunduh aplikasi QUAT untuk pembayaran nontunai pada sejumlah destinasi. Hal ini dilakukan demi meminimalisasi kontak fisik dan menekan laju penyebaran virus corona.

Hal terpenting, berwisata di masa pendemi Covid-19 berarti wisatawan wajib menjaga protokol kesehatan dengan menerapkan 5M, yakni memakai masker, mencuci tangan, menjaga jarak, menjauhi kerumunan, dan mengurangi mobilitas.

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau