Advertorial

Berkat Beasiswa BRI, Anak Petani Karet dari Sekayu Bisa Raih Gelar Sarjana

Kompas.com - 19/07/2021, 21:14 WIB
Firdaus Bazyli Azariel Rampius berhasil lulus dengan predikat cum laude dari Universitas Gadjah Mada (UGM) berkat Beasiswa Nusantara Cerdas dari BRI. DOK. istimewaFirdaus Bazyli Azariel Rampius berhasil lulus dengan predikat cum laude dari Universitas Gadjah Mada (UGM) berkat Beasiswa Nusantara Cerdas dari BRI.

KOMPAS.com – Firdaus Bazyli Azariel Rampius selalu bangga saat menatap foto dirinya yang berpose sambil memegang map ijazah bertuliskan Universitas Gadjah Mada (UGM).

Bazyl panggilan akrabnya, adalah pemuda biasa asal Sekayu, Musi Banyuasin, Sumatera Selatan. Ia merupakan lulusan Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) UGM dengan jurusan Akuntansi.

Gelar sarjana yang diraihnya dari salah satu universitas negeri bergengsi di Tanah Air tersebut merupakan hasil kerja keras. Selain itu, capaian itu merupakan buah dukungan beasiswa dari PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BRI).

Bazyl merupakan penerima Beasiswa Nusantara Cerdas yang diperuntukkan bagi mahasiswa S1 yang menuntut ilmu di universitas negeri. Khususnya, bagi mereka yang berasal dari daerah terluar, terpencil, dan terdepan (3T).

Beasiswa tersebut merupakan hasil kerja sama BRI dengan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) serta sejumlah universitas negeri.

Bazyl mengaku, dirinya sudah mengincar beasiswa sejak awal masuk kuliah di UGM pada 2014.

Kondisi ekonomi keluarga yang pas-pasan mendorong munculnya keinginan besar tersebut.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

“Saya anak ke-3 dari empat bersaudara. Orangtua saya petani karet di Sekayu,” kata Bazyl dalam keterangan tertulis yang diterima Kompas.com, Senin (19/7/2021).

Ingin meringankan beban orangtuanya, Bazyl bertekad memperoleh kesempatan kuliah “gratis” dengan memanfaatkan beasiswa. Ia pun menyiapkan berbagai dokumen yang dibutuhkan sebagai syarat dan mengajukan beasiswa ke berbagai lembaga, termasuk BRI.

Untuk mendapatkan beasiswa, Bazyl harus melalui berbagai tahap seleksi. Namun, nasib mujur belum menghampirinya.

Kabar baik baru diterimanya setelah memasuki semester II perkuliahan, tepatnya pada 2015. Kampusnya mengumumkan bahwa ada 4 mahasiswa yang menerima beasiswa dari BRI. Bazyl termasuk dalam daftar tersebut.

“Saya akhirnya daftar, lalu saya di-interview oleh pihak BRI dan alhamdulillah lulus,” kisah Bazyl.

Beasiswa Nusantara Cerdas pun ia jadikan modal untuk menimba ilmu hingga menjadi sarjana. Ia mengaku bersyukur karena melalui beasiswa tersebut BRI menanggung seluruh biaya kuliah sejak masuk UGM.

“Semua biaya kuliah di-cover oleh BRI mulai dari uang kuliah tunggal (UKT), uang skripsi, termasuk laptop. Uang kuliah semester satu juga diganti oleh BRI jadi full dari semester satu akhir dibiayai oleh BRI,” ungkapnya.

Tak hanya itu, BRI juga memberikan Bazyl uang saku untuk membiayai kebutuhan hidup selama kuliah di Yogyakarta. Uang saku ia pakai untuk memenuhi berbagai kebutuhan, seperti makan dan membeli buku.

Bazyl mengatakan, pencairan dana beasiswa pun tidak sulit. Setiap bulan uang saku juga dikirim dengan tepat waktu.

Lulus dengan gelar cum laude

Dalam program beasiswa tersebut, Bazyl mendapat orangtua asuh, yakni dosen dari kampusnya yang ditunjuk oleh BRI. Peran orangtua asuh dalam program beasiswa tersebut adalah memantau perkembangan akademik mahasiswa.

Berkat pemantauan orangtua asuh, sifat brilian, dan sikap uletnya, Bazyl lulus tepat waktu. Ia pun meraih predikat cum laude dengan indeks prestasi kumulatif (IPK) 3,70.

Sebagai wujud syukurnya, setelah lulus Bazyl memutuskan untuk berkontribusi di BRI. Pada 2019, ia mengikuti Program Pengembangan Staf (PPS) BRI, yang merupakan program management training untuk merintis karier di badan usaha milik negara (BUMN) tersebut.

Sebenarnya, tidak ada keharusan bagi Bazyl untuk meniti karier di BRI usai lulus dengan Beasiswa Nusantara Cerdas. Namun, Bazyl merasa bahwa berkarya di BRI adalah panggilan hatinya.

 “Saya mengajukan. Memang saat dapat beasiswa itu tidak ada ikatan dinas bahwa yang dapat beasiswa harus kerja di BRI. Saya dibebaskan untuk berkarier di mana saja. Namun, saya berpikir BRI membantu banget kuliah saya. Jadi, saya mencoba berkontribusi balik untuk BRI,” ungkapnya.

Saat mengikuti PPS BRI, ia harus berkompetisi dengan 2.000 pelamar. Sebagai informasi, pada 2019 BRI hanya menerima 44 karyawan dari program PPS.

Bazyl berhasil lolos dan ditempatkan di Divisi Corporate Development and Strategy. Ia bertugas dalam tim budgeting (anggaran) di kantor pusat BRI di Jakarta.

Melihat perjalanannya meraih gelar sarjana dan kesempatan karier yang diperolehnya, Bazyl berharap BRI terus menyelenggarakan program beasiswa tersebut.

Menurutnya, masih banyak anak-anak negeri yang membutuhkan uluran tangan BRI agar bisa meraih cita-cita mengenyam pendidikan S1.

Sementara itu, Corporate Secretary BRI Aestika Oryza Gunarto mengungkapkan bahwa sebagai BUMN, BRI selalu berkomitmen menjadi yang terdepan dalam memberikan tanggung jawab sosial perusahaan.

BRI senantiasa menghadirkan nilai dan manfaat bagi stakeholder dan masyarakat luas. Program beasiswa, lanjut Aestika, merupakan wujud dukungan BRI dalam memajukan pendidikan di Indonesia.

"Kami terus hadir memberikan bantuan beasiswa kepada putra-putri bangsa dan terus mendukung pemerintah dalam menyediakan SDM unggul untuk kemajuan bangsa”, ungkap Aestika.

Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.