Advertorial

Cegah Manipulasi Sosial dengan Seleksi Data Diri yang Dipublikasikan

Kompas.com - 22/07/2021, 10:19 WIB
Ilustrasi pengguna internet yang terjebak phising. Dok. iStock/fizkesIlustrasi pengguna internet yang terjebak phising.

KOMPAS.com – Berbagai kemudahan yang ditawarkan internet membuat sebagian besar masyarakat gampang terlena dalam membagikan informasi, termasuk mengenai data diri. Akibatnya, data diri dapat dengan mudah tersebar sehingga rentan disalahgunakan oleh oknum yang tidak bertanggung jawab.

Hal tersebut dibenarkan oleh web developer dan konsultan teknologi informasi Eka Y Saputra pada webinar “Amankan Data Pribadimu Sekarang!” yang diselenggarakan Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo) bersama Jaringan Pegiat Literasi Digital (Japelidi) dan Siberkreasi Gerakan Nasional Literasi Digital Indonesia, Senin (19/7/2021).

Pada webinar tersebut, Eka mengatakan, manipulasi sosial terbagi menjadi dua, yakni spamming atau serangan pesan masif dan phising atau jebakan pengisian data.

Obyek dari kedua manipulasi data tersebut biasanya diambil dari data pribadi di internet, seperti situs web, media sosial, dan marketplace.

“Cara pencegahan penyalahgunaan data (pribadi) adalah membatasi eksistensi di internet. Lakukan seleksi data diri yang akan dipublikasikan, pahami aturan perlindungan data pribadi, dan gunakan sistem atau aplikasi pengamanan data,” papar Eka dalam rilis yang diterima Kompas.com, Rabu (21/7/2021).

Ia juga menjelaskan, selama ini, masyarakat salah mengartikan hacker dan cracker. Kedua hal ini memiliki perbedaan mendasar. Hacker dapat menemukan celah dan memanipulasi sesuai kebutuhan dengan menggeser fungsi serta mengubah mekanisme sistem.

“Sementara, cracker merupakan mereka yang menggeser mekanisme dan mengubah fungsi sistem untuk kepentingan tertentu yang mengakibatkan kerugian pihak lain. Contohnya, mencuri karya digital dan menyalahgunakan data pribadi orang lain,” papar Eka.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Terkait data pribadi, anggota Center for Population and Policy Studies Universitas Gadjah Mada (CPPS UGM) Novi Widyaningrum mengatakan, ada dua jenis data tersebut, yaitu data pribadi umum dan spesifik.

“Data pribadi umum terdiri dari nama lengkap, jenis kelamin, kewarganegaraan, dan agama. Sementara, data pribadi spesifik ialah informasi yang berisi mengenai kesehatan, data biometrik, genetika, catatan kesehatan, anak, keuangan pribadi, kehidupan orientasi seksual, hingga pandangan politik,” kata Novi.

Kedua data tersebut, lanjutnya, bisa dikombinasikan untuk mengidentifikasi seseorang. Hal ini menjadi penyebab munculnya potensi kejahatan, seperti jual beli data, pendaftaran akun pinjaman online (pinjol) ilegal, meretas akun layanan, kepentingan telemarketing, dan intimidasi atau cyberbullying.

“Untuk itu, penting bagi kita menjadi warga digital yang baik dengan selalu berpikir kritis. Melakukan saring sebelum sharing, meminimalisasi unfollowunfriend, dan block,” papar Novi.

Ia melanjutkan, sejumlah perilaku tersebut dapat menghindarkan pengguna dari echo chamber, memfilter bubble, dan menjadi kegiatan gotong royong kolaboratif dalam kampanye literasi digital.

Kurangi rasa penasaran

Pada kesempatan yang sama, anggota usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) sekaligus hotel development group (HdG team) Yoga Regawa Indra mengatakan, hacking data biasanya beraksi dengan cara memancing, menggoda, dan memaksa pengguna melakukan sesuatu.

“Sebab, pelaku kejahatan akan selalu berkembang dan selangkah lebih depan dari penegak hukum. Cara paling mudah terhindar dari hal tersebut sekaligus mengamankan data diri adalah kurangi rasa penasaran tanpa mencoba dan hapus budaya kepo berlebihan,” kata Yoga.

Ia melanjutkan, pada ruang digital yang diakses pengguna, terdapat ruang, budaya, dan cara interaksi baru. Cara interaksi ini mencakup media sosial, chat, video, games, marketplace, dan e-money.

“Perilaku digital itu membentuk perilaku keseharian dan sebaliknya. Kita adalah apa yang kita baca, klik, pelototi, beli, create, dan share,” papar Yoga.

Cara berikutnya, pengguna internet perlu untuk selalu memperhatikan jejak ketika menggunakan internet, khususnya dalam bermedia sosial. Project Manager PT Westmoore Tech Indonesia Panji Gentura mengatakan, jejak digital dapat dengan mudah ditemukan, salah satunya melalui aplikasi Twitter.

“Indonesia memiliki 14 juta pengguna Twitter. Jejak digital tidak hanya menangkap tulisan yang ditulis dalam suatu platform, tetapi menyangkut apa saja yang dibuka dan berapa lama kita melakukan scrolling,” kata Panji.

Selain itu, tambah Panji, mesin pencarian Google juga dapat menangkap jejak digital dari semua sosial media.

“(Tidak penting) siapa yang membuat pertama kali jejak digital, kita harus ‘mindyour tweet. Lebih aware lagi saat menggunakan media sosial,” jelasnya.

Panji melanjutkan, kebocoran data pribadi juga bisa diakibatkan oleh kehilangan barang pribadi yang krusial, seperti card keeper.

“Kehilangan benda yang berisi data pribadi harus segera dilaporkan ke pihak polisi dan blokir jika itu terkait dengan bank. Hal ini dilakukan untuk mencegah maraknya penggunaan data pribadi oleh (oknum) pinjol,” tutur Panji.

Untuk diketahui, webinar “Amankan Data Pribadimu Sekarang!” merupakan bagian dari seri webinar Indonesia #MakinCakapDigital yang akan diadakan hingga akhir 2021.

Webinar itu terbuka bagi siapa saja yang ingin menambah wawasan dan pengetahuan mengenai literasi digital. Peserta yang mengikutinya juga akan mendapatkan e-certificate.

Adapun informasi yang disampaikan pada rangkaian webinar tersebut termasuk dalam Seri Modul Literasi Digital yang digagas Kemenkominfo bersama dengan Japelidi dan Siberkreasi Gerakan Nasional Literasi Digital Indonesia.

Seri Modul Literasi Digital memiliki empat tema besar, yakni Cakap Bermedia Digital, Budaya Bermedia Digital, Etis Bermedia Digital, dan Aman Bermedia Digital.

Melalui program tersebut, masyarakat Indonesia diharapkan bisa memanfaatkan teknologi digital dengan tetap menjunjung tinggi nilai-nilai dalam kehidupan berbudaya, berbangsa, dan bernegara.

Program literasi digital juga mengapresiasi partisipasi dan dukungan semua pihak yang terlibat sehingga dapat mencapai target 12,5 juta partisipan.

Untuk informasi lebih lanjut, Anda bisa mengikuti akun Instagram @siberkreasi @siberkreasi.dkibanten.