Advertorial

Hobi Berolahraga? Perhatikan Hal Berikut agar Terhindar dari Cedera

Kompas.com - 28/07/2021, 14:54 WIB
Ilustrasi mengalami cedera saat berolahraga Dok.Shutterstock/TorwaistudioIlustrasi mengalami cedera saat berolahraga

KOMPAS.com - Olahraga merupakan aktivitas fisik yang dilakukan untuk memelihara kesehatan tubuh.

Di masa pandemi Covid-19, kegiatan tersebut menjadi sangat penting. Ini lantaran olahraga dapat menjaga kebugaran dan membantu mencegah berbagai penyakit masuk ke dalam tubuh.

Tak hanya itu, rutin berolahraga juga dapat membantu seseorang untuk menjaga kesehatan mental.

Melansir adventhealth.com, Rabu (13/3/2019), aktif berolahraga dapat membuat suasana hati meningkat. Pasalnya, saat melakukan kegiatan tersebut, tubuh akan memproduksi endorfin yang merupakan hormon penguat suasana hati. Hormon ini juga berfungsi untuk melawan rasa stres dan depresi.

Meski begitu, bukan berarti aktivitas olahraga dapat dilakukan secara sembarangan. Beberapa faktor penting harus diperhatikan saat berolahraga, seperti pemanasan, pendinginan, kualitas tidur, dan peralatan.

Hal tersebut diamini oleh dokter spesialis ortopedi dari Mayapada Hospital dr Sapto Adji Hardjosworo, SpOT (K). Menurutnya, beberapa hal tersebut dapat mencegah cedera.

 “Sebelum memulai olahraga apa pun, jangan pernah lupakan pemanasan. Lalu, ketahui kapasitas diri sendiri. Banyak orang mengalami cedera itu karena aturan mainnya tidak diikuti. Mereka akhirnya memaksakan diri melampaui kemampuannya. Misalnya, lari hanya kuat lima kilometer, tapi dipaksakan lebih dari itu,” ujar dr Sapto saat diwawancara Kompas.com, Selasa (6/7/2021).

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Saat ini, berkat platform media sosial seperti Youtube, akses terhadap gerakan olahraga semakin mudah dijangkau oleh banyak orang. Namun, ketiadaan instruktur yang hadir secara langsung membuat risiko cedera cenderung lebih besar.

Oleh karena itu, dr Sapto meminta kepada masyarakat untuk mempelajari gerakan yang mereka lihat dari media sosial dengan teliti. Gerakan itu pun harus dipraktikkan secara perlahan.

“Karena tidak ada instruktur, jadi yang belajar lewat media sosial sebaiknya melakukannya secara bertahap. Kan tiap olahraga punya tingkat kesulitan. Jangan paksakan diri untuk langsung melakukan gerakan yang susah. Dimulai dari yang paling mudah dulu. Baru secara perlahan naikkan tingkat kesulitannya,” jelasnya.

Mencegah cedera

Untuk mencegah cedera, dr Sapto juga menekankan pentingnya olahraga penunjang. Menurutnya, hal tersebut perlu dilakukan untuk memperkuat tubuh.

Ia mencontohkan, saat ini olahraga yang paling sering dilakukan oleh masyarakat adalah lari dan bersepeda.

Untuk menunjang aktivitas tersebut, olahraga seperti latihan beban juga menjadi hal yang penting untuk dilakukan. Tujuannya untuk melatih otot-otot yang digunakan saat berolahraga.

“Misalnya, (saat) bersepeda kan (tubuh) akan lebih sering membungkuk. Jadi, melatih otot punggung itu perlu dilakukan. Dengan begitu, badan akan menjadi lebih kuat saat bersepeda. Begitu juga dengan lari. Otot kaki juga perlu dilatih,” katanya.

Dalam berolahraga, peralatan yang digunakan juga berperan penting terhadap efektivitas suatu gerakan.

Maka itu, dr Sapto menyarankan untuk menggunakan peralatan seperti sepatu dan pakaian yang sesuai dan nyaman saat berolahraga.

“Peralatan sebenarnya sifatnya pasif dan itu akan tergantung kepada penggunanya. Makanya, pengguna harus memilih peralatan yang cocok dengan jenis olahraganya. Kalau peralatannya tidak cocok untuk menunjang kegiatan olahraga, jelas akan memperbesar risiko cedera,” tutur dr Sapto.

Kemudian, ia juga menyarankan masyarakat agar tidak memaksakan diri dalam berolahraga, terutama saat sedang dalam pemulihan.

Sebaiknya, pemulihan tersebut dituntaskan terlebih dahulu. Dengan demikian, cedera bisa dihindari dan aktivitas olahraga bisa dilakukan secara maksimal.

Jenis cedera

Dalam olahraga, cedera dapat dibagi dalam dua jenis, yakni cedera ringan dan berat. Untuk mengenali keduanya, seseorang harus terlebih dahulu mengenali keluhan yang dirasakan.

“Cedera itu bisa mengenai jaringan keras seperti tulang atau lunak seperti otot. Misal cedera ringan itu otot rasanya seperti ditarik. Nah, kalau berat itu biasanya sampai sobek. Sama juga dengan urat, kalau ringan seperti ditarik juga. Kalau sampai putus, itu sudah masuk cedera berat,” ucap dr Sapto.

Pada penanganan cedera ringan, lanjut dr Sapto, terdapat metode penanganan sederhana dalam dunia medis, seperti rest, ice, compression, dan elevation (RICE).

Bila gejala cedera ringan sudah dirasakan, sebaiknya langsung istirahatkan tubuh. Kemudian, segera lakukan tindakan selanjutnya untuk mencegah cedera yang lebih parah.

“Setelah itu, kompres dengan sesuatu yang dingin seperti es. Jangan pakai balsem atau sejenisnya yang justru malah membuat panas. Lakukan ini tiap dua jam sekali. Untuk elevation, misal mengalami keseleo pada kaki, letakkan tungkai kaki di atas bantal atau lebih tinggi dari posisi jantung. Ini berfungsi membantu mendorong cairan keluar dari daerah pembengkakan,” ucap dr Sapto.

Untuk penanganan cedera berat, seseorang harus melakukan pengecekan lebih lanjut kepada tenaga profesional.

Hal tersebut diperlukan untuk mengetahui seberapa parah cedera yang didapat. Dari situ, pasien akan diberikan penanganan lebih lanjut, seperti terapi atau operasi.

Sebagai contoh di Mayapada Hospital. Rumah sakit ini memiliki fasilitas Orthopedic Center untuk membantu masyarakat yang mengalami cedera akibat aktivitas olahraga.

Fasilitas ini menyediakan berbagai rangkaian pelayanan, mulai dari diagnosis, terapi, dan bedah ortopedi.

Fasilitas tersebut juga diisi oleh tim yang telah terkualifikasi dan radiografer berpengalaman yang siap menangani x-ray, ultrasound, dan scan Magnetic Resonance Imaging (MRI).

Selain itu, kata dr Sapto, Orthopedic Center Mayapada Hospitals sudah memiliki peralatan medis untuk penanganan cedera yang lengkap, baik itu peralatan operasi maupun nonoperasi.

Tak hanya itu, Mayapada Hospitals juga memiliki klinik olahraga yang berfungsi untuk membantu melayani serta memberikan edukasi terkait olahraga kepada masyarakat.

“Klinik tersebut ditujukan untuk melayani yang berkaitan dengan olahraga. Misalnya, kami membantu pasien untuk membuat program kebugaran. Ini juga yang kami tawarkan ke banyak perusahaan untuk membantu kondisi karyawannya tetap sehat dan bugar. Nantinya, kami akan melakukan tes terhadap level kebugarannya, lalu membuatkan program kesehatannya juga,” jelas dr Sapto.

Melalui program tersebut, Mayapada Hospital tak ingin sekadar melayani permasalahan seputar kesehatan, tetapi juga memberikan edukasi kepada masyarakat.

Sebagai informasi, pada kuartal III 2021, Mayapada Hospital akan membuka cabang di Kota Surabaya, Jawa Timur. Lokasinya, berada di Jalan Mayjen Sungkono Nomor 20, Surabaya Barat.

Bagi Anda yang berdomisili di Kota Surabaya dapat mengunjungi fasilitas kesehatan tersebut untuk pemeriksaan cedera akibat olahraga. 

Selain itu, Mayapada Hospital juga membuka layanan telekonsul terkait berbagai gangguan kesehatan. Bagi yang ingin menggunakan layanan tersebut, silakan hubungi 150770.

Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.