Advertorial

Bisa Sebabkan Gagal Napas, Influenza Tak Boleh Diabaikan Penderita Diabetes

Kompas.com - 31/07/2021, 09:11 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com - Meski tergolong sebagai penyakit paling umum yang dialami masyarakat Indonesia, flu tak boleh dianggap remeh.

Pasalnya, penyakit yang disebabkan oleh virus influenza ini bisa berdampak serius bila tak ditangani secara tepat. Terutama, bagi kelompok rentan dan penderita komorbid, seperti diabetes.

Ahli penyakit dalam konsultan endokrinologi Dr dr Fatimah Eliana Taufik, SpPD-KEMD mengatakan, berdasarkan keterangan Badan Kesehatan Dunia (WHO), influenza bisa mengakibatkan pneumonia hingga kematian.

“(Influenza) bisa menyebabkan kematian. Bila pneumonia akibat influenza tidak segera diatasi, misalnya tidak diberikan obat-obatan yang kuat serta didukung oksigen dan nutrisi yang baik, bisa menyebabkan gagal napas,” ujar dr Fatimah saat dihubungi Kompas.com, Kamis (22/7/2021).

Meski demikian, dr Fatimah menjelaskan, virus influenza bisa dikatakan ringan atau berat tergantung dari strain virus yang menyerang dan kondisi penderitanya. Hal ini karena virus influenza sering mengalami mutasi.

Dokter Fatimah menambahkan, di Indonesia, kasus influenza dapat terjadi sepanjang tahun tanpa kenal musim. Kasus banyak terjadi pada musim pancaroba, yaitu masa peralihan dari musim penghujan ke musim kemarau.

Untuk diketahui, virus influenza terdiri dari tiga tipe, yaitu A, B, dan C. Inang atau host virus influenza A adalah manusia dan hewan. Sementara, tipe B hanya menginfeksi manusia dan tipe C menyebabkan infeksi ringan,” jelasnya.

Dari sisi gejala, dr Fatimah menambahkan, tipe A dan B dapat menimbulkan gejala ringan dan berat. Kembali lagi, hal ini tergantung pada kondisi setiap pasien.

Untuk gejala ringan, misalnya, penderita akan mengalami demam, pilek, dan nyeri otot. Sementara, pada pasien bergejala berat, virus ini berisiko menyerang organ paru-paru sehingga menyebabkan pneumonia.

Meski demikian, seseorang tak hanya dapat mengalami infeksi akibat virus saja, tetapi juga disertai komplikasi infeksi oleh bakteri maupun virus lain.

“Selain terpapar virus influenza, pasien juga bisa mengalami infeksi sekunder atau ko-infeksi yang diakibatkan oleh bakteri, seperti Streptococcus pneumoniae, Pseudomonas aeruginosa, Haemophilus influenza dan virus seperti virus penyebab COVID-19,” terangnya.

Waspadai influenza pada pasien diabetes

Dokter Fatimah menjelaskan, infeksi virus influenza bisa berdampak buruk bagi pasien yang memiliki penyakit penyerta seperti diabetes. Hal ini dikarenakan adanya penurunan imunitas pada pengidap diabetes sehingga infeksi virus ini dapat menimbulkan komplikasi.

“Komplikasi influenza pada diabetes bisa mengakibatkan pneumonia berat hingga terjadi gagal napas dan kematian. Karenanya, baik penderita diabetes, orang lanjut usia (lansia), maupun penderita komorbid lain harus menjalani rawat inap (saat telah terjadi komplikasi influenza),” paparnya.

Untuk diketahui, lanjut dr Fatimah, menurut penelitian, pasien diabetes yang mengalami influenza memiliki risiko rawat inap yang meningkat tiga hingga enam kali lipat.

Sementara, risiko dirawat di intensive care unit (ICU) meningkat empat kali lipat dan risiko meninggal meningkat enam kali lipat. 

Dokter Fatimah mengatakan, di Indonesia belum ada laporan khusus mengenai prevalensi influenza pada penderita diabetes. Namun, berdasarkan Riset Kesehatan Dasar (2018), angka prevalensi diabetes di Indonesia mencapai 8,5 persen dari 270 juta penduduk Indonesia.

“Bayangkan, kalau 8,5 persen penduduk Indonesia mengalami diabetes, (berarti) hampir 30 juta orang yang mengalami diabetes dari 270 juta penduduk Indonesia. Artinya, (ada) 30 juta penderita diabetes rentan mengalami influenza (berat),” jelas dokter Fatimah.

Oleh karena itu, proteksi dan upaya pencegahan influenza pada penderita diabetes harus dilakukan, baik oleh tenaga kesehatan maupun caretaker penderita diabetes.

Agar kualitas hidup penderita semakin baik dan terhindar dari virus influenza, dr Fatimah mengimbau pasien menjaga gula darah agar tetap terkontrol, menjaga asupan makanan yang dikonsumsi, menghindari makanan berlemak, hidrasi tercukupi, konsumsi vitamin, dan olahraga.

Tak kalah penting, lanjut dr Fatimah, penderita diabetes harus melakukan vaksinasi influenza secara berkala.

“Vaksin influenza diberikan setiap tahun sekali. Lagi pula, tidak perlu persiapan khusus untuk vaksin influenza karena tidak ada efek samping yang ditimbulkan secara signifikan,” kata dokter Fatimah.

Walau demikian, di masa pandemi yang mengharuskan seseorang mendapat vaksin Covid-19, perlu ada rentang waktu jika ingin melakukan vaksin influenza.

“Pemberian vaksin Covid-19 dengan vaksin yang lain perlu diberi jarak satu bulan,” kata dr Fatimah.

Untuk diketahui, WHO merekomendasikan pemberian vaksin influenza pada masyarakat sejak usia enam bulan, sedangkan Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia (PAPDI) merekomendasikan vaksinasi influenza pada masyarakat berusia 18 tahun ke atas.

Lebih lanjut, dr Fatimah menjelaskan bahwa vaksin influenza yang sering digunakan di Tanah Air adalah vaksin jenis quadrivalent.

“Vaksin quadrivalent mengandung empat strain virus influenza yang tidak aktif (dua strain A dan dua turunan strain B) sehingga perlindungannnya lebih luas,” terangnya.

Virus influenza dan Covid-19

Sekali lagi, dr Fatimah juga mengingatkan agar lebih waspada terhadap ancaman flu, terutama di tengah situasi pandemi Covid-19.

Meski berbeda secara struktur, kedua virus tersebut menyebabkan gejala yang nyaris sama.

Pihaknya juga menyoroti tingginya angka kematian akibat Covid-19-19. Ia menilai, sejak awal 2020 hingga 2021, muncul jargon dan stigma di masyarakat mengenai larangan berobat ke dokter selama pandemi.

Wacana tersebut pun direspons masyarakat dengan tidak memeriksakan ke dokter saat mengalami sakit, terutama seseorang yang memiliki riwayat komorbid. Alasannya, demi mencegah terpapar Covid-19.

Dokter Fatimah menyayangkan hal itu. Menurutnya, kondisi tersebut dapat mengakibatkan kadar gula pasien dengan diabetes tidak terkontrol.

Hal sama juga terjadi pada pasien komorbid lain, seperti hipertensi dan jantung. Alhasil, tekanan darah tak terkontrol dan pasien jantung tidak tertib mengonsumsi obat.

“Itulah yang menyebabkan pasien mengalami kondisi yang lebih buruk, baik yang terpapar virus influenza atau Covid-19. Sementara, di satu sisi, daya tahan mereka semakin menurun sehingga tubuh tidak mampu melawan virus,” jelasnya.

Padahal, menurut dr Fatimah, pasien diabetes mestinya melakukan kontrol secara rutin ke dokter.

“(Gara-gara abai dan menahan diri ke dokter) tiba-tiba, pasien datang ke rumah sakit (RS) dalam kondisi terpapar Covid-19 dengan (kondisi) kadar gula sudah mencapai ratusan bahkan ribuan. Ada pula pasien yang enggak pernah tahu sedang mengalami diabetes. Saat diperiksa ternyata gulanya sudah tinggi,” ungkapnya.

Oleh karena itu, dr Fatimah mengimbau masyarakat agar memeriksakan diri ke dokter saat mengalami gangguan kesehatan. Tujuannya, untuk meminimalisasi risiko dan komplikasi yang lebih serius serta mendapatkan diagnosis yang tepat.

“Jadi, menurut saya, selain rutin vaksinasi secara berkala dan menjaga pola hidup yang bersih, datanglah ke dokter, berobatlah ke dokter (secara rutin). (Ingat) kalau punya penyakit kronik yang terkontrol, Anda bisa melakukan telekonsultasi. Namun, bila punya penyakit yang tidak terkontrol, Anda harus datang ke dokter,” tegasnya.

Vaksinasi influenza tidak hanya dapat melindungi Anda dari bahaya penyakit flu, tetapi juga melindungi orang-orang tersayang dan kerabat yang rentan terhadap penyakit flu.

Untuk informasi lebih lanjut tentang vaksin influenza, Anda dapat menghubungi dokter atau fasilitas kesehatan terdekat di tempat Anda.

#ProtectYourLovedOnes #FluBeyondProtection #4BetterProtection

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau