Advertorial

Bangun Ekosistem Kendaraan Bermotor Berbasis Baterai, BPPT dan Pertamina Luncurkan SPKLU

Kompas.com - 05/08/2021, 22:28 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com – Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) bersama PT Pertamina (Persero) meluncurkan Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum (SPKLU). 

Peresmian tersebut diselenggarakan di dua Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) Pertamina Lenteng Agung dan MT Haryono, serta secara virtual melalui Zoom dan akun YouTube BPPT, Kamis (5/8/2021).

Kepala BPPT Hammam Riza mengatakan, kehadiran SPKLU merupakan salah satu upaya untuk memperkuat dan mendukung pengembangan ekosistem kendaraan bermotor listrik berbasis baterai (KBLBB) di Indonesia.

“Hal tersebut sesuai dengan Peraturan Presiden (Perpres) No 55 Tahun 2019 tentang Percepatan Program Kendaraan Program Listrik Berbasis Baterai untuk Transportasi Jalan. Untuk itu, kami terus memberikan kontribusi positif yang mengefisiensikan penggunaan bahan bakar,” kata Hammam dalam acara peresmian SPKLU.

Ia melanjutkan, kerja sama BPPT dengan Pertamina merupakan langkah awal untuk mengembangkan industri SPKLU dan ekosistem KBLBB di Indonesia.

“Langkah tersebut juga menjadi dukungan untuk mengoptimalkan penggunaan energi bersih dan terbarukan di Indonesia,” tutur Hammam.

Operasional SPKLU, tambah Hammam, akan sepenuhnya dijalankan oleh Pertamina.

Untuk diketahui, BPPT juga mengembangkan charging station management system (CSMS) sebagai upaya pengembangan SPKLU. Sistem ini diproyeksikan mampu memonitor seluruh fasilitas SPKLU yang telah dibangun dan dikerjasamakan dengan pihak mitra.

Pada kesempatan yang sama, Deputi Bidang Teknologi Informasi, Energi, dan Material BPPT Eniya Listiani Dewi mengatakan, berdasarkan asumsi data Kementerian Perindustrian (Kemenperin), skenario KBLBB akan mengalami peningkatan hingga 77,5 persen pada 2050.

Pada tahun tersebut, kendaraan listrik diprediksi akan menjadi lifestyle dan future trend.

“Ekosistem KBBLB yang terdiri dari charging station, sumber energi, dan baterai akan menciptakan pasar lokal KBLBB. Oleh karena itu, kita perlu mempersiapkan industri KBLBB dan baterai,” kata Eniya.

Targetkan penurunan karbon emisi

Direktur Utama (Dirut) Pertamina Nicke Widyawati mengatakan, pembangunan SPKLU merupakan salah satu upaya Pertamina dalam mendukung program pemerintah, yaitu net zero emission atau bebas emisi karbon pada 2060.

“Kami memprediksi target tersebut mulai tercapai dengan menurunkan karbon emisi 29 persen pada 2030. Saat ini, sudah 100 SPBU Pertamina (yang dilengkapi) dengan SPKLU. Target kami bisa mencapai 300 (SPKLU) pada akhir 2021,” ujar Nicke.

Selain itu, imbuhnya, Pertamina juga mulai mendistribusikan penyewaan motor listrik di sejumlah daerah wisata.

Sebagai informasi, SPKLU yang diinisiasi oleh BPPT dan Pertamina berjenis fast charging dengan tipe AC 22 kilowatt(kW) dan plug charger AC tipe 2 untuk kendaraan listrik roda empat.

Sementara untuk kendaraan listrik roda dua, plug charge yang digunakan berjenis Chogori dan Jnicon.

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau