Advertorial

Kredit Pertanian BRI Tembus Rp 117,54 Triliun, Pembiayaan Rice Mill Jangkau Lebih dari 40.000 Nasabah

Kompas.com - 10/08/2021, 12:59 WIB

KOMPAS.com - PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk atau BRI berhasil menyalurkan kredit untuk sektor pertanian sebesar Rp 117,54 triliun. Jumlah ini adalah catatan yang dibukukan BRI hingga akhir kuartal II 2021.

Angka tersebut menunjukkan pertumbuhan 12,8 persen secara tahunan atau year on year (yoy) dibandingkan periode yang sama pada tahun sebelumnya.

Tak hanya itu, penyaluran kredit BRI juga memiliki market share yang cukup besar. Hingga Maret 2021, total penyaluran kredit pertanian BRI mencapai 28,03 persen dari total kredit pertanian perbankan nasional.

Direktur Bisnis Kecil dan Menengah BRI Amam Sukriyanto mengatakan, pencapaian tersebut menjadi bukti nyata bahwa sektor pertanian memiliki peran penting dalam mendongkrak penyaluran kredit industri perbankan nasional.

Ia menjelaskan, pertumbuhan kredit industri perbankan nasional secara umum tercatat sebesar 0,59 persen yoy pada akhir Juni 2021. Sementara itu, BRI mampu mencatatkan penyaluran kredit kepada sektor pertanian sebesar 12,8 persen yoy.

“Itu menunjukkan bahwa sektor pertanian memiliki resiliensi yang tinggi. Kami berkomitmen untuk terus memberdayakan sektor ini dan menjadi akselerator kebangkitan ekonomi nasional,” kata Amam dalam siaran pers yang diterima Kompas.com, Selasa (10/8/2021).

Amam melanjutkan, khusus pembiayaan ekosistem beras dengan rice mill unit, BRI telah menjangkau 40.798 nasabah dengan total penyaluran kredit Rp 4,1 triliun sampai Juni 2021. Adapun jumlah outstanding pinjaman pada sektor pertanian hingga saat ini mencapai Rp 3,2 triliun.

Pinjaman tersebut disalurkan melalui skema Kredit Usaha Rakyat (KUR) mikro, KUR ritel, Small Medium Enterprise (SME) BRI, dan Kredit Umum Pedesaan (Kupedes) BRI.

Amam menambahkan bahwa dalam pengembangan rice mill unit, diperlukan peningkatan kapasitas manajerial dan pengolahan semi waste. Kedua hal ini akan menghasilkan competitive value untuk rice mill unit supaya dapat berkompetisi dengan perusahaan beras besar lainnya.

“Pengolahan semi waste dapat memberikan keuntungan tambahan kepada pengelola rice mill unit dengan menghasilkan produk-produk turunan lain. Produk tersebut di antaranya adalah beras patah menjadi bihun, dedak putih menjadi bahan kosmetik, serta bekatul menjadi bahan dasar bubur bayi,” ujar Amam.

Petani sedang mengeringkan gabah.DOK. BRI Petani sedang mengeringkan gabah.

Selain menyalurkan pembiayaan, peran BRI dalam mengembangkan sektor pertanian di Indonesia dilakukan dengan cara menyalurkan Kartu Tani kepada masyarakat. Sampai akhir kuartal II 2021, BRI telah mendistribusikan Kartu Tani kepada 4,4 juta petani di Indonesia.

“BRI berharap, manfaat Kartu Tani dapat dinikmati bagi petani, kios pupuk, produsen pupuk, sampai pemerintah. Kami berkomitmen mendukung keberhasilan penggunaan Kartu Tani untuk pembelian pupuk bersubsidi,” ujar Amam.

BRI berkomitmen untuk mengusung amanat pemerintah dalam menyalurkan Kartu Tani di berbagai wilayah Indonesia. Mulai dari Kepulauan Riau (Kepri), Banten, Daerah Khusus Ibukota (DKI) Jakarta, Kabupaten Tasikmalaya di Jawa Barat, Jawa Tengah, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), Kalimantan Barat (Kalbar), hingga Kalimantan Utara (Kaltara).

Kemudian, Kalimantan Tengah (Kalteng), Kalimantan Timur (Kaltim), Sulawesi Barat (Sulbar), 14 kabupaten dan kota di Sulawesi Selatan (Sulsel), Sulawesi Tengah (Sulteng), Maluku, Maluku Utara (Malut), 5 kabupaten dan kota di Nusa Tenggara Barat (NTB), Nusa Tenggara Timur (NTT), serta Papua dan Papua Barat.

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau