Advertorial

Lewat Webinar #MakinCakapDigital, Kemenkominfo Ingin Hadirkan Konten Viral yang Positif

Kompas.com - 12/08/2021, 09:04 WIB

KOMPAS.com – Media sosial kini menjadi salah satu tempat yang digunakan masyarakat untuk menuangkan keluh kesah. Mulai dari isu politik, ekonomi, sosial, sampai urusan pribadi dapat dituangkan dalam bentuk status di media sosial.

Meski demikian, bukan berarti konten yang dituangkan bisa asal. Membuat konten di media sosial harus tetap memperhatikan etika dan tata krama supaya tidak menyinggung pihak lain. Aktivitas di media sosial pun sudah diatur dalam Undang-Undang (UU) Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE).

Menanggapi hal tersebut, Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo) menggelar seri webinar literasi digital #MakinCakapDigital bertema "Konten Positif yang Siap Viral", Jumat (6/8/2021). Webinar ini diikuti oleh puluhan peserta secara daring di Kota Tangerang Selatan.

Narasumber yang hadir pada webinar tersebut berasal dari berbagai bidang keahlian dan profesi, yakni dosen Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (Fisipol) Universitas Gadjah Mada (UGM) dan anggota Indonesian Association for Public Administration (IAPA) Bevaola Kusumasari, peneliti antropologi M Nur Arifin, perwakilan UMKM Mart dan HdG Team Yoga Regawa Indra, dan praktisi digital marketing sekaligus Founder IStar Digital Marketing Center Isharshono SP.

Tema yang dibahas masing-masing narasumber meliputi digital skills, digital ethics, digital culture, dan digital safety.

Menjadi narasumber pertama, Bevaola Kusumasari memaparkan bahwa secara teoretis, media baru memberi kesempatan publik untuk berkuasa. Adapun yang dimaksud berkuasa adalah kemampuan publik untuk menghasilkan efek yang diinginkan. Hal ini dapat dilakukan hanya melalui sentuhan pada gawai.

Bevaola melanjutkan, setiap pengguna media sosial dapat menyebarkan informasi, baik positif maupun negatif, dalam skala dan dampak yang lebih besar. Salah satu contoh konten positif adalah portal internet dengan konten yang bermuatan pendidikan untuk mengedukasi dan menginspirasi masyarakat.

"Konten positif dapat memengaruhi perubahan perilaku masyarakat ke arah lebih baik. Pada hakikatnya, manusia itu suka belajar. Belajar untuk mengubah tingkah laku membutuhkan asupan informasi sehingga orang dapat berpikir dan menentukan sikap," kata Bevaola dalam siaran pers yang diterima Kompas.com, Selasa (10/8/2021).

Narasumber selanjutnya adalah M Nur Arifin. Ia menjelaskan pentingnya pengendalian diri atau self-control dari setiap individu dalam mengakses, berinteraksi, berpartisipasi, dan berkolaborasi di ruang digital. Tujuannya, supaya media digital bisa dimanfaatkan secara kolektif untuk hal-hal positif.

"Etika perilaku yang harus dimiliki setiap pengguna dunia digital adalah memiliki kesadaran, tujuan, integritas, serta kejujuran. Pasalnya, dunia maya menjadi ladang subur tindakan manipulatif,” kata Nur.

Nur melanjutkan, di era ini, setiap pengguna media sosial dituntut untuk memiliki kompetensi, seperti kemampuan menyeleksi, memilih, serta memilah informasi dan sumber informasi. Karenanya, diperlukan kolaborasi kompetensi untuk berinisiatif dan mendistribusikan informasi yang jujur, akurat, dan etis dengan bekerja sama.

Sementara itu, Yoga Regawa Indra menjelaskan cara mempunyai pengikut atau follower hingga ratusan ribu atau jutaan, seperti selebritas Instagram (selebgram) dan Youtuber. Menurutnya, salah satu cara yang bisa dilakukan adalah membuat judul yang menarik agar dapat menimbulkan rasa penasaran audiens.

"Pastikan konten mudah diingat. Analisis suatu topik yang sedang hangat diperbincangkan sebelum membuat konten cerita. Jika pembuat konten tidak berjuang untuk kontennya, mimpi untuk menjadi pembuat konten andal hanya tinggal angan-angan,” kata Yoga.

Isharshono menjadi narasumber terakhir pada webinar tersebut. Ia memaparkan empat kondisi yang membuat seseorang bisa terkenal di dunia digital. Pertama, terkenal karena viral yang mempermalukan diri. Kedua, terkenal karena kualitas konten yang bagus. Ketiga, terkenal karena settingan berbayar ataupun settingan organik.

“Terkenal karena sesuatu yang buruk, jelek, dan negatif, itu mudah. Namun, yang terpenting adalah terkenal secara positif dengan menampilkan sesuatu yang unik dan berbeda,” ujar Isharshono menjelaskan kondisi terkenal yang terakhir.

Webinar tersebut turut menghadirkan sesi key opinion leader (KOL) yang dihadiri musisi sekaligus finalis ajang Abang None Jakarta Pusat 2011 Tiwu Rayie. Tiwu memberikan tips untuk tetap produktif di masa pandemi, yakni membuat konten kalender.

"Saya menjadikan Instagram sebagai platform untuk membagikan karya. Saya berharap, konten yang dihasilkan dapat menginspirasi para followers,” ujar Tiwu.

Setelah narasumber memaparkan materi, peserta webinar bisa bertanya dan memberikan tanggapan melalui sesi tanya jawab. Siti Syamsiah, salah satu peserta, menanyakan cara tepat untuk mengarahkan anak untuk membuat konten positif dengan bahasa yang baik.

Bevaola yang menjawab pertanyaan tersebut mengatakan bahwa orangtua atau guru harus memberi contoh terlebih dahulu.

“Kekurangan kita, biasanya hanya bicara bikin konten positif, tapi tidak tahu bagaimana cara mempraktikkannya. Jadi, sebagai orangtua atau guru, kita juga harus tahu bagaimana membuat konten yang positif,” kata Bevaola.

Sebagai informasi, webinar tersebut merupakan salah satu rangkaian kegiatan literasi digital yang diselenggarakan Kemenkominfo di Kota Tangerang Selatan, Banten. Kegiatan seri webinar  #MakinCakapDigital terbuka bagi semua orang yang berkeinginan untuk memahami dunia literasi digital.

Kemenkominfo mengapresiasi partisipasi dan dukungan semua pihak sehingga webinar tersebut dapat berjalan dengan baik. Terlebih, seri webinar #MakinCakapDigital menargetkan 12,5 juta jumlah partisipan.

Oleh karena itu, Kemenkominfo membuka peluang sebesar-besarnya kepada semua pihak untuk berpartisipasi pada webinar selanjutnya. Untuk informasi lebih lanjut, silakan kunjungi akun Instagram @siberkreasi.dkibanten dan @siberkreasi.

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau