Advertorial

Perilaku di Dunia Maya Mencerminkan Interaksi di Dunia Nyata, Bagaimana Orang Terpelajar Menyikapinya?

Kompas.com - 12/08/2021, 09:16 WIB

KOMPAS.com - Penggunaan media digital yang semakin tinggi juga perlu penerapan etiket online yang tetap didasarkan pada perilaku tatap muka.

Sebab, perilaku seseorang di dunia maya mencerminkan bagaimana ia bertindak dalam kehidupan nyata. Dengan cara yang sama, apa yang dipelajari secara online dapat diterapkan secara offline.

Berpegang pada prinsip itu, Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo) bekerja sama dengan Jaringan Pegiat Literasi Digital (Japelidi) dan Siberkreasi Gerakan Nasional Literasi Digital dalam menggelar webinar dengan tajuk “Tetap Berprestasi di Masa Pandemi: Kiat Belajar Online”, Kamis (5/8/2021),

Webinar tersebut menghadirkan aktor dan pegiat seni tradisi Danu Anggada Bimantara, aktivis kepemudaan lintas iman Novita Sari, dan Dosen STAI Dr KH Muttaqien Purwakarta Arif Maulana.

Hadir juga penggiat advokasi sosial Ari Ujianto serta presenter dan artis pemeran utama terpuji FFB 2015 Widi Dwinanda selaku narasumber.

Novita menyampaikan bahwa dunia digital sama dengan dunia nyata. Maka dari itu, masyarakat tetap harus mengikuti aturan seperti dalam kehidupan nyata.

“Apalagi, sekarang hampir semua kegiatan (yang biasa) dilakukan offline sudah beralih ke ranah online, khususnya belajar-mengajar,” ujar Novita dalam keterangan tertulis yang diterima Kompas.com, Selasa (10/8/2021).

Ia pun memberikan tips agar menjadi terpelajar dalam berinteraksi di dunia maya, seperti selalu menggunakan bahasa, tata bahasa dan ejaan yang benar, menghargai karya orang lain, menghormati privasi orang lain, serta menghormati keberagaman dan opini yang berbeda.

“Tunjukkan selalu sisi terbaik setiap saat, seperti jujur, akurat, dan selalu cek ejaan penulisan, menulis dalam font hitam yang mudah dibaca, dan batasi penggunaan emoticon,” imbuhnya.

Novita juga mengingatkan masyarakat untuk bersikap sopan dengan cara menyapa orang lain dengan nama atau gelar yang sesuai dan memperhatikan nada suara.

Selaku narasumber key opinion leader, Widi menyampaikan bahwa waktu kosong menjadi berkah baginya. Sebab, ia dapat menantang diri sendiri untuk sesuatu yang baru dan dapat mengisi waktu luang yang menghasilkan.

Kini, Widi pun telah menghasilkan beberapa karya seni, seperti lukisan dan mendekorasi beberapa barang yang dimiliki. Di masa pandemi ini, lanjutnya, banyak skill yang bisa dikembangkan dengan berbagai macam media pula.

“Banyak informasi yang didapatkan dan dikembangkan untuk mengeksplorasi lebih banyak hal lagi,” ujarnya.

Widi juga merasa banyak sekali ruang untuk berkarya yang akhirnya terealisasi di masa pandemi ini. Sebab, pandemi justru mendorong pemanfaatan teknologi digital secara optimal.

Paparannya kemudian mendapat tanggapan dan pertanyaan dari salah saru peserta bernama Manda. Ia menyampaikan pertanyaan, apakah e-learning yang digunakan saat masa pandemi efektif.

“Sebelum pandemi, adik saya sangat aktif di sekolah dan bahkan berprestasi. Namun, semenjak mulai belajar online, dia menjadi kurang bersemangat dan fokusnya juga terbagi-bagi. Adakah cara untuk memaksimalkan belajar online agar tetap semangat dan termotivasi?” tanya Manda.

Ari pun menjelaskan bahwa banyak pihak tidak siap saat penerapan pembelajaran daring diaplikasikan, termasuk orangtua. Sebab, orangtua di samping gaptek, juga jarang mendampingi anak–anaknya.

“Maka dari itu, penting supaya pengajar terdidik menjadi sosok yang penting bagi pembelajaran online. Mereka harus memiliki kecakapan teknologi digital, dan menerapkan metode yang menarik kemasan,” jawab Ari.

Ia pun memberikan tips untuk para pengajar agar jangan cuma mengajar lewat verbal, tetapi juga lewat video audio visual.

“Jangan lupa bahwa dalam pembelajaran online perlu ada jeda waktu,” tambahnya.

Sebagai informasi, webinar tersebut merupakan salah satu rangkaian kegiatan literasi digital yang terbuka bagi semua orang yang berkeinginan untuk memahami dunia literasi digital.

Kemenkominfo sebagai penyelenggara membuka peluang sebesar-besarnya kepada semua anak bangsa untuk berpartisipasi pada webinar selanjutnya melalui akun Instagram @siberkreasi.dkibanten.

Bagi yang ingin mengetahui tentang Gerakan Nasional Literasi Digital secara keseluruhan bisa mengikuti akun Instagram @siberkreasi.

Kegiatan webinar ini juga turut mengapresiasi partisipasi dan dukungan semua pihak sehingga dapat berjalan dengan baik. Harapannya ke depan program literasi digital tersebut sukses mencapai target 12,5 juta par

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau