Advertorial

Peringatan Hari Nyamuk Sedunia, Begini Hindari Risiko Gigitan Nyamuk

Kompas.com - 20/08/2021, 15:08 WIB
Hari Nyamuk Sedunia Dok. EnesisHari Nyamuk Sedunia

KOMPAS.com – Tahukah kamu bahwa 20 Agustus diperingati sebagai Hari Nyamuk Sedunia? Kendati terdengar ganjil, momen tersebut ternyata memiliki sejarah penting yang perlu diketahui.

Lebih dari seabad lalu, tepatnya pada 1894, seorang dokter militer asal Inggris bernama Ronald Ross meneliti tentang malaria di India. Penelitian tersebut dilakukan untuk membuktikan hipotesis Laveran dan Manson yang menyebutkan bahwa nyamuk berperan dalam penyebaran penyakit tersebut.

Setelah mengalami kegagalan berkali-kali, upaya Ross akhirnya berbuah manis. Pada 20 Agustus 1897, ia berhasil mendemonstrasikan siklus hidup parasit penyebab malaria, Plasmodium falciparum, pada nyamuk Anopheles betina.

Pembuktian itu turut menjawab kebenaran hipotesis Laveran dan Manson. Ross pun mendapatkan penghargaan Nobel pada 1902 atas kerja kerasnya dalam meneliti dan mengedukasi masyarakat dunia akan bahaya gigitan nyamuk.

Risiko gigitan nyamuk

Penyakit akibat gigitan nyamuk masuk ke dalam jenis penyakit menular vektor. Vektor sendiri merupakan organisme hidup yang menjadi perantara penularan patogen infeksius antarmanusia atau dari hewan ke manusia.

Menurut Badan Kesehatan Dunia (WHO), selain malaria, terdapat berbagai penyakit lain yang dapat ditularkan dari gigitan nyamuk. Salah satunya, demam berdarah dengue (DBD).

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

DBD merupakan penyakit infeksi virus dengue yang ditularkan nyamuk Aedes aegypti. Hewan ini banyak ditemukan di negara beriklim tropis dan subtropis.

WHO menyebutkan bahwa penyakit tersebut tergolong serius dan mematikan. Insiden global DBD pun meningkat secara dramatis dalam beberapa dekade terakhir. Sekitar setengah dari populasi dunia terancam dan diperkirakan ada 100-400 juta infeksi DBD setiap tahun.

Di Indonesia, DBD pertama kali ditemukan di Kota Surabaya, Jawa Timur (Jatim) pada 1968. Saat itu, sebanyak 58 orang terinfeksi dan 24 pasien di antaranya meninggal dunia. Dengan kata lain, angka kematian dari penyakit tersebut mencapai 41,3 persen.

Hingga kini, DBD masih menjadi salah satu permasalahan kesehatan yang selalu diantisipasi. Pasalnya, luas daerah penyebaran dan jumlah penderita penyakit tersebut kian meningkat seiring bertambahnya penduduk Tanah Air.

Menurut data Kementerian Kesehatan (Kemenkes), total kasus DBD di Indonesia hingga pekan ke-49 2020 mencapai 95.893 kasus, dengan jumlah kematian 661 jiwa. 

Adapun golongan masyarakat yang terkena DBD adalah mereka yang berusia 15-44 tahun (37,54 persen) dan usia 5-14 tahun (33,97 persen).

Sementara, angka kematian akibat DBD paling banyak terjadi pada golongan usia 5-14 tahun (34,13 persen) dan 1-4 tahun (28,57 persen).

Melihat fakta tersebut, Kemenkes terus mengimbau masyarakat untuk selalu menerapkan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) 3M Plus.

Pertama, menguras atau membersihkan tempat-tempat penampungan air, seperti bak mandi, kendi, atau toren. Kegiatan ini idealnya dilakukan setiap hari demi memutus rantai siklus hidup nyamuk.

Kedua, menutup penampungan air. Poin ini juga dapat diartikan sebagai kegiatan mengubur barang bekas di dalam tanah agar tidak mengotori lingkungan. Ketiga, mendaur ulang barang bekas yang berpotensi menjadi tempat perkembangbiakan nyamuk dalam bentuk barang bernilai ekonomis.

Sementara, langkah tambahan pencegahan DBD bisa dilakukan dengan memelihara ikan pemakan jentik nyamuk, menanam tanaman pengusir nyamuk, dan menaburkan bubuk larvasida ke dalam tempat penampungan air.

Kemudian, memasang kawat kasa pada jendela dan ventilasi, rajin memeriksa tempat penampungan air, meletakkan pakaian bekas pada wadah tertutup, memperbaiki saluran dan talang air yang tersumbat, serta gotong royong membersihkan lingkungan.

Selain itu, pencegahan DBD juga bisa dilakukan dengan menggunakan obat antinyamuk. Contohnya, Soffel Alamia dan Force Magic yang merupakan produk antinyamuk dari Enesis Group.

Soffell Alamia merupakan produk antinyamuk yang diformulasikan dari ekstrak daun Cymbopogon (serai). Selain efektif menangkal gigitan nyamuk selama delapan jam, produk yang tersedia dalam bentuk spray dan losion ini juga aman untuk segala jenis kulit, termasuk kulit anak-anak. Formulanya pun tidak lengket dan tidak panas saat digunakan.

Tes efektivitas Soffel Alamia dalam mencegah gigitan nyamuk Dok. Enesis Tes efektivitas Soffel Alamia dalam mencegah gigitan nyamuk

Sementara, Force Magic adalah produk antinyamuk berbentuk aerosol dengan dua bahan aktif alami, yaitu synthetic pyrethroid –zat insektisida yang biasa ditemukan pada bunga krisan– dan eucalyptus oil (minyak eukaliptus). Produk tersebut juga didukung dengan formula Synergist yang dapat melumpuhkan dan membunuh nyamuk.

Karena menggunakan bahan aktif ramah lingkungan, Force Magic mudah dikeluarkan dari dalam tubuh melalui urine, feses, dan saluran pernapasan jika terhirup.

Begitu pula dengan kemasannya. Force Magic menggunakan kaleng yang dapat didaur ulang sehingga relatif lebih ramah untuk lingkungan.

Untuk aroma, kamu tak perlu khawatir karena Force Magic memiliki wangi menyegarkan yang tidak mengganggu pernapasan. Adapun varian aroma yang tersedia adalah Pink, Green Apple, Lemon Fresh, dan Orange Peel.

Produk Soffel Alamia bisa didapat melalui tautan ini. Sementara, Force Magic dapat dibeli di sini.

Demikianlah informasi mengenai sejarah Hari Nyamuk Sedunia serta kiat-kiat yang bisa dilakukan dalam mencegah DBD. Selalu waspada karena gigitan nyamuk sekecil apa pun berpotensi membawa penyakit pada manusia.

Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.