Advertorial

River Tubing di Bantul, Yogyakarta, Pilihan Wisata Untuk Lepas Penat Usai PPKM

Kompas.com - 22/08/2021, 16:24 WIB

KOMPAS.com – Wisata river tubing atau susur sungai di Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), dapat menjadi pilihan untuk melepas penat selepas pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM). Selain seru, wisata ini juga dapat menguji adrenalin.

Jika Anda berencana melancong ke Yogyakarta, jangan lupa untuk mampir ke Polaman River Tubing yang berlokasi di Dusun Polaman, Kelurahan Argorejo, Kapanewon Sedayu, Bantul.

Wahana river tubing di tempat tersebut menawarkan keseruan wisata Sungai Konteng dan keasrian pepohonan hijau yang menyejukkan suasana.

Saat datang ke Polaman River Tubing, wisatawan akan disambut oleh pengelola tempat wisata di sebuah bangunan rumah joglo. Di sini, wisatawan akan diberi penjelasan singkat tentang keselamatan dan keamanan saat melakukan susur sungai.

Selanjutnya, masing-masing wisatawan akan diberi jaket pelampung, helm, sepatu karet, dan ban dalam yang sudah diisi angin penuh.

Ban yang digunakan memiliki ukuran yang sama seperti ban truk dan dilengkapi webbing atau tali khusus outdoor di bagian bawahnya. Tali ini berguna untuk mengurangi risiko terluka di bagian pantat saat melewati jeram berbatu.

Jika semua peralatan telah siap, saatnya wisatawan memulai susur sungai. Pemandu akan membawa wisatawan turun ke sungai dan memulai petualangan seru river tubing.

Setelah pemandu memastikan kembali semua properti keselamatan terpasang dengan benar, satu per satu wisatawan akan dilepas.

Anda tidak perlu khawatir, karena pemandu akan terus mendampingi selama river tubing.

"Aliran Sungai Konteng ini memiliki batuan karst yang spesifik dan itu bisa dinikmati ketika susur sungai. Ada beberapa spot yang bisa jadi tempat selfie. Jadi dijamin seru lah,” ujar salah satu pemandu wisata river tubing, Wagiran, dalam keterangan tertulis yang diterima Kompas.com pada Minggu (22/8/2021).

Wisatawan tampak melakukan susur sungai di Polaman River Tubing, Dusun Polaman, Kelurahan Argorejo, Kapanewon Sedayu, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). DOK. Humas Pemerintah Kabupaten Bantul Wisatawan tampak melakukan susur sungai di Polaman River Tubing, Dusun Polaman, Kelurahan Argorejo, Kapanewon Sedayu, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY).

Selama river tubing di Sungai Konteng, wisatawan akan menempuh jarak sekitar 1,5 kilometer (km) melewati sungai berkelok, terowongan di badan sungai (Gua Perno), dan bekas bendungan kuno peninggalan Belanda.

Menariknya lagi, di tengah perjalanan susur Sungai Konteng, wisatawan akan menemukan air terjun. Jatuhnya air yang tepat berada di kelokan bisa dijadikan ajang untuk berbasah-basahan, sehingga rasanya menyatu dengan alam.

Setelah menempuh perjalanan sekitar satu jam, wisatawan dapat menikmati jernihnya air di Belik Beji.

Wisatawan dapat membersihkan bersih diri di sumber air yang telah dibuatkan bangunan kolam dengan ornamen warna-warni pada dinding di sekitarnya. Belik Beji juga bisa menjadi tempat bermain dan berenang bagi anak-anak.

Belik Beji di Polaman River Tubing, Dusun Polaman, Kelurahan Argorejo, Kapanewon Sedayu, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). DOK. Humas Pemerintah Kabupaten Bantul Belik Beji di Polaman River Tubing, Dusun Polaman, Kelurahan Argorejo, Kapanewon Sedayu, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY).

Usai puas bermain air, wisatawan akan diajak kembali ke rumah joglo untuk menikmati camilan jajanan pasar, seperti kacang tanah rebus, ketela goreng, dan kripik bonggol.

Jika belum puas bermain, masih ada wahana flying fox dengan jarak luncur sekitar 200 meter. Ada pula sejumlah hammock untuk bersantai di bawah rimbun pepohonan.

Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Bantul Kwintarto Heru Prabowo mengatakan, meski saat ini DIY masih dalam situasi PPKM level empat, sejumlah tempat wisata mengaku sudah siap menerima wisatawan.

“Terpenting, semua harus sesuai protokol kesehatan (prokes) dengan menerapkan memakai masker, mencuci tangan, menjaga jarak, menghindari kerumunan, dan membatasi mobilitas (5M)," katanya.

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp 5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau