Advertorial

Bijak dan Waspada Saat Berselancar di Dunia Digital

Kompas.com - 23/08/2021, 13:32 WIB
Ilustrasi dunia digital Dok. ShutterstockIlustrasi dunia digital

KOMPAS.com - Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo) menggelar seri webinar literasi digital #MakinCakapDigital dengan tema "Hidup Pintar di Tengah Dunia Digital" di Jakarta Utara pada Senin (2/8/2021).

Kegiatan tersebut digelar Kemenkominfo untuk meningkatkan literasi digital masyarakat Indonesia agar lebih siap menghadapi digitalisasi.

Kemenkominfo mengundang sejumlah ahli sebagai narasumber webinar tersebut, antara lain Media Planner Ceritasantri.id Aina Masrurin, Dosen Kebijakan Publik Universitas Jenderal Soedirman Dr Dwiyanto Indiahono, Dosen Universitas Esa Unggul Syurya Muhammad Nur, SPd, MSi, serta desainer dan fotografer digital Djaka Dwiandi ST.

Adapun tema yang dibahas oleh masing-masing narasumber meliputi empat hal, yakni digital skills, digital ethics, digital culture, dan digital safety.

Aina Masrurin mengatakan, dunia digital membuka banyak peluang pekerjaan baru, seperti kreator konten, jasa pembuatan situs web, developer aplikasi, dan konsultan search engine optimization (SEO).

“Selain itu, bisa juga berjualan online dengan membangun toko online, bisnis dropship, dan bisnis afiliasi,” kata Aina dalam keterangan pers yang diterima Kompas.com, Jumat (20/8/2021).

Oleh karena itu, lanjutnya, dibutuhkan manajemen pengetahuan yang baik. Hal ini bisa dimulai dengan mencari dan mengumpulkan data, menyaring informasi, menyusun simpulan, mempresentasikan hasil, lalu publikasi atau distribusi.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Pada kesempatan, Dr Dwiyanto Indiahono mengajak masyarakat untuk menjadi netizen yang ramah di dunia nyata dan maya.

"Dalam menggunakan media digital, diperlukan etika berinternet atau netiket," ujarnya.

Menurutnya, netiket diterapkan dalam penggunaan internet, baik yang bersifat pribadi maupun umum. Kemudian, netiket juga dapat diterapkan untuk membangun citra positif.

"Salah satu contohnya adalah menjadi milenial pintar dengan proses belajar tiada henti, berkumpul dengan komunitas yang baik, rancang strategi digital untuk menanggapi peluang dan ancaman, serta maju terus dan pantang menyerah,” katanya.

Kebudayaan dan ancaman dunia digital

Syurya Muhammad mengatakan, kebudayaan merupakan seluruh hasil cipta, rasa, dan karya manusia. Keseluruhan sistem gagasan, tindakan, dan hasil karya manusia dalam rangka kehidupan bermasyarakat, dijadikan milik diri manusia dengan belajar.

Wujud kebudayaan digital adalah dengan memanfaatkan teknologi dengan baik berdasarkan ide kreatif dan inovatif. Setidaknya, terdapat dua sistem budaya dalam dunia digital, yakni sistem aktivitas dan artefak.

"Berbudaya dalam dunia digital saat ini merupakan keharusan agar masyarakat yang cerdas, pintar bermedia sosial, serta modern dapat terwujud. Hal ini tentu sesuai dengan nilai-nilai luhur Pancasila dan aturan hukum yang berlaku," jelasnya.

Sebagai pembicara terakhir, Djaka Dwiandi berpesan kepada masyarakat untuk mewaspadai kejahatan digital, seperti spam, scam, phising, dan hacking.

"Agar terhindar (dari ancaman tersebut), gunakan password yang kuat, pahami dan pastikan pengaturan privasi di setiap akun platform digital, hati-hati mengunggah data pribadi di platform digital, hindari untuk membagikan data pribadi kita, serta waspada jika ada komunikasi atau aktivitas mencurigakan," imbuhnya.

Dalam sesi KOL, Audrey Chandra mengatakan, terdapat dua komponen berbeda dalam dunia digital. Namun, kedua komponen tersebut dapat disatukan.

"Karena teknologi digital itu kan buatan manusia, sedangkan pintar berasal otaknya manusia. Jadi, segala teknologi itu dirancang dari manusia dan untuk manusia," jelasnya.

Pada sesi tanya jawab, salah satu peserta webinar, Indah, menanyakan bagaimana cara menanggapi berita hoaks dan apa yang bisa kita lakukan agar tidak terpengaruh berita hoaks.

Aina sebagai salah satu narasumber menjawab pertanyaan tersebut. Menurutnya, informasi yang baru harus ditanggapi dengan skeptis atau tidak mudah percaya. Terlebih, informasi tersebut berasal dari sumber-sumber yang tidak otoritatif.

“Karenanya, tanggapi dengan mencari informasi serupa yang sudah terverifikasi dengan valid," jawab Aina.

Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.