Advertorial

Selama PJJ, Orangtua Harus Pahami Perasaan Anak Selama Proses Belajar

Kompas.com - 23/08/2021, 13:56 WIB

KOMPAS.com – Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo) kembali menggelar webinar dengan tema “Tantangan dan Peluang Pembelajaran Jarak Jauh di Saat Pandemi Covid-19", Senin (16/8/2021).

Webinar yang merupakan bagian dari program literasi digital #MakinCakapDigital tersebut menghadirkan sejumlah narasumber, yaitu dosen Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Gadjah Mada (UGM) Dr Bevaola Kusumasari dan perwakilan Yayasan Mekar Pribadi, penulis, sekaligus jurnalis Erwan Widyarto.

Hadir pula Dekan FISIP Universitas Budi Luhur Dr Rusdiyanta, Deputy Head of Communication Department, Bina Nusantara University, Jakarta Mia Angeline, serta influencer Shafa Lubis yang turut memberikan informasi mengenai dunia digital.

Bevaola membuka webinar dengan mengatakan bahwa pembelajaran secara daring membuat anak-anak sulit memahami pelajaran dan mudah bosan. Menurutnya, permasalahan tersebut muncul karena anak harus beradaptasi dengan ruang digital yang ada.

“Tidak hanya belajar, adanya sekolah daring menjadi saat yang tepat untuk mengenal dan memahami hal yang baru serta belajar, juga dapat mengingat sesuatu," ujarnya dalam rilis yang diterima Kompas.com, Jumat (20/8/2021).

Bevaola mengatakan bahwa cara belajar yang paling mudah diingat adalah dengan mengulang. Saat mendengar informasi, lanjutnya, tulis dan ceritakan kembali. Pengulangan tersebut bermanfaat untuk memperkuat memori dalam belajar.

Menurutnya, belajar tidak hanya terbatas pada membaca buku pelajaran, tetapi bisa dari apa pun.

“Tak kalah penting, perasaan anak ikut memengaruhi proses belajar. Jika anak senang, pancaindranya akan bekerja lebih baik dan konsentrasi lebih lama,” kata Bevaola.

Ia melanjutkan, jika anak dalam kondisi lelah, mengantuk, serta lapar, pancaindranya tidak mampu bekerja dengan baik. Dengan demikian, konsentrasi akan terganggu dan anak tidak mampu mengingat apa yang dipelajari.

Suasana belajar juga harus menyenangkan agar anak dapat belajar lebih baik dan mudah diarahkan. Bevaola juga mengingatkan bahwa setiap anak memiliki gaya belajar masing-masing.

Oleh karena itu, orangtua diharapkan mengenal dan memahami gaya belajar anak sehingga mudah dalam mendampingi belajar.

"Gaya belajar yang baik untuk anak agar lebih semangat adalah secara visual karena anak cenderung lebih suka dan mudah menerima informasi dengan cara melihat. Lalu, auditori dan kinestetik. Tak lupa untuk membuat jadwal kegiatan, komunikasi positif, dan ingatkan waktu," imbuhnya.

Rusdiyanta mengatakan bahwa perkembangan teknologi bukan sekadar perubahan. Perubahan ini bersifat revolusioner.

Meski demikian, menurutnya, kemajuan teknologi tetap harus berpegang teguh pada ajaran-ajaran yang diperintahkan oleh Tuhan YME dengan sentuhan moral dan nilai-nilai kemanusiaan yang tinggi para penggunanya.

Rusdiyanta menjelaskan, saat ini terdapat dua wajah teknologi digital, yaitu distopia dan utopia. Distopia merupakan kondisi kehidupan masyarakat yang tidak diinginkan, bahkan sangat menakutkan, seperti penipuan, pornografi, perundungan, dan hoaks.

Sementara itu, utopia adalah kondisi ideal yang diinginkan atau dicita-citakan, seperti pendidikan, kesehatan, lingkungan, dan hal-hal yang positif lainnya.

Menurutnya, internet membuka akses ke konten yang lebih luas untuk pengajaran. Jadi, tidak hanya dari buku, tetapi juga sumber lain.

“Supaya anak lebih aman saat berinternet, orangtua dapat berkomunikasi dengan terbuka, menggunakan fitur perlindungan teknologi, menemani anak saat mengakses internet, dan mengajarkan anak untuk tetap berperilaku baik di dunia maya," ujar Rusdiyanta.

Erwan Widyarto turut menjelaskan, digital culture atau budaya digital adalah sebuah konsep yang menggambarkan gagasan bahwa teknologi dan internet secara signifikan membentuk cara manusia berinteraksi, berperilaku, berpikir, dan berkomunikasi.

Pada masa pandemi, kata Erwan, berkat keberadaan ruang digital, hampir semua aktivitas dilakukan secara daring, seperti silaturahmi virtual, konser streaming, pelatihan webinar, belanja online, mengaji online, pemilu e-voting, serta sekolah e-learning.

Menurutnya, pembelajaran daring menimbulkan dampak sisi positif dan negatif. Dampak positifnya, timbulnya kreativitas tanpa batas dalam pembelajaran, kolaborasi guru dan orangtua, serta meleknya teknologi informasi.

"Sisi negatifnya, bersekolah dari rumah meniadakan pembelajaran di kelas. Alhasil, pembelajaran jadi lebih berat dan risiko penyalahgunaan internet oleh anak meningkat. Banyak yang belum siap," ungkapnya.

Hal yang sama juga diungkapkan Mia. Ia mengatakan tantangan pembelajaran jarak jauh (PJJ) antara lain kurangnya interaktif, sulit berinteraksi dengan teman, banyak distraksi, dan juga kurangnya keahlian digital.

Media digital, lanjutnya, tidak luput dari adanya kejahatan atau serangan digital, seperti rekayasa sosial, malware, dan sniffing.

"Dengan adanya ruang digital sebagai proses pembelajaran jarak jauh, mengenai keamanan dan kenyamanan bermedia digital harus seimbang,” ujarnya.

Demi menghindari serangan digital tersebut, Mia menyarankan untuk melindungi perangkat dan identitas diri serta hati- hati dengan jejak digital.

Sistem PJJ juga dapat menimbulkan stres. Meski begitu, Shafa, menjelaskan setiap individu mempunyai tingkat stres yang berbeda-beda.

"Maka dari itu, kita harus memotivasi untuk diri sendiri. Ketika membuka internet, harus tahu visi kita apa. Jadi, bisa lebih banyak lagi sesuai yang diinginkan dan cocok untuk kita," katanya.

Salah satu peserta webinar bernama Sonya menanyakan tentang seberapa efektif pembelajaran daring di masa pandemi Covid-19.

"Tentu efektif. Daripada tidak belajar sama sekali, belajar bisa dilakukan secara daring. Sekarang, tinggal cara kita memanfaatkan sebaik mungkin yang terjadi. Lalu, menikmati keadaan sekarang," jawab Bevaola.

Sebagai informasi, webinar tersebut merupakan salah satu rangkaian kegiatan literasi digital yang terbuka bagi siapa saja yang berkeinginan untuk memahami dunia literasi digital.

Penyelenggara membuka peluang sebesar-besarnya kepada semua anak bangsa untuk berpartisipasi pada webinar selanjutnya melalui akun Instagram @siberkreasi.dkibanten dan @siberkreasi.

Kemenkominfo turut mengapresiasi partisipasi dan dukungan semua pihak sehingga webinar dapat berjalan dengan baik.

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau