Advertorial

Kantongi Sertifikat Carbon Credit, PGE Siap Dukung Pengurangan Emisi Karbon pada 2030

Kompas.com - 25/08/2021, 21:27 WIB
PGE menerapkan Clean Development Mechanism (CDM) untuk mendukung penurunan emisi gas rumah kaca pada 2030. DOK. PGEPGE menerapkan Clean Development Mechanism (CDM) untuk mendukung penurunan emisi gas rumah kaca pada 2030.

KOMPAS.com - Pertamina mendukung komitmen pemerintah Indonesia untuk mencapai target pengurangan emisi karbon sebesar 39 persen pada 2030.

Dukungan diwujudkan melalui PT Pertamina Geothermal Energy (PGE) yang merupakan bagian dari subholding Power and New Renewable Energy (PNRE).

Untuk mencapai target tersebut PGE menerapkan Clean Development Mechanism (CDM). Untuk diketahui, CDM merupakan proyek untuk menurunkan emisi gas rumah kaca (GRK) atau karbon.

Dalam mekanisme tersebut negara-negara yang tidak termasuk dalam kategori penghasil emisi karbon tinggi berpartisipasi melalui investasi dalam penurunan emisi di negara penghasil karbon.

Proyek CDM tidak hanya dapat mengurangi pemanasan global dan mendukung pembangunan berkelanjutan, tetapi juga memberi manfaat ekonomi melalui carbon credit.

CDM sendiri sejalan dengan komitmen Pemerintah Indonesia dalam dokumen Intended Nationally Determined Contribution (INDC) yang disampaikan pada Konferensi Iklim PBB tahun 2015 (COP-21) di Paris.

Presiden Joko Widodo, dalam konferensi pers di Paris, Senin (30/11/2015) menyatakan bahwa penurunan emisi GRK merupakan konsekuensi atas penandatangan Protokol Kyoto oleh 188 negara pada 11 Desember 1997. 

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Pemerintah Indonesia, melalui INDC yang disampaikan dalam COP-21 Paris menyatakan komitmen menurunkan emisi GRK hingga 29 persen pada 2030 dengan upaya sendiri dan 41 persen dengan bantuan internasional.

Komitmen tersebut disampaikan karena Indonesia merupakan salah satu negara yang rentan terhadap perubahan iklim.

Sebagai informasi, PGE saat ini mengelola 15 wilayah kerja (WK) dengan total kapasitas pembangkit panas bumi sebesar 1.877 megawatt (MW). Kelima belas WK tersebut juga memiliki potensi pengurangan emisi karbon sebesar 9,7 ton CO2e per tahun.

Potensi pengurangan emisi karbon tersebut termasuk dalam mekanisme CDM dalam United Nations Framework Convention on Climate Change (UNFCCC).

UNFCCC sendiri merupakan sebuah perjanjian lingkungan yang ditandatangani oleh negara-negara yang tergabung di PBB.

Daftar proyek CDM PT Pertamina Geothermal Energy (PGE).DOK. PGE Daftar proyek CDM PT Pertamina Geothermal Energy (PGE).

Perjanjian yang ditandatangani pada 1992 ini bertujuan mengontrol tingkat emisi GRK di atmosfer sampai tingkat yang mampu mencegah campur tangan manusia dengan sistem iklim.

Selain itu, langkah pengurangan emisi karbon PGE tecermin dalam tujuh proyek carbon credit yang dimulai sejak 2010.

Adapun ketujuh proyek tersebut terdiri dari CDM, Verified Carbon Standard (VCS), dan Gold Standard sebagai premium label proyek CDM.

Potensi ekonomi carbon credit

Saat ini, PGE memiliki 5 proyek carbon credit berjenis CDM Gold Standard (CDM-GS), yakni Kamojang unit 5, Karaha unit 1, Lumut Balai unit 1 dan 2, Lumut Balai unit 3 dan 4, serta Ulubelu unit 3 dan 4.

Dengan sertifikasi Gold Standard harga jual carbon credit berpotensi menjadi lebih tinggi. Pengelolaan CDM-GS dilakukan bersama SouthPole Carbon Assets Management, Ltd (SPCAM).

Dua proyek carbon credit PGE selanjutnya bersertifikasi VCS yang terdiri dari Lahendong unit 5 dan 6. Proyek ini awalnya adalah proyek CDM yang kemudian diubah menjadi VCS karena potensi harga jual carbon credit-nya menjadi lebih tinggi. Kedua proyek tersebut berada dalam tahap persiapan verifikasi dan penjualan.

VCS sendiri merupakan sertifikat proyek penurunan emisi GRK yang dibuat oleh lembaga nonkomersil The Climate Group, International Emissions Trading Association (IETA), The World Economic Forum, dan The World Business Council for Sustainable Development pada 2005.

Sertifikasi ini menitikberatkan pada nilai tambah berupa pengembangan metodologi baru di luar CDM. Mekanismenya relatif lebih sederhana dan biaya transaksi lebih murah.

Setelah berakhirnya Protokol Kyoto memang memberi tantangan berupa penurunan harga jual carbon credit yang signifikan. Meski demikian, PGE berharap pasar CDM bisa lebih stabil di tahun mendatang. Sebab, saat ini kepedulian negara-negara di dunia akan penggunaan energi bersih dan penguranan emisi karbon meningkat.

Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.