Advertorial

Menteri BUMN dan BRI Dukung Produksi Padi Model Bisnis Klaster dan Penggunaan Teknologi Modern di Cirebon

Kompas.com - 30/08/2021, 14:14 WIB

KOMPAS.com – Komitmen nyata dalam mendorong terwujudnya ketahanan pangan nasional diwujudkan Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) dengan melibatkan ragam perusahaan BUMN.

Tidak hanya meningkatkan produksi pertanian serta memberikan pelatihan dan pendampingan, Kementerian BUMN juga meminta perusahaan pelat merah terlibat penuh dalam penerapan model bisnis klaster dan teknologi modern.

Oleh karena itu, Kementerian BUMN mengapresiasi upaya PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) atau BRI yang bertujuan untuk mewujudkan ketahanan pangan, seperti dukungan pembiayaan terhadap rice mill unit (RMU).

Salah satu dukungan tersebut diberikan kepada RMU CV Bintang Tani Niaga yang berlokasi di Guwa Lor, Kabupaten Cirebon, Jawa Barat.

Untuk melihat langsung penggilingan padi yang strategis dalam memasok kebutuhan beras di Jawa Barat tersebut, Menteri BUMN Erick Thohir bersama Direktur Utama (Dirut) BRI Sunarso pun mengunjungi RMU CV Bintang Tani Niaga pada Minggu (29/8/2021).

“Ketersediaan bahan pangan sangat penting dalam konteks ketahanan pangan nasional. Karena itu, kami terus mendorong perbankan dan menghargai usaha yang BRI lakukan untuk mendukung pelaku UMKM di sektor pertanian dan pangan,” kata Erick dalam rilis yang diterima Kompas.com, Senin (30/8/2021).

Dorongan tersebut, lanjutnya, merupakan salah satu upaya pemerintah dalam menjaga ketahanan pangan nasional.

Sebagai informasi, RMU CV Bintang Tani Niaga yang mendapat fasilitas pinjaman Kredit Modal Kerja (KMK) dari BRI dinilai strategis karena memiliki rekanan hingga 48 penggilingan padi.

Penggilingan tersebut tersebar di beberapa wilayah, di antaranya Kabupaten Indramayu sebanyak 28 unit, Cirebon 14 unit, Majalengka 2 unit, Kuningan 2 unit, dan Demak 2 unit.

Saat ini, RMU CV Bintang Tani Niaga mempunyai kapasitas produksi penggilingan padi hingga 20 ton per hari atau sekitar 400 ton per bulan. Dengan pengajuan Kredit Investasi (KI), kapasitas produksi RMU dapat ditingkatkan hingga mencapai 50 ton per hari.

Penggilingan padi di daerah Jawa Barat itu juga sudah melayani pasokan pangsa pasar penjualan beras hingga 2.300 ton setiap bulan.

Pada kegiatan operasionalnya, CV Bintang Tani Niaga melibatkan 179 petani anggota koperasi dengan luas sawah 200 hektare (ha) dan 50 petani nonanggota koperasi dengan luas sawah 100 ha. 

“Hal yang saya puji dari keterlibatan BRI dalam mendukung ketahanan pangan adalah melakukan pembinaan dan pemberdayaan melalui model bisnis klaster padi,” tutur Erick.

Pasalnya, tambah Erick, kualitas pertanian padi Indonesia sangat bergantung pada ekosistem bisnis yang terbangun.

Untuk itu, pertanian membutuhkan ekosistem yang dapat mengintegrasikan seluruh proses bisnis, baik on-farm maupun off-farm secara optimal.

“BRI hadir sebagai mitra yang memberdayakan dan menguatkan ekosistem keuangan bisnis secara menyeluruh,” ujarnya.

Untuk diketahui, hingga triwulan II 2021, BRI telah menyalurkan kredit di sektor pertanian sebesar Rp 117,54 triliun. Jumlah ini tumbuh 12,8 persen secara tahunan atau year on year (yoy).

Angka penyaluran kredit BRI tersebut mengambil market share sebesar 28,03 persen dari penyaluran kredit bank secara nasional untuk sektor pertanian.

Sunarso menjelaskan, seiring dengan peningkatan produksi beras nasional, BRI terus berupaya mengakomodasi kebutuhan pelaku usaha di sektor tersebut.

“Khusus pembiayaan ekosistem beras dengan RMU sampai dengan Juni 2021, BRI telah menjangkau lebih dari 40.000 nasabah dengan penyaluran kredit mencapai Rp 4,1 triliun,” katanya.

Sunarso menambahkan, untuk mendukung model bisnis klaster padi, BRI hadir sebagai mitra yang akan memberdayakan dan menguatkan ekosistem keuangan bisnis secara menyeluruh.

“Bahkan, perseroan meluncurkan aplikasi Padichain. Aplikasi ini merupakan platform layanan terpadu dengan digitalisasi ekosistem bisnis padi yang mengintegrasikan para petani, penyedia saprotan, off-taker atau RMU, dan BRI,” paparnya.

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau