Advertorial

Hati-hati, Flu Bisa Tingkatkan Risiko Komplikasi Serangan Jantung

Kompas.com - 01/09/2021, 13:08 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com – Sebagian besar masyarakat menganggap flu atau influenza merupakan jenis penyakit yang ringan, tidak berbahaya, dan dapat sembuh dengan sendirinya.

Walaupun virus penyebab flu terus mengalami mutasi dari waktu ke waktu, beragam jenis obat flu dijual bebas di pasaran untuk mengatasi infeksi virus yang kerap menyebar di musim pancaroba ini. Tak heran, masyarakat pun menganggap flu sebagai penyakit yang tergolong ringan.

Sayangnya, anggapan tersebut tidak berlaku bagi orang yang memiliki gangguan jantung. Mengapa demikian?

Pada pengidap gangguan jantung, flu berpotensi meningkatkan stres yang dapat menyebabkan denyut jantung dan tekanan darah meningkat. Jika dibiarkan, kondisi ini dapat memberi tekanan berlebihan pada jantung sehingga serangan jantung rentan terjadi.

Untuk diketahui, penyakit jantung dapat dibedakan menjadi dua jenis, yaitu bawaan dan yang diderita pada usia dewasa. Penyakit jantung bawaan merupakan kelainan pada jantung yang terjadi sejak lahir.

Sementara, penyakit jantung yang didapat muncul ketika seseorang telah dewasa. Penyakit ini dapat berupa jantung koroner, aritmia, dan kardiomiopati. Dalam kondisi memberat, penyakit jantung koroner ini bisa menyebabkan serangan jantung serta gagal jantung.

Penyakit jantung yang didapat pada usia dewasa biasanya disebabkan oleh gaya hidup tidak sehat, seperti merokok dan kurang aktivitas fisik. Penyakit ini juga dapat dipicu penyakit lain yang diderita, semisal darah tinggi, kencing manis, dan kolesterol tinggi. 

Dokter Spesialis Penyakit Dalam Konsultan Kardiovaskular di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) dan anggota dari Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia (PAPDI) Dr. dr Ika Prasetya Wijaya mengatakan, gejala flu pada penderita jantung ataupun bukan pada dasarnya tidak memiliki perbedaan.

“Gejalanya sama saja, seperti nyeri sendi, demam, batuk, dan bersin. Akan tetapi, penderita jantung harus hati-hati karena flu dapat memperberat kondisi sakit jantungnya,” katanya saat dihubungi Kompas.com, Selasa (18/8/2021).

Tidak hanya itu, pada orang yang memiliki faktor risiko, flu juga memungkinkan timbulnya penyakit lain. Hal ini tergantung kondisi pada pembuluh darah dan pemompa jantung.

“Kami berharap penderita penyakit jantung tidak terkena infeksi saluran pernapasan, seperti flu. Pasalnya, infeksi saluran pernapasan seperti flu dapat menimbulkan kondisi kekurangan oksigen sehingga nadi akan berusaha lebih cepat untuk menambah oksigen,” paparnya.

Nadi yang bekerja lebih cepat, tutur dr Ika, akan memperburuk kinerja jantung. Dampaknya bisa menyebabkan gagal jantung yang berulang akibat oksigenasi ke otot jantung berkurang sehingga menimbulkan menurunnya kemampuan pompa jantung.

Dokter Ika menambahkan, pengidap sakit jantung yang terkena flu memiliki risiko rawat inap 6 hingga 10 kali lipat lebih tinggi dibandingkan yang tidak memiliki riwayat sakit jantung.

“Sementara, risiko kematian akibat flu pada pengidap sakit jantung memiliki rentang antara 2-3 kali lipat. Untuk itu, diharapkan pengidap penyakit jantung jangan sampai terkena flu agar kinerja jantungnya baik,” katanya.

Lebih lanjut, dr Ika menjelaskan, pihaknya masih sering menemukan pengidap sakit jantung yang terkena influenza.

“Ada, banyak yang terinfeksi influenza padahal mereka menderita sakit jantung. Biasanya, di musim pancaroba. Ada yang terkena flu, namun jantungnya masih terkendali. Ada yang terkena flu lalu terkena serangan jantung. Ada juga yang terkena flu kemudian gagal jantungnya muncul lagi,” paparnya.

Oleh karena itu, pasien flu dengan riwayat penyakit jantung harus segera mendapatkan penanganan agar tidak menimbulkan reaksi yang berlebihan pada kinerja jantungnya.

Tidak hanya itu, pasien yang memiliki riwayat penyakit jantung juga diharapkan dapat memiliki waktu istirahat yang lebih banyak agar kinerja jantung kembali normal dan infeksi virus tidak parah.

“Banyak pasien yang sudah sakit, tetapi kurang istirahat karena masih banyak pekerjaan,” kata dr Ika.

Penanganan flu pada penderita penyakit jantung

Dokter Ika juga menjelaskan bahwa penderita penyakit jantung tidak diperbolehkan mengonsumsi obat flu yang beredar di pasaran tanpa resep dari dokter.

“Obat flu memiliki kandungan zat yang dapat menghilangkan hidung tersumbat. Zat ini bisa membuat nadi jantung menjadi lebih cepat atau tekanan darah menjadi naik pada penderita darah tinggi,” paparnya.

Dengan demikian, penderita sakit jantung wajib menghubungi dokter untuk berkonsultasi mengenai obat flu yang boleh dikonsumsi berdasarkan kondisi pasien.

“Untuk menghindari flu memberat pada penderita jantung, pengidap bisa beristirahat dengan cukup dan perhatikan asupan nutrisi. Jangan berolahraga ketika flu, tetapi olahraga ketika tidak kena flu,” pesan dr Ika.

Mencegah bahaya influenza

Penyebaran dan penularan penyakit flu menjadi lebih rentan ketika memasuki musim pancaroba. Meski demikian, tidak tertutup kemungkinan penderita penyakit jantung dapat terkena flu kapan saja.

Karenanya, dr Ika mengimbau pada setiap orang yang memiliki riwayat penyakit jantung untuk mewaspadainya. Salah satu langkah pencegahan yang bisa dilakukan adalah melakukan vaksinasi influenza.

Ilustrasi vaksinasi influenza pada pengidap penyakit jantung.Dok. Shutterstock Ilustrasi vaksinasi influenza pada pengidap penyakit jantung.

Menurut dr Ika, vaksinasi influenza merupakan langkah yang tepat untuk menghindari akibat buruk yang ditimbulkan flu pada penderita penyakit jantung. Hal ini sejalan dengan anjuran yang dikeluarkan Badan Kesehatan Dunia (WHO) dan PAPDI.

“Kami menganjurkan vaksinasi influenza yang bisa diulang setiap tahun atau satu tahun sekali karena strain flu berubah-ubah. Dengan vaksinasi, pasien akan terlindungi dari influenza dan bila masih terkena gejala dan akibat yang ditimbulkan dari flu pada penderita penyakit jantung tidak akan seberat yang tidak vaksin,” kata dr Ika.

Adapun vaksin influenza dapat diberikan pada anak usia 6 bulan hingga dewasa. Sementara, penderita penyakit jantung yang hendak melakukan vaksinasi influenza disarankan untuk berkonsultasi lebih dahulu kepada dokter mengenai kondisinya.

“Vaksin influenza yang bagus saat ini adalah vaksin jenis quadrivalent. Vaksin jenis ini bisa memberikan perlindungan hingga 80 persen karena mengandung empat tipe virus influenza, yakni dua virus strain A dan dua virus turunan strain B yang tidak aktif ,” ungkap dr Ika.

Ia melanjutkan, pada masa pandemi Covid-19, pemberian vaksinasi Covid-19 dan influenza harus memiliki jarak 28 hari. Jika sudah menerima vaksin Covid-19, pemberian vaksin influenza harus dijeda 28 hari setelahnya, begitu juga sebaliknya.

“Saran saya kepada penderita penyakit jantung, diusahakan untuk tidak terkena influenza. Salah satu (caranya) dengan vaksinasi influenza. (Vaksinasinya) diulang setahun sekali karena selalu ada varian terbaru. Harapannya, agar pasien terlindungi dan bila masih terkena akibat yang ditimbulkan dari flu pada penderita penyakit jantung tidak berat,” ujar dr Ika.

Untuk mendapatkan vaksinasi influenza, Anda dapat menghubungi dokter atau fasilitas kesehatan terdekat di tempat Anda untuk mendapatkan vaksinasi influenza.

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau