Advertorial

Membaca Kembali Cerita tentang Padi, Sumber Makanan Pokok Mayoritas Masyarakat Indonesia

Kompas.com - 02/09/2021, 12:47 WIB
Petani bekerja di sawah. Dok. BRIPetani bekerja di sawah.

KOMPAS.com - Padi menjadi makanan pokok bangsa Indonesia, bahkan sebelum nama Indonesia terbentuk. Catatan sejarah yang terpahat pada relief Candi Borobudur menunjukkan bahwa padi sudah dibudidayakan di Indonesia sejak zaman nenek moyang.

Pada masa kolonial Hindia-Belanda (VOC), selain di Jawa, kantong-kantong produksi beras juga muncul di Lombok, Sulawesi Selatan, dan Sumbawa.

Produksi beras mengalami peningkatan di masa tersebut. Bahkan, beras dari Tanah Air berhasil diekspor ke Belanda dan sejumlah negara di Asia Selatan.

Pada saat itu, beras belum menjadi makanan pokok masyarakat Nusantara. Sebab, sebagian masyarakat masih menganggap beras sebagai komoditas utama perdagangan.

Jadi, meskipun jumlah produksi beras cukup besar di wilayah tertentu, masyarakat setempat lebih memilih menjual beras yang mereka panen. Mereka pun memilih sumber pangan yang lebih murah, seperti singkong dan jagung.

Kini, tanaman padi merupakan sumber karbohidrat utama yang menjadi bahan makanan pokok mayoritas masyarakat Indonesia.

- -

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) RI, produksi gabah kering giling (GKG) Indonesia pada 2020 mencapai 54,6 juta ton atau setara beras 31,3 juta ton.

Sementara, total kebutuhan beras untuk konsumsi masyarakat Indonesia dalam setahun sebanyak 29,2 juta ton. Dengan demikian, secara nasional produksi beras surplus sebanyak 1,9 juta ton.

Terkait sebaran daerah sentra produksi beras, mayoritas masih dari beberapa provinsi di Jawa, seperti Jawa Timur, Jawa Tengah, dan Jawa Barat. BPS mencatat kinerja produksi padi relatif terjaga sepanjang 2020.

Beragamnya beras di pasaran

Di Indonesia, masyarakat mengelompokkan beras menjadi tiga golongan, yaitu beras putih, beras hitam, dan beras merah. Meski demikian, konsumsi beras merah dan beras hitam masih cukup rendah.

Pada umumnya, masyarakat mengonsumsi kedua beras tersebut untuk menjaga kesehatan dan diet. Sebab, beras hitam dan beras merah dianggap memiliki kandungan karbohidrat yang lebih rendah dibandingkan beras putih. Meski demkian, dua jenis beras itu memiliki nilai energinya lebih tinggi serta kaya akan protein.

Sementara itu, beras putih memiliki banyak varian. Berikut beberapa macam beras putih yang banyak diminati oleh masyarakat Indonesia.

  1. Beras pandan wangi
    Beras pandan wangi punya aroma khas pandan yang membuat nafsu makan bertambah. Varian beras ini pun juga pulen setelah ditanak.
  1. Beras rojolele
    Varian beras ini juga pulen setelah ditanak. Beras rojolele juga punya aroma yang harum meskipun tidak seharum pandan wangi.
  1. Beras setra ramos
    Beras yang memiliki nama lain IR64 ini juga sering menjadi pilihan karena harganya yang sangat terjangkau.
  1. Beras IR42
    Jenis beras yang satu ini paling pas untuk dimasak menjadi nasi goreng, nasi uduk, lontong, dan ketupat.
  1. Beras batang lembang
    Beras yang satu ini juga sering disebut beras Jepang. Butir beras ini berbentuk lebih panjang setiap butirnya dan punya warna yang putih bersih.

Beras putih dan beras hitam organik.Dok. BRI Beras putih dan beras hitam organik.

Ekosistem bisnis padi

Untuk menggarap ekosistem padi yang baik di Indonesia, PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) atau BRI telah membina lebih dari 90.000 kelompok tani (poktan) dengan jumlah lebih dari 5,5 juta petani yang tersebar di berbagai provinsi di Indonesia.

BRI juga bekerja sama dengan berbagai pemegang kepentingan. Salah satunya adalah Kementerian Pertanian (Kementan) RI. Kerja sama ini terkait penyaluran pupuk bersubsidi lewat Kartu Tani untuk para petani.

Selain itu, para petani dapat memanfaatkan kartu tani untuk keperluan lain, seperti pengajuan kredit usaha rakyat (KUR) dan transaksi perbankan lainnya. Hingga saat ini, BRI telah memberikan lebih dari 5 juta Kartu Tani BRI untuk para petani.

Untuk mempermudah akses layanan pembayaran, BRI menjadikan agen laku pandai (AgenBRILink) kepada lebih dari 7.500 Kios Pupuk Lengkap (KPL) di berbagai wilayah. Dengan begitu, para petani dapat dengan mudah mengakses pembayaran pupuk bersubsidi dan layanan perbankan sekaligus.

Sebagai proses monitoring, BRI mengembangkan Sistem Manajemen Pangan Indonesia (SIMPI) dan Sistem Informasi Pertanian Indonesia (SINPI).

SINPI merupakan sistem informasi yang mendetail berupa database petani, seperti identitas, musim tanam, luas lahan, komoditas, dan alokasi kuota pupuk subsidi di bermacam wilayah yang tercatat dengan baik.

Keberadaan SIMPI dan SINPI pemerintah jadi terbatu setiap saat untuk mengakses informasi transaksi pupuk bersubsidi agar lebih tepat sasaran. Dengan demikian, informasi itu dapat dijadikan bahan untuk menetapkan arah kebijakan pada area ketahanan pangan.

Di samping itu, BRI mengembangkan aplikasi Panen yang bekerja sama dengan dinas pertanian untuk memonitor musim tanam dan perkiraan musim panen beberapa komoditas pangan, termasuk padi, di suatu wilayah.

- -

BRI juga telah memperkuat bisnis pengolahan padi di beberapa lokasi. Salah satunya, penguatan business matching antara rice milling unit (RMU) yang dikelola oleh Koperasi Citra Kinaraya.

Koperasi tersebut berperan sebagai off-taker dengan para petani di wilayah Demak, Jawa Tengah. Dengan kapasitas 1.445 ton per musim, RMU Koperasi Citra Kinaraya dapat menyerap hasil panen dari seluruh mitra poktan yang berada di sekitar RMU tersebut.

“BRI terus berkomitmen dalam mendukung pengembangan bisnis model ekosistem kelompok atau klaster dengan berbagai komoditas, khususnya 8 komoditas prioritas yang menjadi concern Kementerian BUMN,” ujar Direktur Bisnis Mikro BRI Supari dalam rilis yang diterima Kompas.com, Kamis (2/9/2021).

Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.