Advertorial

Pertamina Targetkan Penurunan Emisi Karbon 34.000 Ton Per Tahun dari 5.000 PLTS GES

Kompas.com - 02/09/2021, 18:24 WIB

KOMPAS.com – Pertamina terus melakukan upaya go green dalam setiap kegiatan operasional dengan menurunkan emisi karbon. Salah satu upaya yang dilakukan adalah pemasangan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) di green energy station (GES) yang tersebar di berbagai wilayah nusantara.

Saat ini, PLTS telah terpasang di 76 titik GES yang berlokasi di Jawa, Bali, serta Nusa Tenggara. Ke depannya, pemasangan PLTS akan diperluas hingga 5.000 titik.

Untuk diketahui, GES merupakan konsep baru dari stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) Pertamina. GES akan memberikan layanan terintegrasi untuk mendukung gaya hidup yang lebih ramah lingkungan bagi konsumen. Salah satunya, dengan memanfaatkan solar photo voltaic (PV) atau PLTS sebagai salah satu sumber energi mandiri dan ramah lingkungan. 

Chief Executive Officer Power & New Renewable Energy (PNRE) Dannif Danusaputro mengatakan, proyek tersebut merupakan bagian dari transisi energi di ekosistem Pertamina. Pihaknya menargetkan pemasangan PLTS di seluruh internal Pertamina, baik pada proses inti, perkantoran, maupun fasilitas lain.

“Selain itu, kami berupaya agar SPBU sebagai salah satu frontline Pertamina, juga terpasang PLTS untuk mendukung dekarbonisasi,” ujar Dannif dalam siaran pers yang diterima Kompas.com, Kamis (2/9/2021).

Dannif menambahkan bahwa program tersebut merupakan kelanjutan dari program pada 2020. Tahun lalu, Pertamina telah melakukan pemasangan PLTS di 63 SPBU yang tersebar di Pulau Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara dengan total kapasitas sebesar 385 kilowatt peak (KWp).

Dengan target 5.000 PLTS terpasang di SPBU, lanjut Dannif, total kapasitas listrik yang dihasilkan mencapai 31 megawatt (MW) dan berpotensi dapat menurunkan emisi karbon hingga 34.000 ton per tahun.

Ia melanjutkan bahwa penggunaan PLTS pada SPBU menunjukkan tren yang meningkat secara global. Sebagai contoh, setidaknya terdapat 700 SPBU di 29 negara Afrika yang telah menggunakan PLTS atap.

Contoh lainnya, saat ini di India setidaknya telah terpasang PLTS dengan total kapasitas 270 megawatt peak (MWp). Pemerintah India menargetkan 50 persen dari seluruh SPBU yang ada di negaranya terpasang PLTS dalam empat tahun mendatang.

“Dengan tren tersebut, sudah sewajarnya Pertamina secara aktif mengerahkan upaya terbaik untuk menghijaukan SPBU,” kata Dannif.

Pertamina, lanjut Dannif, turut mendukung target pemerintah untuk menurunkan emisi karbon sebesar 29 persen pada 2030 melalui transisi energi. Dalam roadmap transisi energi, Pertamina menargetkan energi hijau mencapai 17 persen dalam portofolio bisnis pada 2030.

Dannif menambahkan bahwa PNRE akan terus tancap gas untuk transisi energi. Menurutnya, pengembangan energi bersih, termasuk PLTS, adalah investasi masa depan agar laju dampak perubahan iklim dapat ditahan.

“Semua pihak dapat berkontribusi untuk menciptakan kehidupan yang lebih baik bagi generasi mendatang,” lanjut Dannif.

Untuk diketahui, Pertamina senantiasa mengintegrasikan aspek environmental, social, dan governance (ESG) dalam setiap roda bisnisnya. Sebagai bagian dari komunitas global, Pertamina berupaya untuk menjalankan bisnis secara bertanggung jawab dan berkelanjutan.

Hal tersebut dilakukan tidak hanya mengedepankan kepentingan bisnis, tapi juga kebutuhan para pemangku kepentingan, masyarakat, dan kelangsungan lingkungan hidup.

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau