Advertorial

Transisi Fossil Fuel ke NRE, Subholding Gas Pertamina Siap Tingkatkan Pemanfaatan Gas Bumi

Kompas.com - 13/09/2021, 19:41 WIB
PT PGN sebagai subholding gas Pertamina gencar berinvestasi melalui perluasan infrastruktur agar tercipta jaminan akses gas bumi yang semakin efektif dan efisien Dok. PertaminaPT PGN sebagai subholding gas Pertamina gencar berinvestasi melalui perluasan infrastruktur agar tercipta jaminan akses gas bumi yang semakin efektif dan efisien

KOMPAS.com - PT Perusahaan Gas Negara (PGN) sebagai subholding gas PT Pertamina (Persero) berkomitmen melaksanakan optimalisasi pemanfaatan gas bumi pada masa transisi fossil fuel ke new renewable energy (NRE).

Hal itu sesuai tujuan restrukturisasi dan transformasi holding sektor minyak dan gas (migas) PT Pertamina. Pengelolaan infrastruktur pipa gas terpanjang di Asia Tenggara akan menjadi modal bisnis Pertamina untuk mencapai captive market yang semakin luas.

Direktur Utama Pertamina Nicke Widyawati mengatakan, posisi subholding gas sebagai agregator gas nasional mendorong berbagai inisiatif untuk memitigasi isu belum ditemukannya giant discovery gas.

“Untuk itu, subholding gas akan meningkatkan pemanfaatan supply gas. Tak hanya dari sumur, tetapi juga dari liquefied natural gas(LNG),” kata Nicke dalam keterangan resmi yang diterima Kompas.com, Senin (13/9/2021).

Nicke menambahkan, saat ini midstream telah dimiliki oleh LNG terminal dan LNG regasification. Pertamina akan terus mendorong pembangunan infrastruktur LNG lainnya sebagai kunci keberhasilan utilisasi LNG.

Selain itu, subholding gas juga berkomitmen memperluas pembangunan infrastruktur dan keandalan supply gas bumi di seluruh wilayah Indonesia. 

“PGN sebagai subholding gas Pertamina gencar berinvestasi melalui perluasan infrastruktur agar tercipta jaminan akses gas bumi yang semakin efektif dan efisien,” jelas Nicke.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Pada kesempatan yang sama, Direktur Utama PGN M Haryo Yunianto mengatakan, investasi pertama adalah gasifikasi atau konversi minyak ke gas untuk kilang Pertamina.

“Hal itu (gasifikasi) merupakan program prioritas Pertamina yang dijalankan oleh subholding gas,” kata Haryo.

Haryo menambahkan, gasifikasi dilakukan pada lima kilang, yaitu Cilacap di Jawa Tengah, Balongan di Jawa Barat, Dumai di Riau, Balikpapan di Kalimantan Timur; dan Plaju di Sumatera Selatan.

Adapun total potensi volume dari kilang tersebut lebih kurang 90 billion british thermal unit per day (BBTUD) atau setara dengan 16.400 barrel oil equivalent per day (BOEPD).

“Kemajuan proyek saat ini, kebutuhan gas kilang Balongan telah dipasok dari CPNGL yang telah berinovasi. Dengan demikian, penyaluran gas dapat multidistitasi untuk keandalan pasokan ke wilayah Jawa Barat dan RU Balongan,” papar Haryo.

Sementara, untuk refinery unit (RU) IV Cilacap berada pada tahap front end engineering design dengan opsi disupply dengan LNG melalui land based regasification terminal.

Investasi kedua terkait Keputusan Menteri (Kepmen) Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Nomor 13 Tahun 2020, yaitu Konversi Pembangkit Listrik Berbahan Bakar Diesel ke Gas Bumi.

Untuk itu, Pertamina Group akan membangun infrastruktur LNG untuk memasok 56 pembangkit listrik Perusahaan Listrik Negara (PLN) dengan kapasitas terpasang 1,8 gigawatt (GW) di seluruh Indonesia yang dilaksanakan dalam beberapa tahap.

Adapun pelaksanaan di Sorong, Papua, telah beroperasi sejak Januari 2021. Operasionalnya dikerjakan oleh Perta Daya Gas (PDG), JV antara Pertagas, dan Indonesia Power untuk membangun pipa gas sepanjang 3,7 kilometer (km) dengan capital expenditure (capex) senilai 2,5 juta dollar Amerika Serikat (AS).

Investasi ketiga adalah proyek pembangunan jaringan gas (jargas) untuk rumah tangga.

“Kementerian ESDM telah menugaskan Pertamina dan PGN untuk mengembangkan jargas untuk kebutuhan bagi rumah tangga untuk mengurangi tingginya impor liquified Petroleum gas (LPG) dan memiliki potensi volume sekitar 10 BBTUD,” jelas Haryo. 

Untuk diketahui, proyek jargas yang dibiayai oleh pemerintah melalui Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2021 sebanyak 120,776 SRT, dengan lingkup PGN adalah asistensi dalam pembangunan jargas tersebut.

Selanjutnya, PGN juga akan membangun jargas dalam program PGN Sayang Ibu di wilayah Jakarta dan Tangerang yang akan dibiayai oleh internal perusahaan.

Investasi terakhir adalah proyek pipa transmisi minyak Rokan guna menunjang kinerja holding migas dalam pengelolaan Blok Rokan.

Melalui anak perusahaan, PT Pertamina Gas (Pertagas), dibangun jaringan pipa transmisi minyak sepanjang 367 km dari Minas-Duri-Dumai dan Koridor Balam-Bangko-Dumai (WK Rokan PSC). 

Target parsial completion adalah pada kuartal ketiga 2021 dengan capex sebesar 300 juta dollar AS. Nantinya, volume yang bisa diangkut maksimum sampai dengan 204.000 barrel per hari. Progres proyek per Juni 2021 adalah 70 persen.

PGN juga berhasil melakukan beberapa recovery kinerja pada semester I 2021.

Untuk volume niaga gas mencapai 867 BBTUD, volume transmisi 1.232 million standard cubic feet per day (MMSCFD), volume upstream sebesar 20.500 BOEPD, regasification 91 BBTUD, LPG processing 114 total permanent disability (TPD), dan oil transport 9.231 BOEPD.

Perlu diketahui, PGN juga aktif dalam penyaluran gas bumi guna memenuhi kebutuhan gas bumi dalam negeri dan menjalankan proyek-proyek strategis infrastruktur gas bumi.

Komitmen tersebut dilakukan sebagai upaya untuk mewujudkan porsi gas bumi sebesar 22 sampai 25 persen dalam bauran energi nasional.

Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.