Advertorial

Dorong Pemulihan Ekonomi, UOB Gelar Webinar UOB Economic Outlook 2021/2022

Kompas.com - 14/09/2021, 09:13 WIB

KOMPAS.com – Pandemi Covid-19 yang merebak sejak awal 2020 memberi dampak signifikan bagi perekonomian global.

Akibat pandemi, produk domestik bruto (PDB) global terkontraksi hingga 3,5 persen pada 2020. Sejumlah industri yang melibatkan interaksi manusia mengalami dampak terburuk. Misalnya pariwisata, transportasi, dan barang konsumsi.

Tak heran, pemerintah di seluruh dunia harus meningkatkan pengeluaran fiskal guna menjaga perekonomian agar tidak tergelincir lebih jauh ke jurang resesi.

Indonesia pun tak luput dari krisis Covid-19. Perekonomian Tanah Air mengalami kontraksi sekitar 2 persen pada 2020. Ini merupakan kontraksi pertama pascakrisis keuangan Asia pada 1998.

Kontraksi tersebut juga terjadi di tengah penurunan permintaan domestik secara luas yang meliputi barang konsumsi rumah tangga dan investasi. Sebagai pembuat kebijakan moneter dan keuangan di Indonesia, pemerintah merespons hal ini dengan cepat.

Pemerintah meningkatkan pengeluaran fiskal guna mengendalikan pandemi dan memberikan berbagai stimulus ekonomi.

Sementara, Bank Indonesia (BI) juga telah memangkas suku bunga acuan menjadi 3,5 persen. Angka ini merupakan level terendah dalam sejarah.

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) juga mengambil sejumlah langkah penting bagi industri perbankan guna membantu perusahaan-perusahaan menata kembali pinjaman mereka.

Langkah tersebut diharapkan dapat mendukung perusahaan untuk tetap beroperasi dan menghindari pemutusan hubungan kerja (PHK) terhadap karyawan.

Pemulihan ekonomi

Perekonomian global memasuki fase pemulihan pada 2021. Bank Dunia memprediksi, pertumbuhan ekonomi global mencapai 5,6 persen pada 2021.

Ekonomi Indonesia juga menunjukkan pemulihan. Pada kuartal II 2021, PDB nasional tumbuh 7,07 persen secara tahunan atau year on year (yoy). Harga komoditas pun mulai membaik.

Wakil Menteri (Wamen) Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Kartika Wirjoatmodjo mengatakan, pemulihan ekonomi tersebut tidak terlepas dari pertumbuhan konsumsi rumah tangga, investasi, dan perdagangan luar negeri.

Tiga hal tersebut memberikan pijakan bagi perekonomian Indonesia untuk dapat pulih lebih cepat. Terlebih, program vaksinasi Covid-19 terus digalakkan secara massal.

Pemulihan tersebut juga didukung kerja sama ekonomi regional, seperti Regional Comprehensive Economic Partnership (RCEP). Dengan konektivitas regional yang lebih kuat, Indonesia diharapkan dapat memperoleh banyak manfaat.

Selain itu, upaya pemulihan ekonomi juga diperkuat dengan adanya tambahan alokasi special drawing rights (SDR) sebesar 4,46 miliar atau setara 6,31 dollar AS yang diterima Indonesia dari Dana Moneter Internasional (IMF). Untuk diketahui, SDR merupakan aset cadangan mata uang khusus yang digunakan oleh bank-bank sentral anggota IMF.

Tambahan SDR merupakan inisiatif IMF untuk mendukung ketahanan ekonomi seluruh negara di dunia dalam menghadapi dampak pandemi Covid-19.

Di tengah pandemi, Indonesia juga berhasil menerbitkan Undang-Undang (UU) No 11 Tahun 2020 tentang Cipta Kerja atau dikenal dengan omnibus law. Reformasi struktural ini dinilai hadir pada saat yang tepat. UU tersebut merupakan salah satu upaya untuk menarik lebih banyak investasi asing atau foreign direct investment (FDI).

Dengan pasar domestik yang besar, Indonesia juga dinilai dapat pulih lebih cepat dan berkelanjutan. Oleh karena itu, pemulihan ekonomi difokuskan untuk meningkatkan kekuatan konsumsi domestik di bidang barang dan jasa konsumen, pariwisata, serta produksi lokal.

Hal lain yang tidak kalah penting adalah upaya pemerintah untuk menghidupkan kembali, mendukung, dan meningkatkan sektor usaha kecil dan menengah (UMKM).

Untuk diketahui, sektor UMKM menjadi salah satu tulang punggung perekonomian negara di tengah pandemi Covid-19. Pasalnya, sektor ini menyerap sebagian besar tenaga kerja nasional.

Diberitakan Kompas.id, Sabtu (22/8/2020), sebanyak 116,9 juta masyarakat Indonesia bekerja merupakan pelaku UMKM. Angka ini menempati porsi sebesar 97 persen dari total tenaga kerja nasional.

Geliat sektor tersebut diprediksi bakal menentukan masa depan Indonesia untuk pulih dari pandemi.

Pemerintah lantas mengalokasikan Rp 123,46 triliun dari total anggaran penanganan Covid-19 di Indonesia untuk membantu UMKM melalui berbagai stimulus fiskal dan alokasi dukungan likuiditas.

Webinar UOB Economic Outlook 2021/2022

Berkaca pada sejumlah indikator pemulihan ekonomi yang terlihat nyata menjelang kuartal terakhir 2021, PT Bank UOB Indonesia juga turut mendukung pemulihan ekonomi dan reformasi struktural. Seperti diketahui, kedua hal ini merupakan fokus pemerintah pada 2022.

Dengan begitu, UOB Indonesia dapat berperan aktif mendukung pemerintah dalam mencapai pertumbuhan ekonomi sebesar 4,9 persen pada 2021 dan peningkatan sebesar 5,4 persen pada 2022.

Sebagai salah satu bank terdepan di Indonesia, UOB berupaya menyumbangkan pemikiran bermanfaat bagi bisnis, media, dan masyarakat luas. Upaya tersebut salah satunya diwujudkan UOB Indonesia melalui webinar UOB Economic Outlook 2021/2022 yang akan diselenggarakan Rabu, 15 September 2021.

Sebagai informasi, webinar tersebut digelar untuk memberikan informasi serta referensi berwawasan terkait perkembangan ekonomi domestik, regional, dan global. Webinar diharapkan dapat membantu para pelaku bisnis dalam mengoptimalkan keputusan bisnis sebelum menyongsong 2022.

Webinar itu mengangkat tema besar “Memberdayakan Ekonomi Indonesia untuk Pemulihan yang Lebih Kuat”. Tema ini berfokus pada pasar komoditas dan keberlanjutannya, konektivitas regional, serta pemanfaatan ekonomi berbasis konsumsi domestik yang besar di Indonesia.

Webinar akan dibuka oleh Presiden Joko Widodo dan Menteri Koordinator (Menko) Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto. Lalu, sambutan pembuka akan dilakukan oleh Deputy Chairman dan Chief Executive Officer (CEO) UOB Wee Ee Cheong serta Presiden Direktur PT Bank UOB Indonesia Hendra Gunawan.

Kemudian, acara dimulai dengan diskusi panel bertajuk “Menata Babak: Ekonomi Indonesia di Era New Normal”. Sesi ini akan diisi oleh ekonom UOB Indonesia Enrico Tanuwidjaja dan Duta Besar Republik Indonesia untuk Republik Singapura Suryo Pratomo, secara Live dari Kedutaan Besar Republik Indonesia.

Pada sesi pertama, webinar akan fokus membahas bisnis skala besar (wholesale) dengan tema “Menempa Pemulihan Bisnis Berkelanjutan Pasca-Pandemi”.

Sesi tersebut akan diisi oleh Menteri Perdagangan (Mendag) Muhammad Lutfi, Ketua Umum Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia Joko Supriyono, Direktur Shopee Indonesia Christin Djuarto, dan Managing Director Group Wholesale Banking Sector Solutions Group UOB Group Bonar Silalahi.

Kemudian, webinar sesi kedua yang berfokus pada bisnis usaha kecil menengah (UKM) akan mengangkat tema “Memberdayakan UKM sebagai Tulang Punggung untuk Pemulihan yang Lebih Kuat”.

Adapun sesi tersebut diisi oleh Menteri Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah (Menkop UKM) Teten Masduki serta Ketua Umum Asosiasi E-Commerce Indonesia (IdEA) dan Vice President Government Relations Bhinneka.com Bima Laga.

Selanjutnya, Chief Food Officer Gojek Group Catherine Sutjahyo dan Business Banking Sales Head PT Bank UOB Indonesia Hendrik Komandangi.

acara UOB Economic Outlook 2022 diselenggarakan secara virtual melalui Zoom pada pukul 08:30 WIB , dihadiri oleh peserta dari,berbagai kalangan, mulai dari pengusaha atau nasabah berskala besar dan menengah, pelaku UMKM, investor, pejabat pemerintah, hingga perwakilan masyarakat dengan target lebih dari 3, 000 orang. Khususnya sesi pembukaan acara dapat disaksikan secara langsung di YouTube Metro TV.

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau