Advertorial

Gelar Seminar #MakinCakapGigital, Kemenkominfo Ajak Pelajar untuk Berprestasi di Bidang Non-Akademis

Kompas.com - 14/09/2021, 14:58 WIB

KOMPAS.com – Keluarga memiliki peranan penting dalam proses pembelajaran anak, terlebih di era digital seperti saat ini. Oleh sebab itu, mendampingi anak saat belajar online perlu dilakukan orangtua.

Selain untuk memantau prestasi, mendampingi anak merupakan bentuk kontrol yang wajar dilakukan demi menghindarkan mereka dari mengakses hal-hal yang tidak seharusnya.

Terkait hal itu, orangtua dapat membuka dialog dengan anak. Dengan begitu, orangtua tetap memegang otoritas dan menerapkan disiplin secara positif.

Selain itu, demi membantu mengelola stres dan kejenuhan sekaligus membuat belajar menjadi menyenangkan, keluarga dapat menciptakan suasana belajar yang kondusif.

Anak juga harus diberi pemahaman bahwa belajar adalah misi petualangan yang seru. Ajak mereka untuk belajar tentang hal-hal yang disukai secara konsisten.

Kemudian, tanamkan prinsip bahwa belajar tidak hanya bermanfaat bagi diri sendiri, tetapi juga bagi orang di sekeliling mereka. Pasalnya, sesuatu yang dipelajari sekarang merupakan cerminan dari diri mereka di masa depan.

Untuk memberi wawasan mengenai hal tersebut, Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo) menggelar seri webinar literasi #MakinCakapDigital di Kota Jakarta Barat (Jakbar), Rabu (1/9/2021).

Bekerja sama dengan Jaringan Pegiat Literasi Digital (Japelidi) dan Siberkreasi Gerakan Nasional Literasi Digital, webinar itu mengangkat tema “Menjadi Pelajar Berprestasi di Era Digital”. Adapun webinar ini dihadiri oleh sejumlah peserta secara daring.

Sejumlah narasumber dari berbagai bidang keahlian dan profesi hadir dalam seminar tersebut, yakni konsultan sumber daya manusia (SDM) dan praktisi keuangan Indonesian Association for Public Administration (IAPA) Eva Yayu Rahayu serta musisi Ronald Silitonga.

Kemudian, Pemimpin Redaksi (Pemred) Padasuka TV sekaligus Direktur Eksekutif Indonesia Technology Forum (ITF) Yusuf Mars.

Selain itu, hadir pula dosen kebijakan publik Universitas Jenderal Soedirman Dr Dwiyanto Indiahono dan peneliti Institut Humor Indonesia Kini Mikhail Gorbachev Dom.

Dalam pemaparannya, Eva Yayu Rahayu menyampaikan bahwa menciptakan lingkungan nyaman bagi anak untuk belajar di rumah bisa dilakukan dengan beberapa cara.

“Pertama, orangtua harus meluangkan waktu setiap hari untuk berbincang dengan anak tanpa gangguan, seperti televisi (TV), smartphone, dan gadget lain,” ujar Eva dalam keterangan pers yang diterima Kompas.com, Senin (6/9/2021).

Cara kedua, lanjut Eva, orangtua dapat membuat jadwal harian untuk tidur, berolahraga, belajar, bermain, dan bersantai. Rutinitas yang terjadwal akan membuat anak lebih bersemangat.

Kemudian, pastikan keamanan anak saat mengakses jaringan internet. Diskusikan risiko keselamatan, perlindungan, serta privasi saat menggunakan internet dan media digital.

“Selain itu, untuk mengetahui perkembangan anak-anak, utamakan komunikasi secara aktif. Bangun dialog dengan guru dan orangtua (dari) murid lain,” jelas Eva.

Sementara itu, selaku narasumber key opinion leader (KOL), Ronald Silitonga mengapresiasi tenaga pendidik yang mampu beradaptasi dengan era digital.

“Teknologi memang harus dimanfaatkan demi meningkatkan prestasi belajar,” kata Ronald.

Menurutnya, di era digital, ilmu bisa didapatkan dari berbagai sumber yang ada di internet dan media digital. Oleh sebab itu, generasi muda cenderung lebih cakap digital.

Bahkan, mereka harus membantu orangtua dalam memahami teknologi. Pasalnya, banyak orangtua masih berada di zona nyaman sehingga tidak tertarik untuk mempelajarinya.

“Ketika diminta mengajarkan cara menggunakan teknologi kepada orangtua, generasi muda harus bersabar karena perubahan ini memang mendadak bagi mereka,” jelas Ronald.

Seluruh peserta tampak antusias dengan penjabaran para narasumber. Hal ini terlihat dari pertanyaan yang diajukan oleh salah satu peserta, yakni Iswan.

Dia menanyakan tentang pemanfaatan kemajuan teknologi untuk berprestasi di bidang non-akademis. Pasalnya, kata Iswan, tidak semua pelajar dapat berprestasi di bidang akademis.

Pertanyaan tersebut pun dijawab dengan lugas oleh Yusuf Mars. Menurut dia, siapa pun bisa sukses di bidang apa pun pada era digital.

“Mengerjakan sesuatu yang disukai dan sesuai passion akan membuahkan hasil. Misalnya, kamu bisa menjadi seorang narator, ilustrator, atau animator,” kata Yusuf.

Dia berpendapat bahwa sekolah merupakan hal yang penting untuk menambah pengetahuan dan ilmu. Namun, pelajar juga harus bisa menambah skill baru di luar bidang akademis.

Sebagai informasi, webinar #MakinCakapDigital merupakan salah satu rangkaian kegiatan literasi digital di Jakarta. Kegiatan ini terbuka bagi semua orang yang berkeinginan memahami dunia literasi digital.

Penyelenggara pun membuka peluang sebesar-besarnya kepada semua anak bangsa untuk berpartisipasi pada agenda webinar selanjutnya melalui akun Instagram @siberkreasi.dkibanten dan @siberkreasi.

Kegiatan webinar tersebut juga turut mengapresiasi partisipasi dan dukungan semua pihak sehingga dapat berjalan dengan baik. Sebab, program literasi digital ini hanya akan sukses mencapai target 12,5 juta partisipan jika turut didukung oleh semua pihak yang terlibat.

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau