Advertorial

Jadilah Generasi Digital yang Bebas Berekspresi dan Bertanggung Jawab dengan Jejak Digital

Kompas.com - 14/09/2021, 15:06 WIB
 Ilustrasi generasi Z THINKSTOCK/bowie15 Ilustrasi generasi Z

KOMPAS.com – Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo) bekerja sama dengan Jaringan Pegiat Literasi Digital (Japelidi) dan Siberkreasi Gerakan Nasional Literasi Digital menggelar webinar bertajuk “Menjadi Generasi yang Makin Cakap Digital”, Jumat (3/9/2021).

Webinar tersebut diadakan untuk menanggapi fenomena pengguna media digital, khususnya generasi muda, yang selalu ingin eksis di media sosial. Sayangnya, terkadang mereka tidak dapat menyaring apa yang diunggah.

Tidak sedikit generasi muda kurang memperhatikan manfaat dari pembuatan dan penyebaran informasi tersebut. Dengan demikian, hal tersebut dapat menimbulkan dampak yang akan menjadi beban emosional, baik di masa sekarang maupun mendatang.

Maka dari itu, penting mengetahui dan menerapkan cara-cara untuk menjaga rekam jejak digital di internet agar tidak berdampak negatif.

Adapun webinar tersebut dihadiri oleh dosen Universitas Sriwijaya dan anggota Indonesia Association for Public Administration (IAPA) Anang Dwi Santoso, financologist sekaligus motivator keuangan dan kejiwaan keluarga Alviko Ibnugroho, serta dosen Universitas 17 Agustus Surabaya dan pengurus DPP IAPA Bambang Kusbandrijo sebagai pembicara.

Selain itu, dosen Hubungan Internasional Universitas Budi Luhur Jakarta Anggun Puspitasari dan aktor Adit Suryo juga didapuk sebagai narasumber.

Alviko menyebut mereka yang sering menghabiskan waktu menggunakan perangkat digital dan mengakses internet disebut sebagai generasi digital. Menurutnya, generasi tersebut menunjukkan identitas mereka dengan memiliki akun media sosial.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

“Proses belajar jauh lebih cepat karena segala informasi ada di ujung jari mereka dengan penggunaan search engine. Generasi digital cenderung memperoleh kebebasan,” ujar Alviko dalam rilis yang diterima Kompas.com, Senin (6/9/2021).

Alviko mengatakan bahwa generasi digital tidak suka diatur dan dikekang. Mereka ingin memegang kontrol. Internet pun menawarkan kebebasan berekspresi tersebut.

“Hal tersebut menyebabkan generasi digital cenderung lebih terbuka, blakblakan dan berpikir agresif dalam hal privasi pribadi,” kata Alviko.

Lebih lanjut, Alviko menilai, kunci peradaban dunia dalam literasi media dimulai dari melek huruf, melek informasi, melek peradaban, serta melek teknologi. Menurutnya, aturan umum netiket dapat berupa mengikuti aturan seperti di kehidupan nyata, selalu teliti konteks dalam mengunggah apa pun di internet, dan hormatilah orang lain.

“Kendalikan emosi, gunakan tata tulis yang betul, serta ingat akan jejak digital yang ditinggalkan,” ujarnya.

Tak hanya kemudahan dalam mendapatkan informasi, internet juga dapat menghasilkan pendapatan. Misalnya, dari media sosial dan berjualan melalui e-commerce.

Hal tersebut diutarakan oleh Adit Suryo, selaku narasumber key opinion leader. Sayangnya, menurut Adit, ada banyak hoaks dan penipuan online yang sering ditemui di media sosial.

“Kita sebaiknya dahulukan toleransi dan menghargai perbedaan pendapat karena Indonesia adalah negara demokrasi,” ujarnya.

Menurutnya, “the power of social media” memang tidak bisa diacuhkan. Sebab, netizen Indonesia dapat dianggap sebagai kelompok paling toxic, tetapi pada dasarnya mereka sangatlah solid dan juga dapat membawa hal yang positif.

Hal itu tecermin dari raising awareness terhadap suatu hal supaya bisa menyelesaikan permasalahan lebih cepat dan saling bantu-membantu di bidang sosial atau ekonomi.

Dalam webinar tersebut, salah satu peserta bernama Fernando Tri Tanjung bertanya mengenai penerapan etika digital dalam mencegah hoaks di grup WhatsApp keluarga yang cukup sensitif, terutama para orang tua.

Alviko pun menjawab, untuk mencegah hoaks, caranya dengan memberikan bukti dan contoh yang kredibel. Memberitahu secara langsung dan menggunakan bahasa yang tidak menggurui bisa menjadi pilihan.

“Selain itu, bisa juga setidaknya memberitahu secara japri (jalur pribadi) agar tidak terkesan menggurui di depan anggota grup lainnya atau bisa juga sampaikan melalui kerabat,” kata Alviko.

Sebagai informasi, webinar tersebut merupakan salah satu rangkaian kegiatan literasi digital yang didukung oleh Kemenkominfo dan terbuka bagi siapa saja yang berkeinginan untuk memahami dunia literasi digital.

Untuk itulah, penyelenggara pada agenda webinar selanjutnya membuka peluang sebesar-besarnya kepada semua anak bangsa untuk berpartisipasi pada webinar ini melalui akun Instagram @siberkreasi.dkibanten.

Bagi yang ingin mengetahui tentang Gerakan Nasional Literasi Digital secara keseluruhan bisa ikuti akun Instagram @siberkreasi.

Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.