Advertorial

Kreativitas dan Kolaborasi Jadi Kunci UMKM Hadapi Tantangan Zaman

Kompas.com - 15/09/2021, 09:35 WIB

KOMPAS.com - Ketatnya persaingan usaha membuat para pelaku usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) perlu memutar otak untuk menghasilkan produk unggulan yang berbeda dengan pelaku UMKM lain.

Selain kreativitas, saat proses pencarian ide, pelaku UMKM juga membutuhkan kejelian menangkap peluang yang ada. Hal ini dibuktikan oleh owner Swarga Flower Tea and Co Nita Rochimah.

Sebagai informasi, Swarga Flower Tea and Co merupakan UMKM yang menghasilkan beragam produk varian teh artisan dengan campuran berbagai macam bunga dan rempah. Setiap produk memiliki manfaat bagi kesehatan

Salah satu produk andalan dari Swarga Flower Tea and Co adalah teh yang terbuat dari bunga telang. Apabila diseduh, teh akan berwarna biru tua layaknya warna kelopak bunga telang.

Nita Rochimah menceritakan, awal mula dirinya memutuskan menjadi pelaku UMKM minuman teh karena telah merasakan manfaat dari produk teh.

Hal itu ia sampaikan kepada Direktur Bisnis Mikro Bank Rakyat Indonesia (BRI) Supari, aktivis brand Arto Biantoro, dan Mantri BRI Hendri Kusmayadi dalam serial mini Petualangan Brilian The Series yang disiarkan di Kompas TV, Sabtu (11/9/2021).

Nita mengaku bahwa dirinya memiliki masalah pencernaan. Salah seorang temannya menyarankannya untuk mengonsumsi teh telang. Menurut Nita, temannya itu pernah mengunjungi sebuah pedesaan di Thailand. Di sana, ia disuguhkan teh berwarna biru yang terbuat dari bunga telang sebagai penghormatan kepada tamu yang datang.

Ternyata, teh tersebut berkhasiat untuk memperbaiki pencernaan. Pohon telang juga terdapat di Indonesia, tetapi belum banyak dimanfaatkan.

“Setelah dilakukan uji lab, teh bunga telang memiliki berbagai manfaat, seperti detoksifikasi hingga melancarkan pencernaan,” ujar Nita.

Nita melanjutkan bahwa usaha teh artisan memiliki peluang potensi ekspor yang besar. Hal ini turut didukung oleh BRI yang membantu Nita mengirim produknya ke Archipelago Store yang ada di Kanada.

Ia mengaku, sebelum melakukan ekspansi ke pasar luar negeri, pihaknya hanya memiliki lima varian produk teh artisan. Kini, ia sudah memiliki sepuluh varian teh artisan untuk mendorong penjualan di pasar teh internasional.

Selain ingin mengangkat hasil alam Indonesia, Nita memiliki visi dan misi untuk mengangkat harkat dan perekonomian para petani sebagai penyublai bahan baku. Menurutnya, upaya untuk memperbaiki ekonomi petani tersebut didukung oleh para petani yang bekerja sama dengannya.

 “Awalnya, kami hanya memiliki satu kepala keluarga yang bertani bunga telang dan rempah. Saat ini, sudah ada 14 kepala keluarga yang menjadi petani,” kata Nita.

Dalam menjalankan usahanya, Nita mengungkapkan bahwa dirinya tidak hanya fokus pada satu jenis produk saja, yakni teh. Akan tetapi, ia juga turut mengeluarkan produk kue yang terbuat dari bunga telang.

Nita menjelaskan bahwa produknya menyasar pelanggan dengan segmentasi premium. Oleh karena itu, Nita tak sungkan berkolaborasi dengan UMKM lain yang memiliki visi dan pangsa pasar yang sama.

“Semakin luas kami berkolaborasi dengan UMKM lain, semakin memperkuat ekosistem kami,” ujarnya.

Pada kesempatan yang sama, Mantri BRI Hendri Kusmayadi mengajak Swarga Flower Tea and Co milik Nita untuk bergabung bersama Link UMKM BRI.

Untuk diketahui, Mantri BRI merupakan perpanjangan tangan dari PT Bank Rakyat Indonesia Tbk atau (BRI) untuk membantu pelaku UMKM dalam mendapatkan modal usaha. Tak hanya itu, Mantri BRI juga turut andil dalam memberdayakan UMKM dan ekonomi berbasis kerakyatan yang menjadi garda penjaga perekonomian nasional.

“UMKM yang tergabung dengan Link UMKM BRI bisa saling berkolaborasi. Tak hanya itu, para UMKM bisa belajar banyak bagaimana cara mengembangkan dan meningkatkan usahanya,” kata Hendri.

Komitmen BRI bantu petani kreatif

Selain UMKM, kreativitas juga harus dimiliki oleh para petani dalam mengelola dan menghasilkan produk pertanian unggulan. Hal tersebut penting untuk menjawab tantangan zaman yang semakin modern dan kebutuhan pasar yang kian meningkat.

Salah satu petani kreatif yang mendapatkan bantuan dari BRI adalah Founder Kelompok Tani Regge Regeneration Dede Koeswara. Dede mengatakan bahwa terdapat perbedaan antara petani zaman dulu dengan zaman sekarang.

Menurutnya, petani zaman sekarang harus mampu memanfaatkan perkembangan zaman dan teknologi baru, seperti mesin multifaktor untuk mempercepat pembajakan tanah.

Dengan memanfaatkan teknologi dan metode pertanian terkini, Dede mengaku mampu memanen labu acar hingga 20 ton. Sebelum memanfaatkan teknologi, ia hanya bisa memanen labu acar sebanyak 5 ton.

Founder Kelompok Tani Regge Regeneration Dede Koeswara. DOK. BRI Founder Kelompok Tani Regge Regeneration Dede Koeswara.

“Dengan menggunakan teknologi, hasil panen mampu naik secara drastis,” ujar Dede.

Dede menceritakan bahwa proses alur distribusi hasil pertanian menuju pasar menggunakan pola mata rantai. Distribusi mulai dari petani, lalu masuk ke penampung, kemudian sampai ke pasar. Ia mengaku memiliki strategi saat harga komoditas pertanian sedang anjlok atau naik.

Bila harga naik, kata Dede, pihaknya akan menerapkan sistem simpan kas. Tabungan ini bisa digunakan untuk menutup selisih harga bila kelak harga komoditas pertanian anjlok. Dede biasa memungut harga labu acar Rp 100 per kilogram sehingga petani tidak terasa terbebani.

“Saya memiliki prinsip untuk saling menguntungkan, baik itu untuk penampung maupun petani,” kata Dede.

Proses pengembangan usaha Dede hingga bisa berkembang seperti sekarang juga tak lepas dari jasa Mantri BRI. Hendri menjelaskan bahwa, Mantri BRI memiliki peran untuk mengembangkan desa, baik dengan melihat potensi di kawasan tersebut maupun sumber daya manusia (SDM).

Setelah menemukan potensi, Mantri BRI akan membentuk klaster beserta pihak yang memiliki potensi untuk mengembangkan usaha di kawasan itu.

“Selanjutnya, Mantri BRI akan mengomunikasikan potensi desa beserta pihak yang ingin mengembangkan usahanya kepada BRI. Bila pengajuan disetujui, BRI akan memberikan bantuan berupa permodalan dan pengembangan usaha,” kata Hendri.

Sementara itu, Supari mengatakan bahwa apa yang dilakukan Nita dengan Swarga Flower Tea and Co dan Dede dengan peningkatan hasil pertaniannya merupakan hasil dari inovasi dan kreativitas. Keduanya merupakan kunci kesuksesan sebuah bisnis.

Ia melanjutkan, kreativitas menjadi penting karena memberikan nilai pada setiap produk sekaligus unsur pembeda dengan pelaku usaha lainnya.

“Kreativitas dan inovasi yang dilakukan oleh keduanya harus ditularkan kepada setiap pelaku usaha,” ujar Supari.

Sebagai informasi, tayangan serial Petualangan Brilian The Series akan terus menghadirkan sosok inspiratif dari UMKM lokal. Anda dapat menyaksikan program ini setiap Sabtu pada pukul 18.00 WIB di Kompas TV dan kanal Youtube Bank BRI.

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau