Advertorial

Pupuk Indonesia Tingkatkan Produktivitas Petani Bangka Belitung Melalui Program Makmur

Kompas.com - 20/09/2021, 16:28 WIB

KOMPAS.com – PT Pupuk Indonesia (Persero) kembali mendorong peningkatan produktivitas dan penghasilan petani nasional melalui program Makmur.

Program tersebut diluncurkan oleh Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Erick Thohir di Kepulauan Bangka Belitung pada Agustus 2021.

Staf Khusus III Menteri BUMN Arya Sinulingga mengatakan, program Makmur akan memberikan banyak manfaat bagi masyarakat, khususnya petani.

“Masyarakat bisa sangat terbantu dengan program Makmur yang ada di Belitung ini,” kata Arya dalam keterangan pers yang diterima Kompas.com, Senin (20/9/2021).

Arya menilai, program Makmur merupakan satu ekosistem yang bertujuan membantu petani nasional. Pasalnya, program yang diinisiasi Pupuk Indonesia ini mampu meningkatkan produktivitas dan penghasilan petani.

Berdasarkan data yang diterima oleh Pupuk Indonesia, program Makmur berhasil meningkatkan produktivitas petani padi sebesar 34 persen dan jagung 42 persen.

“Program tersebut sangat bagus. Program Kredit Usaha Rakyat (KUR) yang diinisiasi terkoneksi dengan ekosistemnya, jadi baik,” tambah Arya.

Untuk diketahui, program Makmur yang berada di Kepulauan Bangka Belitung akan direalisasikan di atas lahan seluas 89 hektare (ha) yang tersebar di 4 desa.

Adapun 4 desa yang akan mengimplementasikan program Makmur di antaranya adalah Desa Burong Mandi seluas 13 ha, Desa Buding seluas 26 ha, Desa Bentaian Jaya seluas 10 ha, dan Desa Kelubi seluas 40 ha.

Melalui program Makmur, lahan seluas 89 ha itu akan ditanami 890.000 batang singkong dengan jarak tanam 1x1 meter. Panen perdana program Makmur di Kabupaten Belitung Timur ditargetkan akan dilaksanakan pada Juni, Juli, dan Agustus 2022.

Selain itu, program Makmur akan melibatkan 45 petani yang tergabung dalam kelompok Tani Astrada, Aik Tukal, Bunud Jaya, dan Jaya Bambu.

Arya menjelaskan, program Makmur di Kepulauan Bangka Belitung dilaksanakan di atas lahan bekas tambang. Dengan begitu, diharapkan program ini mampu mengalihkan para penambang ilegal menjadi petani.

Pada kesempatan yang sama, salah satu petani, Sahani, mengapresiasi program Makmur. Menurutnya, program ini memberikan kepastian bagi petani, khususnya dari sisi permodalan.

“Karena dana desa itu terbatas dan banyaknya itu ke infrastruktur. Keterlibatan kementerian dapat memberikan ruang yang lebih jelas kepada kami. Di sini (program ini) ada dari Bank Sumatera Selatan (Sumsel) dan PT Timah untuk bekerja sama dengan kami sehingga kami termotivasi mengajak masyarakat untuk membuka lahan ke depan dalam program pangan,” kata Sahani.

Ia juga berharap, program Makmur mampu meningkatkan kesejahteraan para petani di Kepulauan Bangka Belitung sehingga mampu keluar dari tekanan pandemi Covid-19.

“Saya berharap, ke depan, program ini dapat menyejahterakan masyarakat sehingga lebih makmur dibanding saat ini. Karena kondisi masyarakat terkena imbas Covid-19, kegiatan masyarakat untuk beraktivitas pun menjadi terbatas,” ujar Sahani.

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp 5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau