Advertorial

Calon Jemaah Umrah Perlu Vaksinasi Influenza? Ketahui bahaya dan risiko Flu

Kompas.com - 21/09/2021, 13:28 WIB
Ilustrasi calon jemaah umrah Dok. ShutterstockIlustrasi calon jemaah umrah

JAKARTA, KOMPAS.com - Pemerintah Arab Saudi kembali membuka pelaksanaan Umrah untuk masyarakat Internasional mulai Senin (9/8/2021). Meski izin perjalanan untuk jemaah asal Indonesia masih ditangguhkan, hal ini tetap menjadi angin segar bagi masyarakat yang rindu untuk melaksanakan ibadah umrah.

Sambil menunggu pintu pelaksanaan umrah bagi Indonesia kembali dibuka, calon jemaah bisa melakukan persiapan dan perencanaan. Tak ada salahnya juga mencari tahu persyaratan apa saja yang dibutuhkan, utamanya karena pandemi Covid-19 belum selesai.

Diberitakan Kompas.com, Minggu (1/8/2021), selama pandemi Covid-19, Pemerintah Arab Saudi mewajibkan calon jemaah umrah memenuhi sejumlah persyaratan, termasuk wajib karantina selama 14 hari.

Calon jemaah yang ingin berangkat juga diwajibkan dalam kondisi yang sehat. Tak hanya di Arab Saudi, hal ini kerap jadi syarat utama bagi masyarakat yang ingin bepergian ke luar negeri.

Lalu, mengingat perjalanan umrah juga memakan waktu 9-13 hari, masyarakat yang sudah punya rencana sebaiknya sudah mempersiapkan kesehatan sejak sekarang. Khusus soal ini, Ahli penyakit dalam dan Paru RSUP Dr.Wahidin Sudirohusodo, yang juga sebagai Ketua Pengurus Pusat Perhimpunan Kedokteran Haji Indonesia (PERDOKHI) Dr.dr.Muhammad Ilyas, Sp.PD-KP, Sp.P (K) memaparkan beberapa hal.

Ia sepakat bahwa di era pandemic ini, calon jemaah umrah perlu melakukan persiapan yang lebih ekstra ketat, terutama dari segi kesehatan.

Dokter Ilyas menegaskan, persiapan kesehatan tak boleh diabaikan untuk meminimalisasi risiko gangguan kesehatan selama menjalankan ibadah umrah di Tanah Suci selama pandemi. terutama bagi kelompok yang rentan.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

"Imbauan menjaga kesehatan berlaku bagi semua calon jemaah umrah, perlu perhatian khusus diberikan bagi Jemaah yang memiliki penyakit bawaan sejak dari tanah air atau komorbid, seperti diabetes, hipertensi, asma-PPOK, dan penyakit jantung, serta orang yang berusia di atas 65 tahun," ujar dr Ilyas saat dihubungi Kompas.com, Selasa (7/9/2021).

Lebih lanjut, dr Ilyas meminta calon jemaah umrah melakukan pemeriksaan kesehatan bertahap sebelum pergi ke Tanah Suci, demikian pula untuk calon jamaah haji

Adapun pemeriksaan kesehatan yang dimaksud mulai dari pemeriksaan fisik seperti Tekanan darah, fungsi pernapasan dan tanda-tanda vital lainnya, pemeriksaan darah rutin, dan kimia darah, serta pemeriksaan penunjang lain yang diperlukan sesuai kondisi masing-masing calon Jamaah Umrah. 

Dengan demikian, yang bersangkutan akan mengetahui apakah memiliki masalah kesehatan atau tidak.

Hal lain yang juga perlu dilakukan adalah skrining untuk mendeteksi perburukan penyakit kronik yang sudah ada sebelumnya. medical check-up sebagai bagian dari tindak lanjut pemeriksaan kesehatan rutin perlu dilakukan.

"Pemeriksaan kesehatan tersebut untuk memastikan kondisi penyakit kronik yang dimiliki dalam keadaan terkontrol," kata dr Ilyas.

Faktor risiko kesehatan saat bepergian ke Arab Saudi

Pada kesempatan tersebut, dr.Ilyas juga menjelaskan faktor risiko yang berpotensi mengganggu kesehatan calon jemaah umrah. Bagi yang memiliki penyakit penyerta atau kelompok usia lanjut, hal ini merupakan risiko internal.

Dokter Ilyas menjelaskan, kelompok usia lebih dari 65 tahun memiliki daya tahan tubuh yang tidak optimal sehingga rentan terpapar penyakit infeksi misalnya influenza, pneumonia yang dapat memperburuk penyakit komorbid yang ada sebelumnya

Sementara, bagi calon jemaah di luar dua kategori tadi, risiko kesehatan bisa saja datang dari luar (faktor lingkungan) ketika sudah berada di Arab Saudi. Misalnya, suhu yang ekstrim, polusi udara, aktivitas fisik yang berlebihan, risiko tertular penyakit infeksi dari jemaah umrah negara lain, serta dehidrasi.

"Jemaah umrah disarankan mengonsumsi air dalam jumlah yang lebih banyak. Pasalnya, kekurangan cairan bisa jadi pemicu/ faktor risiko lebih mudah terinfeksi virus ataupun bakteri karena saluran napas menjadi kering. Alhasil, produksi lendir di permukaan saluran napas berkurang,” paparnya.

Seperti diketahui, lendir yang fisiologis pada saluran napas berfungsi sebagai salah satu mekanisme pertahanan tubuh khususnya saluran napas untuk mencegah masuknya mikro organisme kedalam tubuh. Karenanya, tubuh harus dipastikan terhidrasi selama menjalankan ibadah umrah.

Selain itu, hal penting yang perlu diperhatikan adalah melakukan vaksinasi.

“Di masa pandemi, selain vaksinasi meningitis vaksinasi Corona virus-2 merupakan syarat mutlak yang harus dipenuhi oleh masyarakat yang hendak melakukan perjalanan ke luar negeri, termasuk umrah,” jelasnya.

Ilustrasi vaksinasi flu kepada calon jemaah umrah Dok. Shutterstock Ilustrasi vaksinasi flu kepada calon jemaah umrah

Disarankan vaksin influenza

Selain wajib vaksinasi untuk mencegah Covid-19, dr Ilyas menyarankan calon jemaah umrah untuk mendapatkan vaksin influenza sebagai proteksi ekstra. Vaksin ini dilakukan untuk meminimalisasi kemungkinan terinfeksi virus influenza saat pelaksanaan umrah.

Perlu diketahui, vaksin influenza adalah salah satu vaksin yang direkomendasikan oleh Pemerintah Arab Saudi. Ini mengingat infeksi pernapasan merupakan penyakit yang umum diderita oleh jemaah haji ataupun umrah.

Terlebih, flu yang disebabkan oleh virus influenza rawan menular pada tempat umum. Aktivitas yang padat serta perubahan cuaca yang ekstrim juga dapat memengaruhi sistem kekebalan tubuh saat beribadah umrah.

Dokter Ilyas memaparkan, vaksin influenza dapat diberikan pada calon jemaah umrah minimal dua minggu atau satu bulan sebelum keberangkatan. Periode tersebut merupakan waktu yang cukup bagi tubuh untuk merespons vaksin untuk menghasilkan antibodi.

Ia menambahkan, vaksin influenza yang baik untuk calon jemaah umrah adalah vaksin influenza kuadrivalen yang mengandung dua strain A dan dua strain B, yaitu yamagata dan victoria.

"Pasalnya, virus influenza strain tersebut sering menyebar di berbagai belahan dunia, baik di selatan maupun utara. (Adapun) vaksin influenza kuadrivalen tersebut sesuai dengan rekomendasi sejumlah lembaga, seperti Badan Kesehatan Dunia atau (WHO), Kementerian Kesehatan (Kemenkes) Arab Saudi, dan International Travel Health Regulation (ITHR)," jelas dr Ilyas.

Vaksin influenza merupakan salah satu vaksin pilihan yang tertuang dalam Peraturan Menteri Kesehatan (Permenkes) Nomor 12 Tahun 2017, pemberian vaksin influenza ini juga telah direkomendasikan oleh Satgas Imunisasi Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia (PAPDI) dan oleh Perhimpunan Kedokteran Haji Indonesia (PERDOKHI) juga menyarankan pemberian vaksin influenza ini terutama bagi individu yang berisiko tinggi yang akan melaksanakan Umrah ataupun Ibadah Haji

Ringan tapi berbahaya

Perlu diketahui, penyakit flu yang disebabkan oleh virus influenza umum dialami oleh sebagian besar masyarakat dunia, termasuk Indonesia.

Tergolong sebagai penyakit musiman, influenza kerap menyerang manusia pada masa pergantian musim atau pancaroba, yaitu peralihan antara musim kemarau dan penghujan.

Dokter Ilyas mengungkapkan, selama ini influenza sering dianggap sebagai penyakit ringan. Namun, penyakit ini ternyata juga bisa membahayakan.

"Bila influenza diderita oleh individu yang kondisi sistem imunnya baik serta tidak memiliki penyakit komorbid, influenza biasanya sembuh dengan sendirinya," papar dr Ilyas.

Meski demikian, dr Ilyas menjelaskan, flu dapat berakibat fatal bila dialami seseorang yang memiliki komorbid karena dapat memperburuk keadaan klinis dan mengganggu fungsi organ tubuh lainnya. Pada seseorang penderita diabetes, misalnya, influenza bisa berdampak buruk sehingga menimbulkan komplikasi organ karena penurunan imunitas.

Dokter Ilyas menjelaskan, virus influenza dibedakan 3 tipe, yaitu A, B, dan C. Virus influenza tipe A menginfeksi manusia serta dapat menimbulkan gejala dan risiko yang serius.

"Influenza tipe B menginfeksi manusia dengan gejala yang lebih ringan dari strain A. Sementara, influenza tipe C biasanya hanya menyebabkan infeksi ringan," jelas dr Ilyas.

Dokter Ilyas menambahkan, ada pula penyakit yang memiliki gejala mirip dengan influenza, yaitu selesma. Pada selesma, gejala yang lebih ringan seperti demam dengan suhu yang tidak tinggi.

Masa penyembuhan selesma pun relatif lebih singkat daripada influenza. Gangguan yang ditimbulkan hanya menginfeksi saluran napas atas serta jarang mengganggu saluran pernapasan bawah yang berisiko menimbulkan pneumonia.

"Selama ini, setiap gejala yang muncul, seperti pilek, batuk, dan hidung beringus disimpulkan sebagai influenza. Padahal, tidak selalu. Bisa saja yang dialami adalah selesma," terang dr Ilyas.

Dokter Ilyas menyebutkan, berdasarkan data WHO, dari 63 penelitian meta analisis pada rentang 2019-2020, 14,1 persen virus influenza menyebabkan infeksi pernapasan akut pada semua kelompok umur. Hal ini menyebabkan pasien harus mendapatkan perawatan intensif di rumah sakit (RS).

Sementara, berdasarkan kategori infeksi pernapasan bawah, terdapat 32.126.000 kasus yang menyebabkan pasien mengalami episode infeksi saluran pernapasan.

Dari jumlah tersebut, terdapat 5.678.000 kasus pada pasien yang dirawat di RS akibat influenza yang berkembang menjadi pneumonia. Adapun dari sisi umur, terdapat 437 kasus per 100.000 populasi pada kelompok usia kurang dari 65 tahun.

Sementara, pada kelompok usia lebih dari 65 tahun, jumlah kasus meningkat menjadi 612 kasus per 100.000 populasi.

"Jadi, perbedaan antara kelompok usia muda dan tua cukup signifikan. Selain faktor usia, pada orang tua juga sering ditemukan penyakit penyerta. Hal inilah yang menimbulkan risiko yang lebih serius," papar dr Ilyas.

Untuk itu, dr Ilyas mengimbau seluruh masyarakat, baik yang akan berangkat umrah maupun yang tidak, agar tidak menyepelekan virus influenza ini. Karenanya, saran mengenai vaksin influenza juga diimbau bagi siapa saja yang ingin menjaga kesehatan.

Ia juga mengingatkan masyarakat untuk senantiasa menerapkan protokol kesehatan (prokes) dengan prinsip 5M, yaitu memakai masker, mencuci tangan dengan sabun di air mengalir, menjaga jarak, menjauhi kerumunan, dan mengurangi mobilitas.

“Waspada infeksi virus influenza dan tidak menganggap sepele penyakit ini. Karena selain berdampak buruk bagi kesehatan, juga berimbas pada sektor sosial dan ekonomi. Karena itu, upaya pencegahan sangat disarankan, yaitu dengan melakukan vaksinasi influenza di klinik, praktek dokter atau fasilitas Kesehatan terdekat,” kata dr Ilyas.

Untuk mewujudkan ibadah yang khusuk, mari berikhtiar salah satunya dengan melakukan vaksinasi.

#FluBeyondProtection #ProtectYourLovedOnes #4BetterProtection

Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.