Advertorial

Tupitu, Minyak Herbal Aroma Terapi untuk Jaga Kesehatan Keluarga

Kompas.com - 28/09/2021, 13:00 WIB

KOMPAS.com - Pengobatan tradisional menggunakan obat berbahan alami, seperti rempah-rempah, masih menjadi salah satu alternatif bagi masyarakat Indonesia untuk mengatasi penyakit dan menjaga kesehatan hingga saat ini.

Sebagian masyarakat percaya bahwa pengobatan dengan cara tersebut ampuh menghilangkan rasa sakit serta lebih aman dari efek samping daripada mengonsumsi obat-obatan kimia, terutama untuk penggunaan jangka panjang.

Salah satu cara pengobatan tradisional yang masih sering dilakukan masyarakat adalah penggunaan minyak herbal. Pengobatan dengan cara membalurkan minyak herbal pada bagian tubuh yang sakit telah terbukti memberi khasiat bagi kesehatan sejak lama.

Pembuatan Tupitu terinspirasi dari resep tradisional yang digunakan secara turun-temurun oleh raja-raja Jawa dalam pengobatan. Dok. tupitu.co.id Pembuatan Tupitu terinspirasi dari resep tradisional yang digunakan secara turun-temurun oleh raja-raja Jawa dalam pengobatan.

Minyak herbal mengandung banyak manfaat karena diracik dari ramuan alami tanpa efek samping. Minyak ini telah menjadi andalan bagi keluarga Indonesia lintas generasi. Salah satu minyak herbal yang berkhasiat dan baik untuk kesehatan keluarga saat ini adalah minyak herbal Tupitu.

Pembuatan Tupitu terinspirasi dari resep tradisional yang digunakan secara turun-temurun oleh raja-raja Jawa dalam pengobatan. Minyak herbal ini adalah hasil buatan Kanjeng Mas Tumenggung Tanoyo Hamidjinindyo atau juga dikenal dengan nama Hamzah Sulaiman, seorang abdi dalem Kraton Yogyakarta.

Sosok yang dikenal masyarakat dengan nama Raminten tersebut merupakan pendiri toko Mirota Batik yang kini dikenal dengan nama Hamzah Batik. Ia juga pendiri rumah makan “House of Raminten” di Yogyakarta.

Kanjeng Mas Tumenggung Tanoyo Hamidjinindyo atau juga dikenal dengan nama Hamzah Sulaiman.Dok. tupitu.co.id Kanjeng Mas Tumenggung Tanoyo Hamidjinindyo atau juga dikenal dengan nama Hamzah Sulaiman.

Pembuatan minyak herbal Tupitu bermula saat Hamzah memiliki masalah kesehatan saraf kejepit serta diabetes yang membuat badannya sering kesemutan dan mudah sakit. Ia pun hanya bisa berbaring di tempat tidur. Segala pengobatan medis telah ditempuh, tapi tidak membuahkan hasil maksimal dan membuatnya merasa putus asa.

Teringat cerita dari sang ibu tentang resep tradisional raja-raja Jawa dalam mengobati berbagai penyakit dengan bahan herbal, ia akhirnya mengajak rekan herbalisnya yang memiliki pengalaman tentang kandungan dan khasiat tumbuhan herbal untuk meracik sebuah obat herbal tradisional.

Minyak herbal racikan tersebut ia gunakan untuk pengobatannya setiap hari. Ternyata, pengobatan dengan minyak herbal membuahkan hasil maksimal.

"Minyak herbal Tupitu diracik dari bahan-bahan alami berkualitas premium dan harganya juga terjangkau,” kata Hamzah, sosok Raminten dalam acara sitkom Pengkolan yang tayang di TV lokal Yogyakarta, Kamis (16/9/2021).

Nama minyak herbal Jawa Tupitu, kata Hamzah, diambil dari kata “pitu” yang dalam bahasa Jawa berarti tujuh. Angka tujuh dalam budaya Jawa memiliki arti keberuntungan dan pertolongan atau “pitulungan”.

“Gambaran angka tujuh berbentuk aksara Jawa tersebut kemudian dijadikan sebagai logo Tupitu,” ujarnya seperti dalam keterangan tertulis yang diterima Kompas.com, Selasa (28/9/2021).

Ada empat varian aroma minyak herbal Tupitu yang bisa dipilih, yaitu Original, Eucalyptus, Lavender, dan Lemongrass. Keempat aroma ini memiliki harmoni alam yang khas dan berfungsi sebagai aromaterapi yang dapat merelaksasi tubuh untuk mendapatkan kebahagiaan jiwa.

Komposisi minyak herbal Tupitu terdiri atas cengkih, adas, jahe, bunga lawang, gandapura, minyak alpukat, vitamin E, dan berbagai rempah lainnya. Minyak herbal ini diramu secara khusus dan aman untuk tubuh.

Khasiat minyak herbal Tupitu, antara lain, dapat membantu menyembuhkan cedera, membuat luka menjadi cepat kering, membuat tidur lebih nyenyak, dan bisa menggantikan body lotion. Selain itu, minyak herbal ini aman digunakan untuk bayi, ibu hamil dan menyusui, serta lansia.

Minyak herbal Tupitu dapat membantu menyembuhkan cedera, membuat luka menjadi cepat kering, membuat tidur lebih nyenyak, dan bisa menggantikan body lotion.Dok. tupitu.co.id Minyak herbal Tupitu dapat membantu menyembuhkan cedera, membuat luka menjadi cepat kering, membuat tidur lebih nyenyak, dan bisa menggantikan body lotion.

Sementara, khasiat lainnya, bisa meredakan masuk angin, rematik, perut kembung, gatal-gatal karena gigitan serangga serta sebagai minyak urut untuk membantu meredakan pegal linu, keseleo, salah urat, nyeri sendi, dan nyeri otot.

"Kehadiran minyak Tupitu diharapkan mampu menjadi pertolongan bagi Anda dan keluarga karena memiliki banyak manfaat untuk kesehatan," ujar Hamzah.

Hamzah juga menyebutkan bahwa minyak herbal Tupitu sudah memiliki sertifikat halal dan lulus uji Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM). Untuk mendapatkannya, penjualan minyak herbal Tupitu tersedia di outlet-outlet reseller di sejumlah wilayah di Indonesia.

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau