Advertorial

Tips Beretika di Media Sosial, Posting yang Penting, Bukan yang Penting Posting!

Kompas.com - 29/09/2021, 21:13 WIB

KOMPAS.com – Dalam mengarungi era digital, masyarakat Indonesia tidak cukup hanya memiliki kemampuan mengoperasikan berbagai perangkat teknologi informasi dan komunikasi (TIK).

Lebih dari itu, masyarakat juga harus bisa mengoptimalkan media digital secara bertanggung jawab agar bisa memberikan manfaat bagi banyak orang.

Kemampuan literasi digital masyarakat pun harus ditingkatkan agar terhindar dari hoaks atau berita bohong yang tersebar luas. Salah satu caranya dengan meningkatkan kompetensi kritis agar dapat menyaring informasi yang diperoleh.

Merespons hal tersebut, Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo) bekerja sama dengan Jaringan Pegiat Literasi Digital (Japelidi) dan Siberkreasi Gerakan Nasional Literasi Digital memberikan literasi digital dengan menggelar webinar bertajuk “Bersama Lawan Kabar Bohong (Hoaks)”, Rabu (22/9/2021).

Pada webinar tersebut, hadir beberapa narasumber yang meliputi dosen Universitas Diponegoro Amni Zarkasyi Rahman, dosen Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta Achmad Uzair, Project Manager PT Westmoore Tech Indonesia Panji Gentura, digital designer dan fotografer Djaka Dwiandi Purwaningtijasa, serta musisi band J-Rocks Sony Ismail.

Dalam pemaparannya, Panji mengatakan bahwa hoaks merupakan jejak digital yang dapat merusak semua lapisan masyarakat. Kalau berbicara etika, masyarakat yang sopan dan lemah lembut sekali pun akan tetap berpotensi menyebarkan hoaks dengan mudah.

“Bentuk jejak digital banyak sekali jenisnya. Bahkan, jika fitur location (pada gadget) kita aktif tanpa berbuat apa pun, ini sudah dikategorikan sebagai jejak digital,” jelas Panji dalam keterangan resmi yang diterima Kompas.com, Senin (27/9/2021).

Sony selaku narasumber key opinion leader (KOL) juga memiliki pandangan yang sama terhadap hoaks. Ia mengatakan bahwa melawan kabar hoaks menjadi pekerjaan rumah (PR) bersama.

“Masing-masing dari kita harus aktif mencegahnya. Hal ini dapat dimulai dari lingkungan sekitar dulu, seperti keluarga, karena tidak jarang, anggota keluarga menjadi penyebar berita hoaks,” jelas Sony.

Selain itu, Sony juga menyarankan masyarakat untuk meningkatkan kemampuan diri dengan skilldigital. Dengan begitu, potensi dalam diri bisa dimaksimalkan.

“Posting yang penting dan jangan yang penting posting. Lakukan double check, cari sumber berita yang tepercaya, dan follow akun-akun kredibel. Jadilah generasi yang kritis dan stop menyebarkan hoaks,” kata Sony.

Pada webinar tersebut, partisipan yang hadir juga dipersilakan untuk bertanya dan memberikan tanggapan. Salah satu peserta bernama Rizky Akbar tak menyia-nyiakan kesempatan ini.

“Faktor apa saja yang membuat seseorang bersikap tidak sopan di internet? Bagaimana cara mengembalikan citra netizen Indonesia yang sudah tidak baik di mata dunia?” tanya Rizky.

Panji menjawabnya dengan lugas. Menurutnya, dari segi psikologi, seseorang yang berada di suatu ruangan dan ditemani dengan gadget bagaikan diberikan kekuasaan tanpa batas.

“Efek teknologi tersebut dapat memicu seseorang beretika tanpa mengindahkan peraturan. Hal yang kedua terkait faktor literasi digital. Padahal, kita sudah tidak bisa sembarangan lagi untuk punya jejak digital yang aneh-aneh. Makanya, butuh pemahaman dan penerapan literasi digital yang baik di Indonesia,” ujar Panji.

Sebagai informasi, webinar tersebut merupakan salah satu rangkaian kegiatan literasi digital yang diselenggarakan oleh @siberkreasi.dkibanten dan @siberkreasi. Bila ingin mengikuti webinar selanjutnya, silakan pantau akun Instagram tersebut.

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau