Advertorial

Dukung Pengembangan Wastra di Desa Meat Toba, Dekranas Dorong Pembentukan Kelembagaan UMKM

Kompas.com - 06/10/2021, 18:28 WIB

KOMPAS.com - Ketua Bidang Manajemen Usaha Dewan Kerajinan Nasional (Dekranas) Suzana Teten Masduki meninjau secara langsung pelatihan perajin di Desa Meat, Kabupaten Toba, Sumatera Utara (Sumut), Selasa (5/10/2021).

Suzana mengatakan, Desa Meat mempunyai potensi wisata karena beragam keunggulan, mulai dari narasi budaya, daerah obyek wisata, hingga kain tradisional (wastra).

Ia menilai, potensi Desa Meat bahkan dapat menjadi salah satu motor penggerak kawasan Toba sebagai salah satu Destinasi Super Prioritas (DSP) yang dicanangkan pemerintah. 

Meski demikian, terdapat sejumlah kendala dalam pengembangan produk wastra khas Toba. Salah satunya, kesediaan bahan baku benang.

“Perajin masih impor (benang). Permasalahan wastra dan industri garmen di Tanah Air masih berkutat soal ketersediaan benang. Ini karena industri bahan baku benang belum kita miliki,” ujar Suzana dalam keterangan resmi yang diterima Kompas.com, Rabu (6/10/2021).

Suzana menambahkan, pengembangan usaha kecil mikro dan menengah (UMKM) di Desa Meat pada dasarnya sangat baik. Meski demikian, perlu upaya bersama untuk menata ulang UMKM Toba dengan membentuk kelembagaan formal.

Oleh karena itu, Suzana mengusulkan kepada para pelaku UMKM di Kabupaten Toba untuk membentuk koperasi yang berfungsi sebagai agregator.

Dengan demikian, pelaku UMKM tidak lagi khawatir bila barang hasil produksi belum terjual sepenuhnya.

“Sebetulnya, sudah banyak akses pasar. Saat pelaku usaha menggunakan smartphone, ini berarti (mereka) sudah memegang dunia (segmen pasar). Sekarang, bagaimana mengoptimalkan teknologi tersebut untuk mendongkrak pemasaran produk lokal,” jelasnya.

Kunci pemulihan ekonomi

Pada kesempatan yang sama, Ketua Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Sumut Nawal Lubis Edy Rahmayadi mengatakan, UMKM merupakan kunci pemulihan ekonomi di tengah pandemi Covid-19.

Baginya, peran dan kontribusi UMKM akan membawa momentum pemulihan ekonomi.

Oleh karena itu, menurut Nawal, dibutuhkan perhatian ekstra agar pelaku UMKM semakin tumbuh pesat di Tanah Air.

“Sumut kaya akan sumber daya alam (SDA). Dengan jumlah penduduk yang besar, tentu menjadi peluang ekonomi yang besar pula, khususnya bagi pelaku UMKM,” terang Nawal.

Selain itu, Nawal juga menekankan perlunya program pendidikan, pelatihan, pendampingan, permodalan dan fasilitas usaha, serta peningkatan akses pasar bagi pelaku UMKM.

“Berbagai kemudahan bagi koperasi dan UMKM akan terus dilakukan dan diupayakan oleh pemerintah,” katanya.

Tak hanya itu, dalam rangka pemberdayaan UMKM, penciptaan lapangan kerja, dan peningkatan perekonomian masyarakat, pemerintah berupaya mendorong peningkatan akses pada sumber pembiayaan.

Hal itu diwujudkan pemerintah dengan memberikan pinjaman kredit bagi UMKM dan pelaku usaha lainnya melalui Kredit Usaha Rakyat (KUR), serta pemberian bantuan dana bergulir melalui Lembaga Pengelola Dana Bergulir Koperasi, Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (LPDB-KUMKM).

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau