Advertorial

Menkop dan UKM Dorong Perekonomian Jabar Melalui Eksplorasi SDA dan Kebudayaan

Kompas.com - 10/10/2021, 18:45 WIB


KOMPAS.com - Menteri Koperasi dan Usaha Kecil Menengah (Menkop UKM) Teten Masduki dan Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Erick Thohir menantang pemerintah dan seniman Jawa Barat (Jabar) untuk membuat roadmap atau peta jalan guna mendorong perekonomian.

Salah satu caranya dengan melakukan eksplorasi sumber daya alam dan kebudayaan yang ada di wilayah Jabar.

"Ayo kita buktikan dan bergotong royong membuat strategi kebudayaan untuk meningkatkan ekonomi. Jabar ini sangat kaya. Punya banyak hal yang bisa dieksplorasi," ujar Teten dalam keterangan pers yang diterima Kompas.com, Minggu (10/10/2021).

Hal tersebut disampaikan Teten ketika menghadiri acara bincang-bincang dengan wisatawan dan seniman di Bandung, Jabar, Sabtu (9/10/2021)

Menurutnya, daerah-daerah di Jabar dapat mencontoh yang dilakukan Banyuwangi, Jawa Timur. Saat ini, Banyuwangi banyak dikunjungi oleh para wisatawan, baik lokal maupun internasional. Padahal, sebelumnya Banyuwangi menjadi salah satu daerah paling miskin.

“Bupati Banyuwangi (periode 2010-2021) Abdullah Azwar Anas memutar otak. Dia mengeksplorasi tempat wisata, yakni Gunung Ijen. Di lokasi tersebut, terdapat kawah biru yang hanya ada dua di dunia, yakni di Banyuwangi dan Kanada. Turis pun berdatangan dan membuat Banyuwangi berkembang," kata Teten.

Ia pun mengatakan bahwa Bupati Banyuwangi juga memihak kepada rakyat kecil. Hal ini dibuktikan dengan larangan pembangunan hotel yang berasal dari investasi asing dan juga pengembangan usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) Banyuwangi, khususnya di tempat wisata.

Tidak hanya itu, lanjut Teten, di Banyuwangi, acara festival budaya digelar oleh seniman dan budayawan tiap dua hari sekali untuk menjaga arus wisatawan.

Menurutnya, hal tersebut perlu dicontoh oleh Jabar yang memiliki tempat wisata dan kebudayaan yang berlimpah di setiap kabupaten atau kota.

Pada kesempatan yang sama, Erick Thohir menuturkan bahwa Jabar memiliki sumber daya alam (SDA) dan kebudayaan yang luar biasa. Namun, belum memiliki strategi untuk menjadikan Jabar unggul dengan potensi yang ada.

"Jabar ini penduduknya besar, sumber daya alam banyak, dan kebudayaan yang sangat luar biasa. Namun, Jabar tidak punya lokomotif. Jadi, coba silakan sama-sama bikin roadmap kekuatan bisnis dan budayanya apa yang bisa kita sama-sama realisasikan," ujar Erick.

Hal tersebut juga diakui oleh perwakilan seniman, Tisna Sanjaya. Ia menuturkan bahwa Jabar memang belum memiliki strategi budaya untuk memajukan ekonomi serta kesejahteraan budayawan dan senimannya.

Tisna mengakui bahwa Bandung memiliki banyak komunitas seni tanpa strategi budaya. Kondisi ini membuatsimpun-simpun seni berjalan sendiri-sendiri.

“Kalau mau ada perubahan, harus ada cara baru. Jadi, bukan hanya untuk seni. Seni harus punya jaringan dalam berbagai lini. Sebetulnya Jabar itu bukan kalah, tetapi kurang eksplorasi," kata Tisna.

Sementara itu, pengusaha nasional Arifin Panigoro menekankan bahwa acara tersebut dilakukan untuk membahas mengenai keresahan yang dialami oleh seniman dan budayawan Jabar di era pandemi dan globalisasi.

Menurutnya, pernyataan dari Menkop dan UKM serta Menteri BUMN menjadi cambuk bagi Jabar untuk mengeksplorasi kekayaan budaya dan sumber daya alam demi memajukan Jabar.

"Saya kira, kami bisa membuat strategi untuk Jabar berkembang lebih jauh lagi," ujar Arifin.

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau