Advertorial

Jaga Tekanan Darah Jadi Kunci Penderita Hipertensi Terhindar Ancaman Gangguan Fungsi Ginjal

Kompas.com - 11/10/2021, 18:14 WIB
Ilustrasi mengukur tekanan darah. Dok. ShutterstockIlustrasi mengukur tekanan darah.

KOMPAS.com – Tekanan darah tinggi atau hipertensi memiliki hubungan yang erat dengan ginjal. Tekanan darah yang tidak terkontrol dalam jangka waktu lama menyebabkan komplikasi gangguan fungsi ginjal. Sebaliknya, penyakit ginjal kronik dapat menyebabkan peningkatan tekanan darah.

Mekanismenya adalah tekanan darah yang tinggi atau tidak terkontrol membuat kerusakan pada pembuluh darah ginjal. Dengan demikian, aliran darah yang membawa nutrisi dan oksigen ke ginjal terganggu.

Akibatnya, fungsi ginjal sebagai organ yang membersihkan sampah darah dan mengatur keseimbangan cairan tubuh terganggu.

Dokter spesialis penyakit dalam di Mayapada Hospital Tangerang, dr Ratna Juliawati Soewardi, SpPD-KGH menjelaskan bahwa gangguan fungsi ginjal yang disebabkan hipertensi merupakan penyakit ginjal kronis yang tidak dapat disembuhkan.

Ia pun mengumpamakan penyakit hipertensi dan ginjal seperti keberadaan ayam dan telur. Sebab, terkadang sulit diketahui penyakit mana yang terlebih dahulu diderita pasien.

“Ada pasien yang dari muda telah memiliki gangguan ginjal tanpa disadari kondisi kreatinin-nya naik disertai dengan peningkatan tekanan darah sehingga menjadi hipertensi,” ujar dr Ratna saat dihubungi Kompas.com, Kamis (16/9/2021).

Pada gangguan fungsi ginjal ringan sampai sedang tidak memiliki gejala khusus. Dokter Ratna mengatakan banyak pasien yang datang tanpa menyadari bahwa ia memiliki gangguan fungsi ginjal.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

“Pada umumnya, penyakit ginjal yang disebabkan hipertensi atau penyakit lain memiliki gejala yang sama. Pada stadium ringan sampai sedang, gangguan ginjal tidak memiliki gejala spesifik,” kata dr Ratna.

Lebih lanjut, dr Ratna mengatakan bahwa biasanya pasien akan merasakan gejala jika gangguan fungsi ginjal sudah memasuki stadium akhir. Adapun beberapa gejala yang dirasakan, seperti air seni berbusa, kaki kerap bengkak, cepat lelah, tidak nafsu makan, mual, muntah, dan sering sesak napas.

“Jika muncul gejala dan pasien baru memeriksakan diri ke dokter, biasanya sudah terlambat,” ujar dr Ratna.

Ia pun menjelaskan bahwa ketika sudah mengalami gangguan fungsi ginjal berat tidak dapat sembuh seperti sedia kala. Jika gangguan ginjal ditemukan pada stadium awal masih mungkin diobati menjadi lebih baik.

“Namun, kalau sudah stadium akhir, dokter hanya mengobati untuk mempertahankan fungsi ginjal yang ada agar tidak bertambah buruk,” kata dr Ratna.

Jika tidak dapat diobati lagi, terpaksa pasien harus melakukan terapi penggantian ginjal, seperti cuci darah. Tak berhenti di situ, gangguan fungsi ginjal juga dapat memicu munculnya penyakit lain, seperti penyakit jantung dan pembuluh darah.

Cara mencegah hipertensi menjadi gangguan fungsi ginjal

Bagi penderita hipertensi, sangat penting untuk menjaga tekanan darah pada target optimal agar tidak terjadi komplikasi gangguan fungsi ginjal. Pastikan selalu memeriksa tekanan darah di rumah secara teratur.

“Penting untuk mengajari pasien agar dapat mengukur tekanan darahnya sendiri. Dengan demikian, pasien hipertensi dapat memonitor tekanan darahnya secara mandiri,” ujar dr Ratna.

Selain itu, dr Ratna juga menganjurkan pola hidup sehat bagi penderita hipertensi. Mulai dari olahraga teratur, istirahat yang cukup, tidak merokok, dan menghindari minuman beralkohol, lemak tinggi, menjaga berat badan ideal, dan mengurangi asupan garam.

Pasien hipertensi juga disarankan dapat mengelola stres dengan baik. Pasalnya, kondisi psikologi dan emosi pasien dapat berpengaruh pada tekanan darah.

Tak kalah penting juga, penderita hipertensi tidak boleh sembarangan mengonsumsi ramuan herbal atau jamu yang belum terbukti khasiatnya. Dokter Ratna pun menyarankan pasien hipertensi tidak mengikuti anjuran orang untuk meminum obat yang tidak disarankan langsung oleh dokter.

dr Ratna Juliawati Soewardi, SpPD-KGH, dokter spesialis penyakit dalam di Mayapada Hospital Tangerang. Dok. Kompas.com dr Ratna Juliawati Soewardi, SpPD-KGH, dokter spesialis penyakit dalam di Mayapada Hospital Tangerang.

Meski demikian, penderita hipertensi yang sudah mengalami gangguan fungsi ginjal tak perlu khawatir. Sebab, pengobatan yang benar akan membantu kerja ginjal agar tetap optimal.

“Pasien dengan gangguan fungsi ginjal, perlu memperhatikan asupan protein. Protein merupakan bagian dari makanan yang berat untuk dibersihkan oleh ginjal. Jadi, asupan protein dikurangi,” terang dr Ratna.

Selain protein, asupan garam juga harus dibatasi. Sebab, garam dapat memicu kenaikan tekanan darah.

“Batasan konsumsi makanan dan minuman yang tertentu harus disesuaikan dengan kondisi pasien, mulai dari berat badan hingga stadium gangguan fungsi ginjal yang diderita,” ujar dr Ratna.

Selain itu, dr Ratna juga mengingatkan untuk rutin melakukan medical check-up setidaknya satu kali dalam setahun, terutama bagi penderita hipertensi.

Dokter Ratna menceritakan, banyak pasien baru mengetahui adanya gangguan fungsi ginjal pada tubuhnya setelah melihat hasil medical check-up.

“Waktu diperiksa, hasilnya kreatinin mulai naik. Dari situ, dapat dihitung berapa berat gangguan fungsi ginjalnya,” ujarnya.

Selain itu, gangguan fungsi ginjal juga bisa dilihat dari hasil pemeriksaan urin. Dari hasil tes tersebut, lanjut dr Ratna, bisa ditemukan busa atau buih yang mengindikasikan adanya kebocoran protein pada ginjal.

Jika ditemukan gangguan ginjal pada hasil screening, dr Ratna menyarankan pasien segera berkonsultasi ke dokter untuk mendapatkan penanganan yang tepat.

“Jika ditemukan masih stadium awal, pada umumnya fungsi ginjal masih bisa diperbaiki dengan terapi obat dan cara hidup yang tepat,” ujarnya.

Penderita hipertensi dapat melakukan screening ginjal di Mayapada Hospital Tangerang. Rumah sakit ini memiliki paket pemeriksaan kesehatan ginjal yang lengkap, mulai dari medical check-up, pemeriksaan USG Whole Abdomen, hingga pemeriksaan laboratorium yang terdiri dari tes urin lengkap, ureum, kreatinin, dan urine ACR .

Tersedia juga unit Hemodialisa di Mayapada Hospital Tangerang untuk pasien yang memerlukan terapi pengganti ginjal. Dengan memeriksakan kesehatan ginjal secara rutin, penderita hipertensi dapat mencegah terjadinya gangguan fungsi ginjal sedini mungkin.

Tak hanya itu, Mayapada Hospital membuka layanan telekonsul terkait penyakit apa pun. Bagi yang ingin menggunakan layanan tersebut, silakan menghubungi 150770.

Sebagai informasi, pada kuartal III 2021, Mayapada Hospital akan membuka cabang di Jalan Mayjen Sungkono nomor 20, Surabaya Barat, Jawa Timur.

Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.